Breaking News:

Berita Banda Aceh

Pupuk Subsidi di Aceh Masih Tersedia, Ini Harganya, Permintaan Pupuk Non-Subsidi Rendah

Hal ini setidaknya disampaikan pedagang pupuk subsidi dan nonsubsisidi di Pasar Lambaro, Aceh Besar, Ibnu

Penulis: Herianto | Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Kadistanbun Aceh, Cut Huzaimah bersama rombongannya, Selasa (26/1/2022), saat di persawahan di Pidie yang terkena banjir beberapa waktu lalu. 

Hal ini setidaknya disampaikan pedagang pupuk subsidi dan nonsubsisidi di Pasar Lambaro, Aceh Besar, Ibnu

Laporan Herianto | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Para pedagang pupuk di Pasar Lambaro, Aceh Besar, menyatakan permintaan pupuk nonsubsidi jenis urea dan NPK sekarang ini sangat rendah.

Artinya jumlah permintaan pupuk nonsubsidi saat musim tanam padi gadu ini sangat rendah dibanding saat musim tanam padi rendeng sebelumnya.

Hal ini setidaknya disampaikan pedagang pupuk subsidi dan nonsubsisidi di Pasar Lambaro, Aceh Besar, Ibnu kepada Serambinews.com, Jumat (5/8/2022). 

“Kalau musim tanam padi rendeng per hari bisa laku 5 – 10 zak, pada musim tanam padi gadu ini per hari paling 2 sampai  3 zak saja,” kata Ibnu. 

Ibnu mengatakan bulan ini dirinya menebus pupuk urea subsidi 5 ton (100 zak) dan NPK subsidi 2 ton (40 zak).

Pupuk urea subsidi dan NPK subsidi yang ditebusnya, sudah ada pemiliknya, yaitu anggota kelompok tani di Kecamtan Inggin Jaya, Aceh Besar.

Mereka menanam padi pada musim tanam padi gadu sejak bulan Juli dan Agustus 2022.

Baca juga: Stok Pupuk Subsidi NPK di Aceh Menipis

Harga pupuk subsidi

Sementara itu, harga jual pupuk urea subsidi kepada anggota kelompok tani sangat murah atau hanya Rp 112.500/zak (50 Kg), NPK subsidi Rp 115.000/zak (50 Kg).

Sedangkan untuk pupuk subsidi jenis lainnya, seperti ZA, organik granual, organik cair, dan NPK Khusus, tidak kita tebus, karena daya belinya sangat rendah.

Jenis pupuk subsidi, yang kita tebus dari penyalur pada musim tanam padi gadu ini, sebut Ibnu, yang permintannya tinggi, yaitu  pupuk urea dan NPK.

Harga pupuk subsidi lainnya, juga murah, tapi karena permintaannya rendah, tidak ditebus.

Seperti SP 36 harga tebus hanya Rp 120.000/Kg (50 Kg), ZA Rp 85.000/zak (50 Kg), organik granual Rp 40.000/sak (50 Kg), organik cair Rp 20.000/liter dan NPK Khusus Rp 3.300/Kg.

Baca juga: Petani Menjerit karena Pupuk Subsidi Menghilang, Kementan Siapkan Asuransi untuk Petani

Pedagang pupuk nonsubsidi lainnya, Mahdi mengatakan, daya beli pupuk nonsubsidi jenis urea dan NPK, pada musim tanam padi gadu tahun ini sangat rendah.

Pada minggu pertama Agustus ini, sudah masuk tahapan pemupukan bagi tanaman padi yang sudah ditanam dua minggu. Tapi permintaan pupuk urea dan NPK non subsidi masih sedikit.

Menurut Mahdi, ada beberapa hal yang menjadi faktor rendahnya permintaan pupuk nonsubsidi pada musim tanam gadu tahun 2022.

Pertama target luas areal tanam padi pada musim tanam gadu, berkurang sekitar 50 – 60 persen dari target tanam padi rendeng.

Hal ini disebabkan, sehubungan dengan volume air yang tersedia pada saluran irigasi sudah berkurang.

Baca juga: PT Pupuk Indonesia Gelar Rakor & Pembinaan Kios Pupuk Subsidi, Ingatkan Pentingnya Administrasi

Jangkauannya tidak lagi sampai ke ujung suluran pembagi, karena debit airnya pada musim tanam padi gadu sudah menurun setengah lebih dari kondisi normalnya pada saat tanam padi rendeng.  

Kalau pada musim tanam padi rendeng, menurut penjelasan, penjaga pintu air irigasi kepada kami, kata Ibnu,  debit air di saluran bendungan irigasi mencapai sebesar 6 – 7 meter kubit/detik.

Pada musim tanama padi gadu ini, turun menjadi 40 persen, dari kondisi normal pada musim tanam rendeng menjadi 2,8 meter kubik/detik.

“Karena tekanan dan volume air yang tersedia di saluran induk irigasi telah menurun, otomatis luas areal sawah yang bisa dijangkau air irigasi jadi terbatas,”ujar Ibnu.

Faktor kedua, ungkap Mahdi dan Ibnu, harga pupuk  nonsubsidi dari berbagai jenis saat ini sudah melambung tinggi.

Pupuk urea non subsidi harganya sudah mencapai Rp 580.000/sak, empat kali di atas harga pupuk urea subsidi yang hanya Rp 112.500/sak .

Begitu juga dengan pupuk NPK non subsidi lebih mahal lagi mencapai Rp 830.000/sak (50 Kg). TSP non subsidi Rp 900.000/sak (50 Kg) dan KCL non subsidi Rp 989.000/sak (50 Kg).

Yang membeli pupuk nonsubsidi saat ini, kata Mahdi, pada umumnya pemilik kebun kelapa sawit dan lainnya.

Pada saat harga TBS sawit di atas Rp 2.000/Kg, pada bulan Januari – April 2022 lalu, permintaan pupuk nonsubsidi jenis urea, NPK dan lainnya, dari pekebun kelapa sawit sangat tinggi.

Setelah harga TBS sawit pada bulan Juni dan Juli lalu, turun menjadi Rp 800 – Rp 1.200/Kg, permintaan pupuk non subsidi dari kalangan pekebun kelapa sawit sudah menurun.

Kondisi itu disebabkan, menurut petani sawit, antara harga jual TBS sawit dengan kenaikan lonjakan harga pupuk non subsidi, sudah tidak sebanding lagi, lebih tinggi kenaikan harga pupuknya, ketimbang TBS sawitnya.

Stok pupuk subsidi

Kadis Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah, yang dimintai tanggapannya terkait penyediaan pupuk subsidi di Aceh untuk tanaman padi mengatakan hingga  Agustus ini, persediaan pupuk untuk tanaman padi gadu masih ada, tapi alokasinya sudah tidak penuh lagi.

Stok pupuk urea tinggal 35 persen lagi atau sekitar 28.157 ton dari alokasi awalnya 80.443 ton.

Begitu juga stok pupuk NPK. Stoknya lebih kecil lagi sekitar 15.709 ton lagi, dari alokasi awalnya 42.932 ton.

Dua jenis pupuk ini, sangat dibutuhkan petani, untuk percepatan pertumbuhan anakan padi.

Cut Huzaimah mengatakan, pada musim tanam padi gadu, permintaan pupuk tidak setinggi pada musim tanam rendeng.

Alasannya, luas areal tanam padinya pada musim tanam padi gadu ini, lebih sedikit dibanding tanam padi rendeng.

Kemudian,  penyediaan air irigasi di musim panas atau kemarau volumenya berkurang, sehingga target areal sawah yang bisa dialiri air irigasi, turun menjadi 40 – 50 persen.

Namun begitu, kata Cut Huzaimah, di beberapa daerah sentra produksi padi di Aceh, seperti di Aceh Besar, Pidie, Pijay, Aceh Utara yang memiliki banyak bendungan irigasi, petani padinya banyak yang berspekulasi tanam padi.

Kalau bisa panen sampai bulan September, kelompok tani padi menyatakan rezeki dan alhamdulillah.

Tapi kalau tidak bisa panen, mereka katakan, sudah resiko tanam padi gadu, di daerah yang tidak dizinkan pihak pengelola bendungan irigasi.

Alasannya, karena debit air irigasinya pada musim tanam padi gadu, sudah menurun.

“Kondisi itu tadi, yang membuat permintaan pupuk pada musim tanam padi gadu ini (musim kemarau/panas), tidak sebanyak pada musim tanam padi rendeng (musim penghujan),”ujar Cut Huzaimah. (*)              

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved