Sabtu, 2 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Bidan sebagai Garda Terdepan Kesehatan Ibu dan Anak

Setelah saya kuliah di jurusan kebidanan, saya paham Allah menghadirkan saya ke dunia pada tanggal tersebut, bertepatan dengan lahirnya organisasi

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
ZAKIYAH DRAZAT, S.Tr.Keb,  Anggota Komunitas Jurnalisme Warga Banda Aceh, Bidan, dan Mahasiswi S-2 Magister Ilmu Kebencanaan USK, melaporkan dari Banda Aceh 

* (Refleksi Hari Bidan Nasional)

OLEH ZAKIYAH DRAZAT, S.Tr.Keb,  Anggota Komunitas Jurnalisme Warga Banda Aceh, Bidan, dan Mahasiswi S-2 Magister Ilmu Kebencanaan USK, melaporkan dari Banda Aceh

SALAH satu hal yang sangat saya syukuri adalah saya terlahir pada tanggal 5 Mei.

Dulu tanggal ini biasa saja bagi saya, hanya diperingati sebagai hari lahir seperti kebanyakan orang pada umumnya.

Namun, setelah saya kuliah di jurusan kebidanan, saya paham Allah menghadirkan saya ke dunia pada tanggal tersebut, bertepatan dengan lahirnya organisasi bidan internernasional (International Confederation of Midwives) yang disingkat sebagai ICM, yang diawali sebagai persatuan bidan internasional di Belgia.

Terlebih lagi saya juga berkesempatan menjadi seorang bidan, setelah berhasil menempuh dan menyelesaikan pendidikan kebidanan pada jenjang vokasi D3 dan D4.

Organisasi ICM sendiri pada 5 Mei 2022 lalu genap berusia satu abad.

Pada ulang tahun ke-100 ICM mengangkat tema “100 Tahun Kemajuan”.

ICM mewakili lebih dari satu juta bidan di seluruh dunia, program-program yang dijalankan bekerja sama dengan United Nations Population Fund (UNFPA/ Dana Penduduk PBB), ICM telah mendukung pekerjaan bidan pada 120 negara lebih di seluruh dunia.

Para bidan melakukan berbagai tugas, mulai dari membantu wanita melahirkan dengan kondisi yang tidak kondusif, bekerja di tengah banjir di rumah sakit Bangladesh, bertugas di bawah jembatan pascabadai Honduras hingga di antara reruntuhan di Haiti yang dilanda gempa.

Baca juga: Modus Minta Sumbangan, Pemuda asal Aceh Selatan Gasak Uang Ibu Bidan di Blangpidie

Baca juga: Alumni Bidan dan Diploma Kebidanaan Umuslim Gelar Webinar, Ini Bahasannya

Bidan juga telah mempertaruhkan nyawa mereka membantu ibu hamil dan ibu melahirkan selama pandemi Covid-19 yang melanda dunia.

Hari Bidan Nasional atau National Midwives Day di Indonesia rutin diperingati setiap tahunnya pada 24 Juni.

Tanggal tersebut merupakan hari yang bersejarah bagi bidan Indenesia karena peringatan tersebut bertepatan dengan perayaan hari jadi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang berdiri pada 24 Juni 1951 di Jakarta, menjadi organisasi yang mewadahi bidan seluruh Indonesia.

Pada pertemuan IBI 24 Juni 1951 tersebut turut dirumuskan beberapa hal penting yang merupakan tujuan dari pembentukan IBI itu sendiri, yaitu: Pertama, untuk menggalang persatuan dan persaudaraan antarsesama bidan serta kaum wanita pada umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa.

Kedua, membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), serta kesejahteraan keluarga.

Ketiga, membantu pemerintah dalam pembangunan nasioanal, terutama dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Yang terakhir adalah untuk meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

Sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan, pada Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa kebidanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan kepada perempuan selama masa sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, pascasalin, masa nifas, bayi baru lahir, bayi, balita, dan anak prasekolah, termasuk kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana sesuai dengan tugas dan wewenangnya.

Pada Pasal 1 ayat (2) disebutkan bahwa pelayanan kebidanan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan secara mandiri, kolaborasi, dan/atau rujukan.

Selanjutnya pada Pasal 1 ayat (3) dijelaskan yang dimaksud dengan bidan adalah seorang perempuan yang telah menyelesaikan program pendidikan kebidanan baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang diakui secara sah oleh pemerintah pusat dan telah memenuhi persyaratan untuk melakukan praktik kebidanan.

Sebagaimana bidan di seluruh dunia mempertaruhkan nyawa mereka membantu ibu hamil dan ibu melahirkan selama pandemi Covid-19, di Indonesia hal yang sama dilakukan oleh para bidan.

Mereka menjadi garda terdepan dalam kesehatan masyarakat, melalui pelayanan kebidanan di tingkat desa.

Pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada kita bahwa ada bencana nonalam seperti yang tertuang dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Saat pendemi melanda dunia banyak korban dari kelompok rentan bencana (lansia, disabilitas, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui) merupakan klien bidan dalam masyarakat.

Pada Pasal 1 ayat (16) UU RI Nomor 4 Tahun 2019, juga dijelaskan makna klien adalah perseorangan, keluarga, atau kelompok yang melakukan konsultasi kesehatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan secara langsung maupun tidak langsung oleh bidan.

Sehingga peran bidan sangat menentukan kesejahteraan keluarga sebagaimana yang tertuang dalam tujuan pembentukan IBI.

Untuk menunjang kinerja bidan, dibutuhkan pelatihan guna meningkatkan keterampilan atau lifeskill, khusunya dalam bidang kebencanaa.

Pendidikan dan pelatihan kebencanaan sangat diperlukan oleh seorang bidan dalam mempersiapkan dirinya menghadapi situasi gawat darurat saat bencana, bidan yang dipersiapkan untuk situasi bencana harus memiliki skill menghadapi kegawatdaruratan saat situasi bencana.

Berkaitan dengan kegawatdaruratan, dalam UU RI Nomor 4 Tahun 2019 juga dijelaskan pada Pasal 59 ayat

(1) bahwa dalam keadaan gawat darurat untuk pemberian pertolongan pertama, bidan dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan sesuai dengan kompetensinya.

(2) Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyelamatkan nyawa klien.

(3) Keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam nyawa klien.

(4) Keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh bidan sesuai dengan hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya.

(5) Penanganan keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Menurut laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, delapan dari sepuluh negara dengan angka kematian ibu tertinggi yang tercatat baru-baru ini menghadapi bencana.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan UNFPA melaporkan pada tahun 2015 bahwa sekitar 61 % dari kematian ibu terjadi di negara rawan bencana.

Lebih dari sepertiga dari kasus kematian ibu terjadi di tengah bencana, salah satu penyebabnya adalah kurangnya peralatan dan personel yang berkualifikasi dalam sistem perawatan kesehatan.

Upaya memberikan pelayanan kesehatan pada kondisi krisis akibat bencana terus ditingkatkan, tapi belum optimal, baik dari tenaga kesehatan yang terlatih, peralatan, kompetensi maupun pengetahuan tenaga kesehatan tersebut dalam hal ini salah satunya tenaga bidan.

Akibatnya, pelayanan masih terbatas pada penanganan masalah kesehatan secara umum, sedang kesehatan reproduksi belum menjadi prioritas dan sering tidak tersedia.

Bidan merupakan tenaga kesehatan yang pada umumnya bekerja di puskesmas atau yang berada di masyarakat/ komunitas yang paling dekat terkena dampak dari bencana.

Kontribusi bidan terhadap bencana/pengurangan risiko darurat atau kesiapsiagaan sangat penting.

Bidan sering tidak termasuk dalam tenaga kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Hal ini didukung oleh fakta dari WHO yang menyebutkan bahwa kesehatan ibu, bayi baru lahir dan perempuan perlu diperhatikan dalam manajemen korban massal sehingga ICM dan asosiasi anggotanya untuk memastikan bahwa bidan dapat berpartisipasi dan mengambil peran dalam kesiapsiagaan bencana pada kelompok rentan tersebut, mulai dari penyelamatan, evakuasi, pengamanan sampai dengan pelayanan kesehatan dan psikososial

Baca juga: Alumni Perawat dan Bidan Eks RSU Banda Aceh Gelar Silaturahmi, Wabup Aceh Tengah Ikut Bernostalgia

Baca juga: Sosok Prajurit TNI dan Bidan yang Dibantai OTK di Papua, Pahlawan Kemanusiaan yang Suka Menolong

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved