Minggu, 26 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXV) - Dari Krisis Pangan ke Krisis Kemanusiaan Global

Ketakutan itu sebenarnya cukup beralasan, karena ketiga negara itu adalah bekas negara Uni Soviet dan menpunyai perbatasan dengan Rusia

Editor: Muhammad Hadi
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Perang Ukraina yang telah berlangsung sekitar lima bulan itu belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda, apalagi selesai.

Usul mantan Menlu AS Kissingger pada pertemuan Davos beberapa hari yang lalu ditolak mentah-mentah oleh Presiden Ukraina, Vladimir Zleinsky.

Kissinger yang sampai hari ini masih dianggap sebagai kampiun pemikir geopolitik, meminta kepada Ukraina, untuk melepaskan sebagian wilayah timur Ukraina yang sudah direbut Rusia juga secara tak langsung ditolak oleh sebagian besar anggota NATO.

Sebagian negara-negara anggota NATO di wilayah Eropah Timur yang juga bekas anggota Pakta Warsawa-pakta pertahanan bersama dengan Uni Soviet untuk menadingi NATO sebelum Uni Soiet bubar- sangat mendukung Ukraina untuk mengusir Rusia keluar dari Ukraina Timur.

Permintaan lebih keras datang dari negara-negara Baltik -Lithuania, Estonia, dan Latvia- yang merupakan bekas negara Uni Soviet, agar agresi itu tidak dibiarkan oleh NATO dan masyarakat internasional.

Keberatan itu berasal dari pengalaman selama ini terhadap perilaku Putin yang menganeksasi Crimea dari Ukraina pada tahun 2014, membentuk dua negara boneka di Georgia pada tahun 2008, setelah sebelumya meluluhlantakkan Chechnya.

Ketakutan itu sebenarnya cukup beralasan, karena ketiga negara itu adalah bekas negara Uni Soviet dan menpunyai perbatasan dengan Rusia.

Mereka khawatir, karena ketiga negara itu berbatasan langsung dengan Rusia yang sewaktu waktu sangat rentan diinvasi oleh Rusia, kapan saja Rusia mau, seperti yang telah terjadi dengan Georgia dan Ukraina.

Kejadian terakhir yang dijalani oleh Swedia dan Finlandia yang melamar untuk menjadi anggota NATO, juga menjadi petunjuk tentang tentang kekhawatiran ekspansi Rusia yang berbatasan dengan negara itu.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXIV) - Salahkah Putin Menuduh Barat Salah?

Kedua negara yang selama lebih dari 40 tahun memilih sikap netral terhadap konflik blok Timur (Uni Soviet) vs blok Barat (AS dan sekutunya), akhir-akhir ini juga sangat giat membantu Ukraina.

Tujuannya, apalagi kalau bukan memperkuat Ukraina dalam menghadapi Rusia, dan bahkan mengusir Rusia dari bumi Ukraina secara permanen.

Dibalik itu, dengan semakin kukuhnya penguasaan Rusia di wilayah timur Ukraina, ketidakpastian berakhirnya perang juga semakin terbuka.

Apalagi kini Rusia telah menjadikan wilayah itu menjadi bagian dari negara Rusia itu sendiri.

KTP dan paspor Rusia kini sedang dibagikan kepada penduduk di wilayah Donbask, Donetsk, Kherson, dan sebagian besar wilayah timur Ukraina lainnya yang diduduki Rusia.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved