Senin, 13 April 2026

Berita Jakarta

Presiden: 22 Negara Stop Ekspor Pangan, Krisis Kesehatan Global

Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat termasuk relawan, terkait kondisi rantai pasok pangan dunia yang kini tercatat sudah 22 negara

Editor: bakri
Setkab.go.id

JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat termasuk relawan, terkait kondisi rantai pasok pangan dunia yang kini tercatat sudah 22 negara menghentikan ekspor komoditas pangan.

Hal itu disampaikan Presiden kepada para relawan dalam Acara Silaturahmi Tim Tujuh Relawan Jokowi di Ecovention Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (11/6/2022).

"Hati-hati yang namanya urusan pangan, produksi pangan.

Sekarang negara-negara dulu bulan Januari baru tiga negara yang stop ekspor bahan pangannya, sekarang sudah 22 negara tidak ekspor bahan pangannya," kata Presiden Jokowi.

Presiden menjelaskan, bahwa puluhan negara tersebut menghentikan ekspor komoditas pangannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Salah satu negara yakni India yang menangguhkan ekspor gandum untuk melindungi kebutuhan dalam negeri dan menekan inflasi pangan.

Langkah larangan ekspor ini diambil saat dunia sedang mengalami kelangkaan bahan pangan seperti gandum.

Hal ini diakibatkan oleh perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, dua negara yang juga termasuk produsen gandum terbesar dunia.

Oleh karenanya, Presiden mewanti-wanti posisi Indonesia yang masih harus mengimpor gandum serta sejumlah komoditas lainnya, seperti jagung dan kedelai.

Baca juga: Arab Saudi Beri Hibah ke Afghanistan, Sebesar Rp 437 Miliar, Untuk Pendidikan Sampai Pangan

Baca juga: Wujudkan Ketahanan Pangan, TNI Dampingi Petani Cabe di Aceh Utara

Namun untuk komoditas beras, sebagai bahan pangan utama, Presiden mengatakan Indonesia patut bersyukur karena sudah tiga tahun terakhir tidak lagi mengimpor beras.

"Hati-hati yang urusan beras, biasanya kita impor 2 juta ton, sudah tiga tahun ini kita tidak impor beras sama sekali.

Ini patut kita syukuri, berkat bendungan yang sudah kita bangun," kata Presiden Jokowi.

Presiden menambahkan bahwa sistem irigasi untuk pangan didukung oleh pembangunan 29 bendungan yang sudah terealisasi dari target 65 bendungan.

Meningkatnya kekurangan pangan dapat mewakili ancaman kesehatan yang sama bagi dunia seperti pandemi Covid-19, kata seorang tokoh kesehatan global terkemuka memperingatkan.

Naiknya harga pangan dan energi, sebagian dipicu oleh perang di Ukraina, dapat membunuh jutaan orang baik secara langsung maupun tidak langsung, kata Direktur Eksekutif Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis dan Malaria, Peter Sands, kepada Reuters dalam sebuah wawancara pada Selasa (7/6/2022).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved