Sabtu, 9 Mei 2026

536 Desa di Aceh Belum Miliki Akses Internet, Kondisi Geografis Daerah Jadi Penyebab

Banyaknya desa belum terakses internet tersebut dipengaruhi kondisi geografis daerah yang banyak perbukitan, sehingga mengganggu kualitas jaringan.

Tayang:
for serambinews.com
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Aceh Marwan Nusuf, BHSc.MA 

 


SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Aceh mencatat sebanyak 536 dari 6.497 desa di Serambi Mekkah belum memiliki akses internet.

Dari 23 kabupaten/kota, tiga daerah yang paling banyak desanya belum terakses internet (kategori merah) yakni Kabupaten Simeulue, Aceh Jaya, dan Gayo Lues.

"Saat ini ada 536 desa yang belum bisa mengakses internet atau 12 persen dari jumlah desa di Aceh," kata Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Aceh Marwan Nusuf, BHSc.MA didampingi Kabid Layanan e-government Diskominfo Aceh Hendri Dermawan, di Banda Aceh, Minggu (25/7/2022).

Marwan menyebutkan, dari 536 desa tersebut, ada 387 desa yang sudah memiliki sinyal G/2G, namun belum dapat mengakses internet. Kemudian 149 desa lainnya masuk kategori blankspot alias tidak ada sinyal dan internet.

Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, kata Marwan, terdapat tiga daerah yang paling banyak desanya belum terakses internet (kategori merah) yakni Kabupaten Simeulue, Aceh Jaya, dan Gayo Lues.

Dirincikan, di Kabupaten Simeulue masih ada 96 desa yang belum memiliki akses internet (jumlah desa 138), kemudian di Aceh Jaya 98 desa (172) dan di Gayo Lues 77 desa (136).

"Daerah kabupaten lain juga ada desanya yang belum memiliki akses internet, tetapi tidak banyak (kategori kuning dan hijau)," ujarnya.

Baca juga: Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi di Pidie belum Siap, Suplai Air ke Sawah Petani Terganggu 

Baca juga: Open Tournament Tenis Pangdam I/BB Berakhir, Regu ATCG Banda Aceh Runner-Up

Baca juga: Mitos Perkawinan Berujung Maut, Pengantin Pria Meregang Nyawa Dibalbal Teman dan Tamu Undangan

Dikatakan, banyaknya desa di Aceh belum terakses internet tersebut dipengaruhi kondisi geografis daerah yang banyak perbukitan, sehingga mengganggu kualitas jaringan.

Dirinya mencontohkan, jika salah satu provider memasang tower jaringannya di salah satu tempat dengan jangkauan lima kilometer, itu belum tentu menjangkau daerah terdekat yang letak di bawah perbukitan.

"Kalau letak desanya di bawah belum tentu dapat jaringan, malah kemungkinan didapatkan desa yang lebih jauh kalau ketinggiannya sama. Jadi kondisi geografis mempengaruhi," katanya.

Marwan menyampaikan, untuk daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) Kementerian Kominfo masih dapat membantu memberikan akses internet cepat melalui program Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI).

Sedangkan untuk daerah non 3T juga dapat melaporkannya ke Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo. Hanya saja prosesnya lama karena banyaknya desa yang harus ditangani. "Karena itu, pemerintah daerah perlu melaporkannya ke Kominfo terkait kondisi internet di daerah, karena kewenangannya memang di pusat," ujarnya.

Baca juga: Prof Marwan Resmi Jadi Rektor USK, Gubernur Ucap Selamat

Baca juga: Website tak Bisa Diakses, Diskop Upload Proposal Bantuan Dana UMKM Tahap 2 di FB Diskominfo, Kenapa?

Baca juga: Jaringan Internet Terganggu di Gayo Lues

Jika butuh proses cepat pemerintah daerah juga dapat berkolaborasi langsung dengan pihak provider untuk menyediakan akses internet di wilayahnya, karena mereka bisa membantu.

"Untuk teknisnya dapat dibicarakan bersama," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved