Breaking News:

Berita Banda Aceh

Naskah Aceh Umumnya Ditulis di Kertas Eropa, Termasuk soal Rempah-rempah dan Obat-obatan

Direktur Pedir Museum Aceh, Masykur Syafruddin SHum, menyampaikan hal ini saat menjadi narasumber dalam talkshow di Radio Serambi FM 90,2 MHz yang jug

Penulis: Mawaddatul Husna | Editor: Mursal Ismail
SERAMBI FM/ILHAM      
Masykur Syafruddin, SHum (Direktur Pedir Museum Aceh) dan Hermansyah, MTh, MHum (Dosen UIN Ar-Raniry sekaligus Ketua Manassa Komisariat Aceh), menjadi narasumber talkshow bersama Biro Isra Setda Aceh bertema “Rempah Aceh dalam Manuskrip” di Radio Serambi FM 90.20 MHz, Rabu (22/6/2022). Talkshow ini dipandu host Maghfirah 

Direktur Pedir Museum Aceh, Masykur Syafruddin SHum, menyampaikan hal ini saat menjadi narasumber dalam talkshow di Radio Serambi FM 90,2 MHz yang juga disiarkan melalui live Facebook Serambi, Rabu (22/6/2022).

Laporan Mawaddatul Husna | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Manuskrip merupakan suatu tulisan tangan berupa kitab, lembaran kertas atau sesuatu yang ditulis di atas media seperti kertas, kulit kayu dan lainnya. 

Direktur Pedir Museum Aceh, Masykur Syafruddin SHum, menyampaikan hal ini saat menjadi narasumber dalam talkshow di Radio Serambi FM 90,2 MHz yang juga disiarkan melalui live Facebook Serambi, Rabu (22/6/2022).

Talkshow ini bertema “Rempah Aceh dalam Manuskrip”

“Naskah- naskah Aceh ini umumnya ditulis di atas kertas Eropa yang bisa ditandai dengan tanda air ketika kita menerawang pada cahaya,” kata Masykur. 

Kegiatan yang dipandu Host, Maghfirah ini juga menghadirkan narasumber lainnya, yaitu Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hermansyah MTh MHum.

Baca juga: Disbudpar Pamerkan Rempah-rempah Aceh di Museum Aceh

Masykur mengatakan Aceh secara umum paling banyak menggunakan kertas Eropa yang dieskpor dari luar negeri dan ada watermark-nya. 

“Dari watermark ini kita bisa mendefinisikan dari Eropa bagian mana, misalnya ada yang dari Belanda dan Austria,” katanya.

Dikatakan, begitupun juga dengan naskah tentang rempah-rempah, seperti obat-obatan baik yang ditemui di Aceh maupun luar Aceh.

Sementara Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hermansyah MTh MHum menyampaikan jalur rempah Aceh tidak bisa dilupakan karena sejak awal sudah bergelut dengan rempah-rempah.

“Kalau kita melihat sebelum ada Kerajaan Aceh itu sendiri pada Kerajaan Samudera Pasai sudah sangat jelas peranan Samudera Pasai di jalur internasional terkait rempah-rempah.

Ada naskah-naskah yang menyebutkan salah satunya itu surat Zainal Abidin yang menyebut tentang perlakuan orang Portugis di Selat Malaka,” jelasnya.

Bahkan dikatakannya, di situ juga disebut beberapa jenis rempah di dalamnya.

Di era Kerajaan Aceh sendiri, perdagangan atau hubungan rempah itu sangat erat, bahkan itu bukan hanya pada media pengobatan. 

Tetapi juga jadi media diplomasi Aceh dengan negara luar, misalnya dengan Turki dan Inggris.

“Rempah di Aceh itu menjadi bagian penting bagi masyarakat Aceh bahwa kita punya potensi yang sangat luar biasa yang mungkin selama ini terabaikan atau terpinggirkan,” kata  Hermansyah yang juga Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Komisariat Aceh.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved