Berita Aceh Selatan
Harga TBS Kelapa Sawit di Aceh Selatan, Warga Harap Pemerintah Jaga Kestabilan
Harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Aceh Selatan hingga Sabtu (14/05/2022) dilaporkan masih bertahan di level harga Rp 1.600/Kg
Penulis: Taufik Zass | Editor: Muhammad Hadi
Laporan Taufik Zass | Aceh Selatan
SERAMBINEWS.COM, TAPAKTUAN - Harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Aceh Selatan hingga Sabtu (14/05/2022) dilaporkan masih bertahan di level harga Rp 1.600/Kg di tingkat ram (agen pengumpul).
"Ya, masih seperti harga tiga hari yang lalu, yakni Rp 1.600/Kg," ungkap Sumardi, salah seorang agen pengumpul di wilayah Trumon, Kabupaten Aceh Selatan saat dikonfirmasi Serambinews.com, Sabtu (14/05/2022).
Sebagaimana diketahui, jelang hari raya Idul Fitri 1443 H/2022, harga TBS ditingkat pengumpul Rp 1.750 - Rp 1.800/Kg.
Namun selang hari harga TBS naik lagi menjadi Rp 2.300/Kg.
"Kami sangat berharap peran pemerintah dalam menjaga kestabilan harga TBS kelapa sawit seperti di daerah lain," harap Ismail, warga Trumon.
Baca juga: Sempat Turun, Harga Sawit di Aceh Singkil Kembali Naik
Diberitakan sebelumnya, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh Selatan, Khaidir Amin SE menduga, turunnya harga kelapa sawit ini lantaran larangan ekspor sawit atau CPO dan minyak goreng.
"Ya, turunnya harga sawit karena kebijakan larangan ekspor sawit atau CPO dan minyak goreng dari pemerintah yang di sampaikan Presiden Jokowi belum lama ini," katanya waktu itu.
Dia menyebutkan, penurunan harga TBS Sawit sangat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat.
Ditambah lagi saat ini masyarakat sedang kesulitan ekonomi di tengah pendemi COVID-19 tesebut.
"Masyarakat yang petani kepala sawit tentunya menangis dengan turunnya harga TBS sawit itu. Sebab sebagian masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan salah satu sumber ekonomi adalah sawit," jelasnya.
Baca juga: Distanbun Aceh Undang 52 Perusahaan PKS, Bahas Penyetopan Ekspor CPO, Harga TBS Sawit Merosot
Khaidir Amin yang juga mantan anggota DPRK Aceh Selatan itu berharap, pemerintah pusat dapat menjaga kestabilan harga TBS kepala sawit tersebut.
"Kita harap pemerintah menjaga kestabilan harga kepala sawit. Kita takutkan ini akan turun lagi dan akibatnya ekonomi masyarakat mangkin terpuruk," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi melarang ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan produk minyak goreng. Larangan ini mulai akan berlaku pada Kamis, 28 April mendatan.
Kebijakan larang ekspor tersebut Jokowi ungkapkan seusai memimpin rapat tentang pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat bersama jajaran menteri, utamanya yang berkaitan dengan ketersediaan minyak goreng untuk kebutuhan domestik.(*)
Baca juga: Seperti Adegan Film, Mesin ATM Bank Aceh Ditarik Dengan Mobil, Dipergoki Warga, Kabur Tinggalkan ini