Salam

Listrik Sering Padam, Kepercayaan Redup!

Hingga lebih dari 24 jam sejak listrik padam, publik belum mendapatkan penjelasan resmi tentang penyebab gangguan maupun estimasi waktu perbaikan

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/AGUS RAMADHAN
Ilustrasi listrik padam di kantor 

Pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari belasan jam di Banda Aceh dan Aceh Besar sejak Senin (29/9) hingga Selasa malam (30/9) tidak hanya menggelapkan rumah-rumah warga, tetapi juga menyisakan kekecewaan yang mendalam terhadap layanan publik yang semestinya bisa diandalkan.

Di tengah kehidupan modern yang sangat bergantung pada pasokan listrik, gangguan seperti ini tidak bisa dianggap sepele. Warga harus berpindah ke warung kopi (warkop) demi mendapatkan akses listrik dan jaringan, bahkan membawa keluarga hanya demi tempat yang lebih nyaman. 

Bagi sebagian warga, ini bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi hambatan nyata dalam menjalankan pekerjaan, aktivitas rumah tangga, hingga belajar bagi anak-anak. Sementara bagi para pelaku usaha, seperti pemilik warkop, pemadaman ini menjadi beban ganda. Di satu sisi harus tetap melayani pelanggan, di sisi lain menanggung biaya operasional tambahan seperti bensin genset dan risiko kerusakan alat elektronik.

Namun yang paling mengkhawatirkan bukanlah soal panasnya cuaca tanpa AC atau kipas angin, atau lamanya baterai handphone terisi. Yang paling memprihatinkan adalah tidak adanya komunikasi yang jelas dan terbuka dari PLN kepada masyarakat. 

Hingga lebih dari 24 jam sejak listrik padam, publik belum mendapatkan penjelasan resmi tentang penyebab gangguan maupun estimasi waktu perbaikan. Padahal, transparansi informasi adalah bagian dari pelayanan publik yang bertanggung jawab. 

Keheningan dalam krisis justru memperburuk situasi, menimbulkan spekulasi, dan menggerus kepercayaan masyarakat. Sudah saatnya PLN berbenah, bukan hanya dalam aspek teknis, tetapi juga dalam hal komunikasi krisis dan kepedulian terhadap dampak sosial. 

Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang profesional, cepat tanggap, dan terbuka. Kita semua bisa menerima bahwa gangguan bisa terjadi. Tapi publik tidak akan bisa menerima ketika gangguan dibiarkan tanpa arah, tanpa kepastian, dan tanpa penjelasan.

Sebelumnya diberitakan, dampak dari padamnya listrik yang sudah belasan jam, membuat banyak dari masyarakat Banda Aceh memilih pergI ke warung kopi alias warkop. Hal itu mereka lakukan guna mendapat akses listrik untuk mengisi daya handphone, Selasa (30/9/2025).

Pasalnya hingga pukul 20.30 Wib, listrik yang padam sejak Senin (29/9) malam hingga kini belum kembali hidup. Banyak warga khususnya di Banda Aceh dan Aceh Besar merasa kecewa lantaran aktivitas mereka terhambat.

Mereka mempertanyakan kepada pihak PLN apa penyebab utama gangguan listrik yabg terjadi sejak Senin (29/9) pukul 16.30 Wib sore hingga kini belum juga teratasi.

Ulfa Jazila salah seorang warga Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, mengaku listrik di kawasan tersebut sudah padam sejak pukul 00.30 Wib dini hari. Akibat padamnya listrik tersebut, pekerjaan rumah terganggu. 

Deni pemilik Warkop Taufik Kopi mengaku akibat listrik yang padam membuat omzet pendapatan usahanya merugi. Ia harus mengeluarkan cosh lebih untuk membeli bensin. “Rugi kita mulai dari alat elektronik rusak hingga bensin. Hari ini saja sudah Rp 400 ribu habis untuk beli bensin," katanya. Nah?

 

POJOK

Aliansi PPPK Aceh desak percepat unggah daftar riwayat hidup

Jangan salah, tak semua kisah hidup menyenangkan, tahu?

Pengacara Razman Nasution dihukum 1,5 tahun penjara

Makanya, sesama pengacara jangan saling mengganggu, kan?

Investor dijamin aman dan nyaman masuk Aceh, kata Kapolda

Tapi kondisi listrik sering jadi masalah kan, Pak?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved