Kupi Beungoh

Daun Capa atau Blumea balsamifera L, Tanaman Obat Tradisional Aceh Kini Mendunia

Daun Capa Aceh mampu melampaui efektivitas salah satu obat yang selama ini digunakan untuk menyembuhkan luka.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Peneliti bidang Kesehatan Masyarakat, Universitas Serambi Mekkah yang juga sebagai Alumni Prodi DMAS-USK, Dr Masyudi S Kep Ners M Kes. 

Dr Masyudi S Kep Ners M Kes*)

Tanaman capa telah lama digunakan sebagai bahan obat tradisonal oleh masayarakat di Aceh Khususnya di Aceh Selatan.

Maksud penggunaan tanaman ini untuk mengobati berbagai penyakit seperti diare, gatal gatal, sesak nafas dan juga untuk menyembuhkan luka.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis pada tahun 2017 diketahui Bidan Tradisional (Mablien) di Aceh Selatan menggunakan daun capa sebagai salah satu rempah yang menjadi bahan membuat obat minum pada ibu nifas.

Maksud pemberian ramuan minuman ini agar ibu nifas cepat pulih dari luka dalam setelah melahirkan.

Di Aceh masa nifas dikenal dengan istilah Duek dapue pada ibu setelah melahirkan selama 42 hari.

Pada tahun 2019 penulis kemudian melanjutkan studi Doktor di Prodi DMAS-Pasca Sarjana Unsyiah dan melanjutkan penelitiannya tentang khasiat tanaman capa sebagai obat luka.

Dalam penelitian kali ini efektifitas daun capa dalam menyembuhkan luka diformulasikan kedalam sediaan gel yang diaplikasikan secara topical (obat oles luar) dengan uji experimental di laboratorium.

Hasilnya menakjubkan, daun Capa Aceh mampu melampaui efektivitas salah satu obat yang selama ini digunakan untuk menyembuhkan luka.

Hasil ini kemudian berhasil mendapatkan pengakuan dengan dipublish pada jurnal ilmiah terindex scopus pada quartal Q1 dan Q3 dan akan menjadi bahan rujukan penelitian para peneliti dunia.

Dengan terpublisnya pada jurnal ilmiah bereputasi ini maka dapat dikatakan daun capa Aceh telah mendunia.

Jika ditelusuri dari jurnal ilmiah tanaman capa ini memiliki nama latin (Blumea balsamifera), di beberapa wilayah lain di indonesia, daun ini dikenal dengan nama daun sembung.

Penelusuran penulis, ternyata daun capa juga telah popular di berbagai negara sebagai obat tradisional, antara lain di Malaysia, Filipina, China, Bangladesh dan India.

Balangcod et al., dalam penelitiannya di tahun 2012 telah mengidentifikasi kandungan fitokimia daun capa dari Bangladesh yaitu flavonoid, alkaloid, treroid, tanin, dan glikosida.

Demikian juga dengan penelitian Pang et al., tahun 2017 dengan daun capa yang diambil dari China menunjukkan hasil uji fitokimia daun capa China mengandung lebih dari 100 bahan kimia seperti minyak atsiri, flavonoid, alkohol, dihydroflavonol, sterol, asam organik, monoterpen, sesquiterpene dan triterpenoid.

Senyawa senyawa tersebut dibutuhkan sebagai senyawa aktif untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Lalu bagaimana dengan daun capa Aceh?

Ternyata senyawa senyawa berkhasiat tersebut juga terdapat dalam daun capa yang berasal dari Aceh, sebagaimana penulis telah melakukan identifikasi.

Daun capa merupakan satu diantara banyak tanaman obat yang telah lama digunakan oleh masyarakat Aceh sejak lama.

Ada banyak jenis tanaman lain, seperti boh keumude (mengkudu) yang dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah penderita diabetes.

Daun serapoh untuk obat penetralisir asam lambung, tanaman pala untuk mengatasi bengkak, boh limeng sagoe (belimbing) untuk menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Sementara daun induk kunyit untuk mengobati orang seumapa (pingsan) dan masih banyak lagi yang lainnya yang perlu dilakukan kajian ilmiah sehingga memberikan informasi kepastian khasiat dari tanaman tanaman tersebut untuk kesehatan masyarakat.

Disisi lain World Health Organization (WHO) dalam buku Traditional Medicine strategy 2014-2023 yang dikeluarkan pada desember 2013, merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit.

Artinya bahan obat alam yang digunakan secara tradisional memiliki peluang dan potensi untuk dikembangkan tentunya dengan kajian lanjutan sehingga memiliki nilai yang tinggi.

Upaya pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk memandirikan masyarakat dan salah satu upaya tersebut adalah pengembangan asuhan mandiri pemanfaatan taman obat keluarga (TOGA) dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan dan mewujudkan keluarga sehat.

Program ini telah digalakkan oleh pemerintah melalui Kementerian kesehatan, yang selanjutnya di implementasikan hingga ke tingkat Puskesmas dan masyarakat.

Melalui program ini diharapkan kita dapat menghidupkan kembali semangat masyarakat untuk menggunakan kembali tumbuhan obat tradisional terutama dari masyarakat Aceh.

*) PENULIS adalah seorang Peneliti bidang Kesehatan Masyarakat, Universitas Serambi Mekkah yang juga sebagai Alumni Prodi DMAS-USK.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved