Kamis, 14 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Ayo, Sayangi Bumi Kita!

Judul di atas mungkin bisa menyadarkan kita bahwa sebagai manusia begitu pentingnya menjaga bumi sebagai rumah kita

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
IDA FITRI HANDAYANI, Guru Agama SMA Negeri 4 Banda Aceh dan Anggota FAMe, melaporkan dari Banda Aceh 

OLEH IDA FITRI HANDAYANI, Guru Agama SMA Negeri 4 Banda Aceh dan Anggota FAMe, melaporkan dari Banda Aceh

JUDUL di atas mungkin bisa menyadarkan kita bahwa sebagai manusia begitu pentingnya menjaga bumi sebagai rumah kita.

Kesadaran akan pentingnya menjaga bumi, khususnya lingkungan sekitar, harus ditanamkan sejak dini.

Karena, pada dasarnya manusia sangat membutuhkan lingkungan untuk proses kelangsungan hidupnya dan makhluk lainnya.

Melihat keadaan sekarang, cuaca di Kota Banda Aceh selalu cerah beberapa hari terakhir.

Pada siang hari, suhu di ibu kota Provinsi Aceh ini terasa sangat panas meski angkanya berkisar di angka 30-33 derajat Celsius sebagaimana biasa.

Sejumlah aplikasi pemantau cuaca yang saya lihat, Sabtu (21/5/2022), suhu di Kota Banda Aceh berada di titik 30-32 derajat Celsius.

Namun, disebutkan pula temperatur tersebut terasa seperti 37 derajat Celsius.

Saat musim hujan, selalu ada genangan air di manamana, padahal intensitas hujan tidak begitu tinggi.

Baca juga: Siti Nurhaliza Jaga Lingkungan Lewat Bersepeda

Baca juga: LSM Bale Juroeng Peringati 50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Bumi seperti sudah sangat lelah, jenuh, dan tak begitu bersemangat memberi suhu ternyaman untuk manusia, hal itu tentu karena ulah manusia juga.

Sangat disayangkan apabila manusia tak mempedulikan kelestarian lingkungan.

Contoh kecil, manusia masih saja membuang sampah sembarangan, padahal sudah disediakan tempat sampah.

Hanya saja manusia beralasan enggan berjalan (mager) untuk membuang sampah tersebut ke tempatnya.

Parahnya lagi apabila sampah yang dibuang sembarangan adalah sampah plastik, maka sangat sulit terurai oleh tanah.

Setiap hari kita menjadi pengguna plastik dan sampah plastik menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan baik pencemaran tanah maupun laut.

Sifat sampah plastik tidak mudah terurai.

Proses pengolahannya menimbulkan toksid dan bersifat karsinogenik, butuh waktu sampai ratusan tahun agar bisa terurai secara alami.

Bayangkan saja sampahsampah plastik itu 20 atau 40 tahun ke depan.

Nah, atas dasar keresahan itu lahirlah sebuah gagasan dari pemuda asal Bireuen, Zainuddin yang saat ini tinggal di Lampaseh, Banda Aceh, bersama sang istri, Nourica.

Mereka menjadi penggagas lahirnya Sobotik, akronim dari Sofa Botol Plastik di Banda Aceh.

Cerita awalnya, Zainuddin yang saat itu kehilangan pekerjaan di tambah efek pandemi Covid-19, harus memutar otak untuk mencari peluang usaha.

Karena kecanggihan teknologi untuk mengakses informasi sangat mudah, ia pun mengikuti beberapa akun media sosial yang mengampanyekan daur ulang sampah plastik.

Dari situlah, ia kemudian coba mendalami satu upaya recycling (daur ulang) sampah berbahan botol plastik dari YouTube untuk diolah menjadi sofa.

Semasa kuliah ia sering terlibat dalam kegiatan sosial peduli lingkungan.

Ia sudah terbiasa dengan penanganan limbah plastik, khususnya di Banda Aceh.

Beberapa kali ia bekerja sebagai relawan pada sejumlah kegiatan LSM yang konsen dengan hubungan manusia dan alam, terutama isu sampah.

Tahun 2020 Zainuddin dan istri coba-coba ikut lomba Aceh Berdikari.

Mereka membuat proposal perancangan daur ulang sampah, dari yang awalnya mencoba peruntungan akhirnya mereka memenangkan lomba itu.

Pada November produksi pertama pun dimulai.

Proses pembuatan Sobotik hadir sebagai pelengkap interior rumah, kafe, kantor, dan kebutuhan properti lainnya.

Sobotik hanya dibuat jika ada pesanan saja alias made by order.

Dengan sistem made by order, konsumen bisa memesan sesuai selera masing-masing.

Lalu bagaimana proses pembuatan Sobotik? Proses pembuatannya, botol plastik bekas dicuci dan dikeringkan.

Botol-botol yang sudah bersih kemudian direkatkan dengan selotip menjadi bentuk sofa bulat, dibutuhkan 37 botol plastik dengan ukuran yang sama.

Menurut mereka, botol plastik berbentuk ramping tidak bisa digunakan dalam pembuatan furnitur tersebut, karena akan menghasilkan bentuk sofa yang tidak stabil.

Untuk kenyamanan ditambah busa atau foam, setiap bagian dilapisi busa atau bahan sintetis pilihan secara terpisah yang disusun pada setiap tepi sofa itu disesuaikan pada pola.

Kemudian, dipakaikan kulit untuk mempercantiknya.

Satu set Sobotik memakan waktu hingga kurang lebih dua minggu.

Nah, harga yang dipasarkan beragam, tapi mereka mematok harga Sobotik dengan kisaran 300.000– 350.000 rupiah per unit.

Sedangkan untuk pemesanan 1 set dibanderol hingga 1,8 juta rupiah, tergantung jumlahnya.

Pemasaran Sobotik mereka lakukan melalui media sosial, Instagram, Facebook, dan WhatsApp.

Jika ingin membeli bisa melalui akun resmi Instagram, klik di pencarian @Sobotik Official, dan promotor paling ampuh ialah mulut ke mulut masyarakat sekitar.

Saat ini, konsumen Sobotik hanya di Aceh saja, mereka belum mampu melayani pasar nasional karena mahal di ongkos kirim.

Selain dari Banda Aceh, banyak orderan dari luar juga, seperti Bireuen, Aceh Besar, dan Pidie.

Setiap bulan mereka berhasil menjual kurang lebih tiga set kursi yang terdiri atas single set, double set, maupun family set.

Usaha yang digeluti Zai dan istri ini mendapat respons positif dari masyarakat sekitar.

Masyarakat sangat mendukung bahkan mereka menjadi penyetok untuk bahan baku.

Selain itu ada beberapa pelaku usaha seperti pemilik kafe dan penginapan yang menghubungi mereka untuk menyumbang bahan baku botol plastik yang sudah dipilah.

Pada tahun2022 mereka buat gerakan rumah #sayangbumi , rumah-rumah yang bersedia memberikan sampah plastik kemasan, plastik kresek, HDPE, dan styrofoam ke mereka dengan syarat sampah terpilah telah dicuci bersih dan dikeringkan akan dibayar sesuai dengan berat masing-masing sampah.

Selain sofa botol plastik ada beberapa usaha kreatif yang mereka kembangkan, di antaranya 'bean bag' yang merupakan sofa mirip bantalan besar berisi styrofoam yang nyaman banget diduduki.

Namun, khusus di Sobotik mereka gunakan styrofoam bekas, untuk ukuran L dibutuhkan sekitar lima kilogram.

Selain itu, ada juga beberapa furnitur dari tutup botol plastik yang dicacah, kemudian dimasukkan ke oven kue, lalu dibentuk menjadi vas bunga, jam dinding, rak buku, tapi semua itu masih tahap uji coba, belum siap terjun ke pasar.

Usaha kreatif ini bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja, selain dapat menjaga lingkungan, ini salah satu cara meraup keuntungan dari sampah botol plastik.

Lakukan hal kecil karena dunia ini sangat luas, kamu tidak mampu bekerja sendiri, mari bersatu menjadi kita.

Mulailah detik ini, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari keluarga, mulailah dari masyarakat hingga dunia untuk sadar dan peduli terhadap lingkungan kita demi kelangsungan masa depan kita semua.

Baca juga: Aktivis Lingkungan Desak Pengungkapan Penyebab dan Pelaku Karhutla di Nagan Raya

Baca juga: Rokok Ancaman Bagi Lingkungan (Refleksi HTTS 2022)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved