Breaking News:

Polemik Gelar

Polemik Pemberian Gelar Teuku & Cut kepada Pendatang, DPRA Panggil Lembaga Wali Nanggroe dan MAA

Sebelumnya, Cut Putri mengultimatum MAA, Wali Nanggroe Aceh, serta para pihak lainnya agar jangan sembarangan memberikan gelar Kesultanan Aceh sesuka

Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Ansari Hasyim
Serambinews.com
Kautsar, Politisi Partai Demokrat 

Laporan Masrizal I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menggelar rapat klarifikasi terkait pemberian gelar Teuku atau Cut kepada para tokoh nasional yang datang ke Aceh.

Rapat yang diinisiasi oleh Komisi I DPRA itu berlangsung di Ruang Rapat Banmus DPRA, Senin (18/4/2022) pukul 14.00 WIB.

Dari undangan yang beredar, rapat dilaksanakan bersama Lembaga Wali Nanggroe, Majelis Adat Aceh (MAA), Komisi VI DPRA, Cut Putri (Cucu Sultan Aceh) dan para tokoh adat Aceh.

Rapat itu dilakukan setelah munculnya protes dari beberapa pihak atas pemberian gelar Teuku atau Cut kepada para tokoh nasional saat berkunjung ke Aceh.

Salah satu protes disampaikan oleh Cucu Sultan Aceh yang juga Pemimpin Darud Donya, Cut Putri.

Unimal Klarifikasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Dapat Gelar Teuku, Begini Penjelasannya

Sebelumnya, Cut Putri mengultimatum MAA, Wali Nanggroe Aceh, serta para pihak lainnya agar jangan sembarangan memberikan gelar Kesultanan Aceh sesuka hati kepada siapapun, dan merusak adat Aceh.

Kabar terbaru pemberian gelar Teuku dilakukan oleh MAA Kota Lhokseumawe kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di rumah Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, Prof Dr Herman Fithra.

Upacara pemberian gelar itu dipimpin M Jalil Hasan, selaku Ketua MAA Kota Lhokseumawe yang ditandai dengan menyematkan kupiah mekeutob dan rencong kepada Ganjar.

Dr Jalaluddin: MAA Lhokseumawe dan Rektor Unimal Salah Kaprah, jangan Jadikan Gelar Teuku Mainan

Politisi Partai Demokrat, Kautsar Muhammad Yus juga mengkritisi pemberian gelar tersebut dan dinilai rancu serta tidak serius.

Sebab yang memberikan gelar justru bukan orang yang memiliki gelar kebangsawanan.

"Dia (Ketua MAA) sendiri tak ada (gelar) Teuku, tapi memberikan Teuku kepada orang lain, ini terlihat seperti dagelan saja,” kata Kautsar, kepada Serambinew.com, Senin (11/4/2022).

"Ibarat seperti pemberian gelar doktor honoris causa kepada seseorang, pasti yang memberikannya minimal memiliki gelar doktor. Idealnya seorang professor, tak mungkin di bawah itu," tambahnya.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved