Breaking News:

Sosok Amina Wadud, Wanita Pertama Pimpin Shalat Jumat di AS dan Inggris, Lahir di Keluarga Pendeta

Saat usianya menginjak 19, di tahun kedua perkuliahan, pada 1972, amina mengucap dua kalimat syahadat di sebuah masjid tidak jauh dari rumah kedua ora

Editor: Faisal Zamzami
ADRIAN DENNIS
Profesor AS amina wadud (kanan) bersiap untuk berlutut di depan jemaah saat memimpin shalat Jumat untuk pria dan wanita di Oxford Center di Oxford, di Inggris selatan, pada 17 Oktober 2008. (ADRIAN DENNIS) 

SERAMBINEWS.COM - Seorang warga Amerika Serikat (AS) keturunan Afrika, amina wadud -yang memilih menuliskan namanya dengan huruf kecil, sesuai huruf Arab yang tidak mengenal huruf kapital- menjadi wanita pertama yang memimpin ibadah shalat Jumat di Amerika dan Inggris pada 2005 dan 2008.

Namanya dikenal publik sebagai 'Lady Imam'.

Namun, jauh sebelum itu, pada 1992 ia telah melakukan terobosan dengan menulis buku 'Quran and Woman'.

Di dalam buku itu, amina menafsirkan Quran dari perspektif perempuan dalam berbagai topik, seperti signifikansi perempuan dalam Quran, juga peran dan hak perempuan dalam Islam.

 "Saya tidak melakukannya untuk menjadi yang pertama dalam hal apa pun, atau menjadi pemimpin bagi siapa pun. Saya hanya sangat peduli akan hubungan saya dengan Quran dan perbedaannya dengan kenyataan yang saya alami, misalnya di dalam komunitas Muslim," kata amina.

Kini ia memilih menetap di Indonesia.

Kepada BBC Indonesia dan jurnalis BBC spesialis urusan agama di Beirut, Lebanon, amina menceritakan perjalanannya memeluk Islam, dan upayanya mencapai keadilan gender.

Tidak hanya bagi perempuan dan laki-laki tapi juga non-biner dalam konteks Islam.

"Saya akan merayakan ulang tahun ke-70 tahun ini, sekaligus 50 tahun memeluk agama Islam," kata dia.

"Saya merasa sangat beruntung, saya menemukan sesuatu yang membuat saya jatuh cinta, dan 50 tahun kemudian rasa cinta dan pesonanya tidak pernah pudar".

Lahir di keluarga pendeta di Amerika Serikat

Memasuki tempat tinggal amina di Yogyakarta, BBC 'disambut' sebuah meja di depan pintu masuk yang memajang beragam benda.

"Saya adalah Muslim eklektik," kata amina yang memilih namanya ditulis dalam huruf kecil semua, karena kata dia, bahasa Arab pun tidak mengenal huruf kapital.

Di atas meja terdapat beberapa kristal, kartu tarot, lambang pohon kehidupan dalam agama Buddha, lambang agama Yahudi dengan nama cucunya yang merupakan keturunan Yahudi, serta foto ibu dan saudara kandung perempuannya yang telah meninggal dunia.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved