Senin, 13 April 2026

Komet Terbesar

Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA Ungkap Penampakan Komet Terbesar yang Pernah Ditemui

Komet ini terbentuk dari es dan debu, saat mendekati matahari, sebagian bahan penyusun komet akan menguap dan membentuk kepala gas...

Editor: Eddy Fitriadi

SERAMBINEWS.COM - Teleskop luar angkasa Hubble NASA menyatakan kemunculan komet terbesar yang pernah ditemui saat ini.

Beda dengan asteroid, komet merupakan benda langit yang mengelilingi matahari dengan garis edar berbentuk elipse/lonjong, parabolis atau hiperbolis.

Komet ini terbentuk dari es dan debu, saat mendekati matahari, sebagian bahan penyusun komet akan menguap dan membentuk kepala gas dan ekor.

Tidak heran, komet kerap kali disebut sebagai bintang berekor meskipun sebenarnya komet bukanlah bintang.

Berbicara soal komet, teleskop luar angkasa Hubble baru-baru ini menangkap potret komet terbesar yang pernah ditemukan. Komet tersebut tampak seperti bola salju yang kotor dengan ekor spektakuler sepanjang jutaan mil.

Melalui penampakan teleskop, komet terlihat kabur, tetapi benda langit ini memiliki inti es dan debu yang padat.

Melansir dari Cnet (13/04/2022), teleskop Hubble telah mengkonfirmasi bahwa inti komet terbesar yang pernah ditemukan jatuh kepada sebuah bola salju yang mengambang di ruang angkasa ini dengan ukuran mencapai 137 km.

Teleskop luar angkasa Hubble merupakan proyek bersama NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Teleskop ini kerap kali menatap galaksi yang jauh, tetapi para ilmuwan juga dapat menggunakannya untuk mengukur inti komet terbesar yang baru ditemukan ini.

Komet terbesar ini diberi nama C/2014 UN271 (Bernardinelli-Bernsetein). 

Menurut informasi yang terungkap, komet terbesar ini berusia 4 miliar tahun dan berasal dari sarang komet yang jauh, secara teoritis disebut Awan Oort yang pertama kali diamati pada 2010.

"Pengamatan Hubble pada 2022 diperlukan untuk membedakan inti padat dari cangkang atau lapisan berdebu besar yang menyelimutinya, dengan bantuan dari pengamatan radio," kata NASA dalam sebuah pernyatan Selasa (12/04/2022). 

Cangkang atau lapisan berdebu pada komet inilah yang disebut koma.

Teleskop luar angkasa Hubble juga mengamati lonjakan cahaya yang datang dari komet. Data tersebut membantu para astronom membuat model koma komet, yang kemudian dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar ukuran inti atau nukleus.

Tim peneliti juga menemukan nukleus "lebih hitam dari batu bara", seperti yang dijelaskan oleh astronom David Jewitt dari University of California di Los Angeles. 

Jewitt terlibat dalam penelitian yang diterbitkan dalam The Astrophyscal Journal Letters minggu ini sebagai rekan penulis.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved