Waspada, Sering Rebahan Seharian Berisiko bagi Otak

Walaupun terdengar sepele, gaya hidup menetap di satu tempat, atau yang biasa disebut gaya hidup sedentari, dapat menimbulkan beberapa efek buruk...

Editor: Nurul Hayati
vk.com
Ilustrasi 

Walaupun terdengar sepele, gaya hidup menetap di satu tempat, atau yang biasa disebut gaya hidup sedentari, dapat menimbulkan beberapa efek buruk bagi otak dan kesehatan.

SERAMBINEWS.COM -  Bagi para kaum “rebahan”, menetap di satu tempat selama berjam-jam atau bahkan seharian mungkin merupakan posisi nyaman untuk beraktivitas sembari rileks.

Zaman sekarang, mulai dari sekolah, bekerja, dan melakukan hobi dapat dilakukan dari kamar kita yang nyaman.

Semakin canggihnya teknologi yang memberi kenyamanan, ternyata dapat memberikan efek buruk bagi gaya hidup kita.

Walaupun terdengar sepele, gaya hidup menetap di satu tempat, atau yang biasa disebut gaya hidup sedentari, dapat menimbulkan beberapa efek buruk bagi otak dan kesehatan.

Baca juga: Risiko yang Mengintai Dibalik Asyiknya Main Ponsel Sebelum Tidur, Sudah Tahu?

Rebahan pengaruhi neuron otak

Menurut American Addiction Center Resource, penelitian di Wayne State University School of Medicine yang diterbitkan dalam Journal of Comparative Neurology menggambarkan apa yang terjadi di otak ketika mereka menghabiskan waktu mereka secara aktif dan tidak aktif.

Yang perlu diketahui tentang otak kita adalah otak terdiri dari neuron, yang terkadang disebut sebagai sel saraf.

Otak memiliki kapasitas untuk menghasilkan neuron baru hingga usia tua dan memiliki kemampuan untuk mengubah dan memperbaiki neuron yang rusak seperti yang terganggu oleh penggunaan alkohol kronis (tidak, alkohol tidak benar-benar membunuh sel-sel otak).

Tetapi, bagaimanapun aktivitas atau ketidakaktifan memengaruhi neuron masih menjadi misteri.

Dalam studi di atas, para peneliti memfokuskan pada bagian otak yang disebut medula ventrolateral rostral, yang mengontrol sistem saraf simpatik.

Mereka mempelajari bagian otak yang memengaruhi aktivitas pembuluh darah, tekanan darah, dan risiko terkait penyakit jantung.

 Gambaran otak manusia menunjukkan bahwa, seperti otak tikus, kita juga memiliki bagian otak ini dan fungsinya sama.

Terdapat dua kelompok tikus yang diberi perlakuan yang berbeda.

Kelompok pertama dilengkapi roda latihan di kandang, sedangkan kelompok kedua tanpa roda latihan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved