Breaking News

Berita Luar Negeri

Rusia Kurangi Pasokan Gas ke Jerman, Putin Melakukan Apa yang Ditakuti Sejak Awal

Rusia mengurangi 60 persen pasokan gas melalui pipa utama Nord Stream ke Jerman, warga setempat diminta untuk lebih hemat energi.

Penulis: Sara Masroni | Editor: Muhammad Hadi
Kolase Serambinews / Dok AFP via Tribunnews dan Politico.eu
Rusia memotong 60 persen pasokan gas melalui pipa utama Nord Stream ke Jerman, warga setempat diminta untuk lebih hemat energi usai dilakukannya kebijakan itu. (Kiri ke kanan: Wakil Kanselir Jerman Robert Habeck dan Presiden Rusia Vladimir Putin) 

SERAMBINEWS.COM - Rusia mengurangi 60 persen pasokan gas melalui pipa utama Nord Stream ke Jerman, warga setempat diminta untuk lebih hemat energi usai dilakukannya kebijakan itu.

Kebijakan Rusia mengurangi pasokan gas ke Jerman melalui pipa bawah laut Nord Stream 1 disampaikan oleh Gazprom, perusahaan energi multinasional milik negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin saat ini.

Awalnya, pengurangan pasokan gas ke Jerman yang dilakukan Rusia hanya sebesar 40 persen sebagaimana yang diumumkan Gazprom pada Selasa (14/6/2022).

Namun sehari kemudian, pengurangan pasokan gas ke Jerman kembali dilakukan menjadi sekitar 60 persen.

Dilansir Kompas.com dari Daily Mail pada Jumat (17/6/2022), perusahaan dalam kedua kasus itu mengutip karena masalah teknis.

Gazprom mengeklaim bahwa sanksi atas serangan Rusia ke Ukraina dari Kanada yang mencegah mitra Jerman Siemens Energy mengirimkan peralatan yang telah dikirim untuk perbaikan.

Baca juga: Meski Terus Dijatuhi Sanksi, Ekonomi Rusia Tampak Stabil, Departemen Keuangan AS Tak Percaya

Pemerintah Jerman menolak alasan itu.

Pihaknya mengatakan bahwa pemeliharaan seharusnya tidak menjadi masalah sampai musim gugur dan keputusan Rusia adalah langkah politik untuk menabur ketidakpastian dan menaikkan harga.

Presiden Rusia Vladimir Putin “melakukan apa yang ditakuti sejak awal: Dia mengurangi volume gas, tidak dalam sekali jalan tetapi selangkah demi selangkah,” kata Wakil Kanselir Jerman Robert Habeck dalam sebuah video yang diunggah oleh kementeriannya di Twitter pada Rabu malam (15/6/2022).

Baca juga: Joe Biden Tambah Bantuan Senjata Rp 15 Triliun Untuk Ukraina Lawan Invasi Rusia

Dia merujuk pada langkah Rusia sebelumnya untuk mengurangi pasokan ke Bulgaria, Denmark dan negara Eropa lainnya.

Pengurangan aliran gas Rusia ini terjadi ketika Jerman dan seluruh Eropa mencoba mengurangi ketergantungan mereka pada impor energi Rusia.

Jerman, yang memiliki ekonomi terbesar di Eropa, mendapatkan sekitar 35 persen gasnya untuk industri listrik dan menghasilkan listrik dari Rusia.

Baca juga: Wali Kota di Ukraina Membelot ke Rusia, Desak Zelensky-Putin Berdamai

Berita pengurangan pasokan gas Rusia membuat harga gas alam jangka pendek melambung di Eropa.

Harga spot bulan depan naik 13 persen pada Kamis (16/6/2022) menjadi 139,10 euro (Rp 2 jutaan) per kilowatt hour, naik 40 persen sejak Senin (13/6/2022).

Habeck, yang juga menteri ekonomi, sudah meluncurkan kampanye bagi masyarakat untuk menghemat energi pekan lalu.

Baca juga: PBB Minta Rusia Tidak Adopsi Anak-Anak dan Anak Muda Ukraina ke Moskow

Setelah pengumuman Gazprom, dia menyampaikan pesan dalam video Rabu (15/6/2022) malam.

“Gas akan datang ke Eropa - kami tidak memiliki masalah pasokan, tetapi volume gas harus diperoleh di pasar dan itu akan menjadi lebih mahal,” kata Habeck.

Dia mengatakan pemerintah siap, dan mencatat bahwa mereka telah memberlakukan undang-undang yang mengharuskan penyimpanan gas diisi.

Baca juga: Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel Ulangi Sikapnya Tak Ingin Ukraina Masuk NATO

Dia memuji kesediaan warga Jerman dan sektor bisnis untuk menghemat energi dan menyimpan gas.

“Sekarang adalah waktu untuk melakukannya,” katanya.

“Setiap kilowatt per jam membantu dalam situasi ini. Ini adalah situasi yang serius, tetapi bukan situasi yang membahayakan keamanan pasokan di Jerman.”

Kepala regulator energi Bundesnetzagentur Jerman pada Selasa (14/6/2022) memperingatkan langkah Gazprom.

Menurutnya langkah Gazprom untuk memotong pasokan adalah sinyal peringatan yang dapat menyebabkan masalah bagi negara terbesar Eropa di musim dingin.

Baca juga: Volodymyr Zelenskyy Tegaskan Ukraina Akan Rebut Kembali Seluruh Wilayah yang Diduduki Rusia

"Ini akan memperburuk situasi kami secara signifikan," kata kepala regulator Klaus Mueller kepada harian Rheinische Post.

“Kita mungkin bisa melewati musim panas karena penggunaan sistem pemanasan tak diperlukan," katanya.

"Tetapi sangat penting bahwa kami mengisi fasilitas penyimpanan untuk melewati musim dingin,” tambahnya.

Ditanya apakah dia takut bahwa Rusia serius tentang pembekuan pasokan gas, Mueller memberi pendapat berbeda.

"Sejauh ini logika Rusia adalah ingin terus menjual gas ke Jerman. Tapi kita tidak bisa mengesampingkan apa pun,” katanya.

Baca juga: Ditembak Militer Rusia, Pabrik Kimia di Kota Ukraina Timur Terbakar

Ketika Jerman mencoba mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia, Jerman mempercepat rencana terminal gas alam cair (LNG).

Dan Mueller mengatakan dia akan menyambut terminal terapung di Lubmin, di Laut Baltik.

“Terminal terapung di Lubmin sedang dilihat, ada pembicaraan saat ini,” kata Mueller.

Lebih lanjut kata dia, Laut Baltik, serta Laut Utara, sedang dipertimbangkan untuk memastikan pasokan kapasitas energi yang cukup di Jerman selatan dengan gas dari pantai.

Itulah yang terjadi di Jerman saat ini, Rusia mengurangi pasokan gas dan Putin melakukan apa yang ditakuti sejak awal.

Yakni mengurangi volume gas selangkah demi selangkah sebagaimana disampaikan Wakil Kanselir Jerman Robert Habeck dalam unggahannya. (Serambinews.com/Sara Masroni)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved