Ramadhan Mubarak

Ramadhan dan Upaya Menghidupkan Itikaf

Itikaf (al-i`tikaf) merupakan ibadah sunat yaitu menetap atau berada di masjid untuk waktu tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof Dr Al Yasa’ Abubakar MA, Guru Besar UIN Ar-Raniry 

Rasulullah, istri-istri beliau, dan banyak Sahabat pada sepuluh hari terakhir Ramadhan boleh dikatakan tidak keluar dari masjid kecuali untuk keperluan pokok harian.

Hatta untuk tidur pun mereka berada di masjid.

Para ulama sepakat bahwa itikaf mesti dilakukan di masjid berdasarkan firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 187 yang potongannya bermakna (Janganlah kamu melakukan hubungan badan dengan istrimu ketika sedang beritikaf di masjid).

Pada masa Nabi, jumlah masjid relatif terbatas, hanya ada dua, Nabawi dan Quba` (masjid pertama yang dibangun Rasulullah).

Sedang shalat Jumat pada masa Rasulullah kuat dugaan hanya ada di Masjid Nabawi, belum ada di tempat lain baik di Madinah atau di luar Madinah.

Setelah Rasulullah wafat jumlah masjid bertambah banyak sekali, sehingga terjadi diskusi mengenai persyaratan masjid yang boleh digunakan untuk itikaf.

Menurut jumhur ulama, masjid yang digunakan untuk menunaikan shalat fardhu berjamaah secara rutin dapat dijadikan tempat melakukan itikaf.

Kalau dia beritikaf pada hari Jumat atau sampai masuk waktu menunaikan shalat Jumat, maka dia mesti beritikaf di masjid yang ada shalat fardhu berjamah dan shalat Jumatnya.

Alasannya agar dia tidak perlu keluar dari masjid tempat dia beritikaf untuk menunaikan shalat fardhu berjamaah dan shalat Jumat.

Apabila dia keluar dari masjid tempat itikaf, lalu pergi ke masjid lain untuk menunaikan shalat fardhu berjamaah atau shalat Jumat, maka itikafnya dianggap batal.

Sekiranya kriteria ini kita pegang, maka sebagian mushalla dan meunasah di Aceh sudah dapat digunakan untuk itikaf.

Sebaliknya, masjid yang hanya digunakan untuk shalat Jumat tetapi tidak ada shalat fardhu berjamaahnya tidak dapat digunakan untuk iktikaf.

Syarat mesti dilakukan di masjid, bukan hanya berlaku untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan.

Di atas sudah disebutkan pada masa Rasulullah, para Sahabat perempuan, termasuk istri-istri beliau, ikut itikaf di masjid bersama beliau.

Dalam hadis lain penuturan Aisyah dirawikan oleh al-Bukhari, disebutkan pernah salah seorang istri beliau yang sedang isitihadah ikut melakukan itikaf di masjid bersama Rasulullah (dengan cara menggunakan tempayan untuk menampung darah, wadha`at at-thasta tahtaha min-ad dam).

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved