FGD SDM Aceh, Menteri Sofyan A Djalil Sebut Pesimis dan Optimis di Era Teknologi
FGD ini bertema "Peluang dan Tantangan SDM Aceh dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045"
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mursal Ismail
FGD ini bertema "Peluang dan Tantangan SDM Aceh dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045"
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS COM, JAKARTA - Mahasiswa Aceh Wisma FOBA Jakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) secara daring dan luring, Kamis (31/3/2021).
FGD ini bertema "Peluang dan Tantangan SDM Aceh dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045"
Ketua Panitia Pelaksana FGD, Egi Ferdian, menyampaikan FGD ini untuk melahirkan gagasan penting bagi generasi muda Aceh memulai langkah perubahan besar pada masa mendatang.
Ketua Umum Mahasiswa Aceh, Wisma FOBA, Maimun Ramli, mengatakan FGD ini digagas untuk mempersiapkan generasi muda Aceh agar mampu berpartisipasi aktif dalam membantu Indonesia menuju Indonesia emas pada tahun 2045 mendatang.
"Bila kita bentuk Road Map Indonesia Emas 2045, maka FGD ini merupakan salah satu bagian penting yang harus ada di dalamnya.
FGD ini diarahkan untuk melahirkan solusi kongkrit dalam upaya membekali masyarakat Aceh, terutama mahasiswa Aceh dalam menyambut masa depan Aceh dan Indonesia," kata Maimun.
Menteri ATR RI, Dr Sofyan Djalil, yang menjadi pembicara kunci menyampaikan bahwa saat ini ada dua pandangan tehadap teknologi.
Pertama: pandangan pesimis, dimana adanya kekhawatiran bahwa semua pekerjaan akan digantikan oleh robot dan mesin, sehingga lapangan pekerjaan akan berkurang.
Sedangkan pandangan kedua adalah pandangan optimis yang memandang kemajuan teknologi sebagai hal yang menguntungkan karena memberi banyak kemudahan dalam hidup dengan harga yang murah.
"Generasi emas harus memiliki pandangan yang seimbang terkait dua hal ini dan harus memanfaatkan segala peluang demi mempersiapkan diri menyongsong Indonesia 2045," kata Menteri Sofyan.
Dr Ir Mustafa Abubakar, Menteri BUMN RI 2009 - 2011 dalam materinya menegaskan bahwa SDM Aceh yang unggul dan inovatif adalah mereka yang mampu beradaptasi di era digital dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam tanpa melupakan nilai-nilai Aceh yang identik dengan nilai keislaman yang telah membentuk jati diri masyarakat Aceh sejak zaman penjajahan dulu.
"Insan yang tangguh juga tercapai dengan kemampuan dan keikutsertaan dalam berbagai organisasi karena kemampuan berorganisasi adalah bekal untuk menjadikan SDM menjadi generasi unggul demi menyongsong Indonesia emas 2045.
Salah satunya adalah diwujudkannya perhimpunan Diaspora Global Aceh yang menghimpun para pengusaha Aceh untuk berkiprah di dunia yang turut bekerja sama dengan 17 negara," kata Mustafa Abubakar.