Breaking News:

Kisah Firman, Co-Founder Startup Asal Aceh Raih Omzet Miliaran, Dulu Hampir Tewas Diterjang Tsunami

Firmansyah Asnawi, Co-Founder & COO PT Amanah Karya Indonesia dan PT Bisatopup Teknologi Indonesia. Pernah diterjang tsunami, kini omzet miliaran.

Penulis: Sara Masroni | Editor: Amirullah
YouTube PecahTelur
Firmansyah Asnawi, pria asal Banda Aceh yang kini jadi Co-Founder sekaligus COO PT Amanah Karya Indonesia dan PT Bisatopup Teknologi Indonesia. Pernah diterjang tsunami dan kini raih omzet miliaran per bulan. 

Tepatnya pada 26 Desember, cerita pahit harus dialaminya terombang-ambing dibawa gelombang tsunami sejauh 3 Km dari Gampong Deah Baro sampai ke Punge dekat kapal PLTD Apung bersemayam.

Ia juga harus mengikhlaskan orang tua serta keluarganya dalam musibah itu.

Awalnya pada Minggu pagi, Firman baru saja melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid bersama teman-teman seusianya.

Ia lalu pulang ke rumah karena persiapan menonton film kartun di televisi, budaya setiap hari Minggu yang sulit dilupakan kala itu.

Firman kemudian duduk di sofa untuk persiapan menonton,. namun tiba-tiba lemari kaca di sampingnya bergetar hebat.

"Awalnya saya kira diisengin sama kakak, ternyata tidak ada yang pegang (menggerakkan)," kenang Firman sebagaimana dikutip Serambinews.com dari tayangan YouTube PecahTelur, Jumat (15/7/2022).

Karena berada di sofa, ia pun tak begitu merasakan guncangan dahsyat gempa sebelum beberapa menit jelang tsunami pagi itu.

Namun ketika berdiri dan menginjakkan kaki ke lantai, ia baru terasa bahwa guncangan bumi begitu dahsyat, terakhir diketahui berkekuatan 9,1 skala richter.

Semua panik berhamburan ke jalan. Firman yang merupakan anak ke-7 dari 8 bersaudara sempat dengan sangat pedenya berdiri saat diayak gempa.

Namun kembali berjongkok dan memegang tanah sangking tak kuasanya menahan ayakan gempa yang begitu dahsyat kala itu.

Ayah Firman saat itu sedang dinas di luar kota, tepatnya di Meulaboh. Sedangkan dua abangnya sedang di Jakarta dan seorang kakaknya di Batam, sudah berkeluarga di sana.

Rumahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari pelabuhan Ulee Lheue, Firman melihat jelas orang-orang yang berdekatan dengan laut tiba-tiba berlari sambil berteriak air surut.

"Saya bingung kenapa air surut harus lari. Kalaupun banjir, belum pernah kejadian di sini ada banjir. Dan saya bisa berenang," pikirnya dengan pede kala itu.

Kakak dan adiknya yang di rumah pada berlarian menjauh dari sekitar laut.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved