Jurnalisme Warga
Menikmati Kuliner Mancanegara di Rex Bireuen
Akhir pekan adalah waktu paling ditunggu oleh anak-anak yang orang tuanya bekerja dalam berbagai profesi
OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Kota Juang, Bireuen
Akhir pekan adalah waktu paling ditunggu oleh anak-anak yang orang tuanya bekerja dalam berbagai profesi.
Walau bagaimanapun sibuknya kita, keluarga harus mendapat prioritas, terutama di hari libur.
Tidak harus berlibur ke luar kota, cukup jalan-jalan di seputaran tempat tinggal kita pun cukup menghibur.
Melihat keluarga kecil kita tersenyum adalah kebahagiaan tiada tara.
Keluargalah tempat kita bersandar dalam segala situasi, saling berbagi dalam suka maupun duka.
Mengisi akhir pekan di pengujung Maret ini, saya dan keluarga kecil berdiskusi untuk menentukan tujuan tempat berakhir pekan.
Semua sepakat menikmati aneka kuliner di Rex Bireuen atau Langgar Square.
Tempat ini sering dikunjungi anak muda, perorangan, maupun keluarga.
Tempatnya santai, menyediakan aneka kuliner tradisional, nasional, dan internasional.
Baca juga: Sekda Promosikan Kuliner dan Souvenir Aceh Kepada Peserta Muktamar IDI
Baca juga: Besok Malam, Aceh Street Food Festival di Taman Ratu Safiatuddin Dibuka, Hadirkan Ragam Kuliner
Jarak tempuh dari tempat tinggal saya di Matangglumpang Dua ke Rek Kota Juang ini ± 10 km2 dengan waktu tempuh ± 10 menit.
Jika dari arah Matang tempat ini dapat dicapai dengan berbelok ke kanan, tepatnya di Gampong Cot Bada /Cot Girek, melewati Gampong Sagoe, Geulanggang, dan akhirnya tiba di Kota Juang, Bireuen.
Jalanan sedikit ramai dan padat, kendaraan roda empat dan roda dua berjalan perlahan, pengendara terlihat ekstrahati-hati.
Hampir setiap malam Minggu jalan ini dipenuhi kendaraan, apalagi beberapa kafe di lintasan jalan ini tak memiliki halaman parkir khusus sehingga pengunjung memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan.
Pemandangan ini hampir setiap malam dapat kita saksikan dan puncaknya adalah pada malam Sabtu dan Minggu.
Jujur, hal ini sedikit mengganggu pengendara yang melintas.
Walaupun perjalanan kurang nyaman, akhirnya kami tiba di Rex Kota Juang, Bireuen.
Di lokasi ini kami hampir tak kebagian tempat parkir karena banyaknya pengunjung yang datang.
Kami disambut oleh pelayan yang ramah dan memilih duduk di sebelah timur dengan pertimbangan banyak kuliner yang lezat berjejer di sisi jalannya.
Ada satai padang, satai Matang, ada ayam penyet, ada bakso, dan beberapa makanan tradisional lainnya.
Menariknya, di sini juga tersedia aneka makanan mancanegara.
Baca juga: Perkenalkan Wisata Aceh, Bus TransK Disulap Jadi Wahana Promosi Destinasi dan Kuliner
Ada beberapa pemilik warung, tempat ini mirip restoran, tetapi para penjual mempunyai gerobak masing-masing, memiliki ciri khas sendiri, dengan tempat terbatas, dan sudah dibagi-bagi dengan ukuran kapling yang hampir sama.
Tempat yang mirip restoran terbuka dengan panjangnya hampir 100 meter ini memiliki lebar lebih kurang 25 meter.
Lokasi ini milik PJKA I.
Setiap yang berjualan di sini harus membayar sewa kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen sesuai dengan tarif yang sudah ditetapkan.
Sambil melirik ke kanan dan kiri, kami akhirnya memilih makanan yang sedikit asing di lidah, yaitu tom yam udang khas Thailand, nasi goremg kampung khas Malaysia, dan nasi goreng Pattaya khas Thailand.
Kami juga memesan roti john khas Amerika dengan minuman bandrek susu dan original, plus satu gelas teh dingin.
Kami memilih duduk di Warung Tom Yam Kung.
Owner warung ini adalah Mr Adam yang juga berperan sebagai chef .
Dia asli Aceh, tapi berwajah Timur Tengah.
Pada saat chef Adam beraksi di dapur mengolah nasi goreng yang kami pesan, saya hampir menjerit karena api begitu besar menyambar wajan/penggorengan, tetapi lelaki yang berpostur tinggi besar ini dengan tenangnya membolak-balik makanan yang sedang dimasak.
Saya pikir terjadi kebakaran, ternyata inilah ciri khas cara dia memasak.
Hal ini tentu harus memiliki keahlian tersendiri, karena jika tidak fokus maka api akan menyambar apa saja yang ada di sekitarnya.
Menariknya lagi, aksi chef ini pada saat menyajikan nasi goreng Pattaya, nasinya benar-benar terbungkus di dalam telur ayam yang dijadikan sebagai kulit pembungkus, dihiasi dengan daun sop, daun selada, cabai merah, dan tomat yang diiris, serta disirami dengan saus yang dibentuk seperti jala.
Sajian ini sangat menarik sehingga mengundang selera siapa pun yang melihatnya.
Saya menggunakan kesempatan untuk sedikit berbincang dengan Mr Adam, lelaki berkulit gelap yang mengaku belajar langsung dari orang Thailand, Malaysia, dan Singapura dalam mengolah sejumlah masakan.
Untuk meningkatkan keahliannya memasak, dia langsung bekerja pada restoran orang Thai dan Malaya, baik itu restauran ternama bintang lima maupun yang biasa.
Kisah hidup Mr Adam berawal dari keinginan untuk mencari peluang kerja di negeri seberang (Malaysia), tetapi karena dia gemar memasak maka dia pilih menjadi juru masak yang profesional.
Pertama sekali Mr Adam menginjakkan kaki di negara jiran itu setelah tsunami melanda Aceh pada tahun 2005.
Musibah itu sangat memengaruhi kehidupan, terutama di bidang ekonomi.
Namun, di balik musibah itu ada titik terang perdamaian Aceh, sehingga masyarakat dapat beraktivitas sebagaimana layaknya kehidupan normal.
Bincang-bincang malam itu berlangsung hangat.
Dia juga berucap kembali ke Aceh pertama kali pada tahun 2014 setelah sembilan tahun berada di perantauan.
Dia juga berbagi ilmu dengan beberapa orang yang membantunya berusaha.
Menurutnya, prinsip berbagi ilmu dengan orang lain adalah pahala.
“Kewajiban kita untuk meneruskannya kepada generasi muda, karena hidup di dunia hanyalah sementara,” ujarnya.
Perbincangan pun kami akhiri karena ada pelanggan yang memesan makanan.
Harga menu di warung ini berkisar antara Rp10.000 sampai dengan Rp50.000.
Pesanan menu dapat kita sesuaikan dengan isi kantong karena sudah jelas tertera di dalam daftar menu yang ditawarkan.
Aneka minuman dan jus seperti honey dew, dragon fruit, Thai tea juga tersedia dengan harga terjangkau, mulai dari Rp7.000 sampai dengan Rp15.000.
Menikmati kuliner mancanegara di sini sensasinya seakan membawa kita ke negara aslinya, walau hanya di sudut kota, tetapi berkesan.
Suasana malam itu cukup ramai, apalagi dari dalam Rex kita dapat lihat langsung hilir mudiknya odong-odong (kendaraan roda enam yang dimodifikasi dengan hiasan lampu yang menarik).
Kendaraan ini membawa anak-anak yang ditemani ibu/kakaknya berkeliling Bireuen cukup dengan membayar Rp10.000/orang.
Mereka terlihat ceria dan tertawa lepas.
Selain odong-odong kami juga menyaksikan delman membawa penumpang keliling Kota Juang, Bireuen dengan membayar antara Rp10.000-Rp20.000 per satu kali putaran.
Keceriaan jelas terpancar dari wajah para penumpangnya, terutama anak-anak.
Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 23.00 WIB, tetapi pengunjung masih ramai.
Kami pun meninggalkan restoran terbuka ini untuk kembali ke rumah.
Sebelum pulang kami sempatkan diri mengelilingi tugu yang mirip Monas Jakarta dan Tugu Batee Kureng, ternyata masih ada juga para pengunjung yang sedang duduk di taman alun-alun Kota Juang, Bireuen.
Suasana jalan Banda Aceh -Medan sedikit lengang, tetapi warung di seputaran kota masih ramai oleh pengunjung, termasuk juga kafe yang berada di sisi jalan nasional, Kota Juang, Bireuen dan Kota Matangglumpang Dua memang dikenal dengan sebutan kota yang tak pernah tidur.
Baca juga: Melalui Aceh Street Food Festival, Disbudpar Aceh Bangkitkan UMKM Kuliner
Baca juga: Kuliner Indonesia Favorit Pembalap MotoGP Marc Marquez: Nasi Goreng Tidak Pedas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-wakil-rektor-ii-unive.jpg)