Breaking News:

Salam

Makna Rangkulan Biden dan Tinju Boris Johnsons

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 G7 yang digelar di Schloss Elmau, Pegunungan Alpen Bavaria, Jerman, pada 27 Juni 2022, sudah selesai

Editor: bakri
TOBIAS SCHWARZ/AFP
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, memeluk Presiden Indonesia Joko Widodo dalam sesi foto bersama dengan para pemimpin G7, Senin (27/6/2022), di Kastil Elmau, Jerman Selatan. Foto lainnya tampak Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson ‘meninju’ Jokowi saat pertemuan bilateral di sela-sela KTT G7. 

Itulah yang menjadi tonjolan dalam pemberitaan berbagai media di Indonesia.

Sebagian besar tidak mengedepankan sekepakatan apa yang dicapai dalam KTT G7.

Bisa jadi, karena KTT G7 merupakan forum beranggotakan 7 negara industri maju, yakni Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia, Jepang, Kanada, dan Perancis.

Lalu, mereka mengundang Indonesia, Senegal, Argentina, India, dan Afrika Selatan sebagai negara mitra dalam pertemuan kali ini.

Selain itu, Indonesia tahun ini juga menjabat sebagai Presiden G20.

Yang pasti media-media di Indonesia lebih tertarik mengedepankan rangkulan Joe Biden dan tinju Boris Johnsons ke lengan Jokowi.

Sekilas memang kelihatan hal yang biasa dan ringan saja.

Namun, para pakar di tanah air memberi arti serius dari rangkulan Boden dan tinju Boris.

Siti Ruhaini Dzuhayatin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden menuliskan, keakraban Presiden Joko Widodo dengan para pemimpin dunia di Forum KTT G7, merupakan gestur penerimaan yang tulus dan memiliki kekuatan kepercayaan dari pemimpin negara-negara G7, terutama dari Presiden AS Joe Biden sebagai simbol dari kubu Barat.

“Memunculkan optimisme keberhasilan misi Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia.

” Dalam forum KTT itu, Presiden Jokowi mengajak negara-negara anggota G7 untuk berkontribusi memanfaatkan peluang investasi di sektor energi bersih di Indonesia.

Menurut Jokowi, potensi Indonesia sebagai kontributor energi bersih, baik di dalam perut bumi, di darat, maupun di laut, sangat besar.

Indonesia membutuhkan investasi besar dan teknologi rendah karbon untuk mendukung transisi menuju energi bersih yang cepat dan efektif.

"Indonesia membutuhkan setidaknya 25-30 miliar USD untuk transisi energi 8 tahun ke depan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved