Internasional

Adzan Mulai Bergema di AS, Anggota Muslim Dewan Kota Minneapolis Berhasil Perjuangkan UU Adzan

Suara adzan mulai bergema di seluruh kota Amerika Serikat (AS), seusai seorang anggota Muslim berhasil memperjuangkan Undang-Undang (UU) Adzan.

Editor: M Nur Pakar
()
Jamal Osman, Dewan Kota Minneapolis, AS dalam acara Radio Ray Hanania, bertajuk: "Panggilan Shalat" 

Dia mengatakan siaran publik shalat Subuh dilarang berdasarkan undang-undang baru karena terjadi terlalu pagi.

“Kami mendengar adzan dan Anda tahu keterikatan emosional dengan orang-orang yang tinggal di sini, di negara-negara tempat mereka dibesarkan dapat mendengar Adzan," jelasnya.

"Sekarang mendengar Adzan dari rumah benar-benar mengharukan,” kata Osman., yang datang ke Amerika sebagai pengungsi dari Somalia pada tahun 2000.

“Walikota dan anggota dewan kota di sini, dan Negara Bagian Minnesota sangat baik kepada komunitas Muslim," ujarnya.

"Itu berbicara banyak tentang negara bagian dan kota kita ini, karena kami memiliki banyak pejabat terpilih di setiap tingkat pemerintahan di sini," tambahnya.

"Minneapolis telah menjadi kota indah yang kami sebut rumah,” jelasnya.

Osman memuji pejabat kota dan negara bagian karena merangkul dengan hangat komunitas Muslim dan bekerja sama
dengan mereka untuk mewujudkannya.

Undang-undang baru diadopsi dengan suara bulat oleh 13 anggota Dewan Kota Minneapolis, yang hanya mencakup tiga anggota Muslim dan 10 anggota non-Muslim.

“Itu semua orang dan tidak hanya dipilih, tetapi menyambut baik dan kami memiliki banyak anggota dewan yang memiliki keyakinan berbeda,” kata Osman.

“Saya berbicara dengan salah satu anggota dewan yang mempraktekkan Yudaisme dan Yahudi, dan dia mengatakan ini
benar-benar indah dan sudah saatnya mengenali keyakinan yang berbeda.

Salah satu hal yang dia sebutkan adalah memiliki hari libur Natal.

Baca juga: Jordania Kutuk Israel, Rebut Empat Kunci Menara Masjid Al-Aqsa untuk Membungkam Suara Adzan

Yudaisme dan Islam, juga memiliki hari-hari seperti Hannukah dan Idul Fitri dan hari-hari berbeda di mana mungkin tidak bekerja, tetapi suatu hari mungkin sampai di sana.

Osman mengatakan tujuannya bukan untuk membuat gangguan bagi non-Muslim yang tinggal di dekat masjid.

Dia mengatakan komunitas Muslim ingin menghormati komunitas mayoritas non-Muslim.

Panggilan untuk shalat, diakuinya, tidak sekeras di banyak Negara Arab di mana suaranya melebihi batas suara desibel Minneapolis.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved