Breaking News:

Internasional

Peringatan Satu Tahun Taliban Berkuasa, Mantan Presiden Ashraf Ghani Tidak Ingin Dipermalukan Lagi

Dua mantan presiden Afghanistan telah memberikan wawancara luas untuk menandai HUT pertama jatuhnya ibu kota negara itu, Kabul ke tangan Taliban.

Editor: M Nur Pakar
AP
Mantan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Dua mantan presiden Afghanistan telah memberikan wawancara luas untuk menandai HUT pertama jatuhnya ibu kota negara itu, Kabul ke tangan Taliban.

Taliban merebut kota itu pada 15 Agustus 2021 di tengah sedikit perlawanan, ketika pemerintah yang didukung Barat runtuh.

Bahkan, ribuan pasukan tentara nasional menyerah saat Taliban dengan cepat mengambil alih kendali.

Berbicara secara terpisah kepada media AS dan Jerman, Ashraf Ghani dan Hamid Karzai mengkritik penarikan pasukan AS dari negara itu awal tahun lalu, seperti dilansir AP, Senin (15/8/2022).

Ghani, presiden Afghanistan dari 2014 hingga Taliban berkuasa, juga membela keputusannya untuk melarikan diri dari Kabul saat pemberontak mengepung ibu kota.

Dia dikritik habis-habisan karena pergi, tetapi mengatakan kepada CNN, menteri pertahanannya mengatakan kota itu tidak bisa lagi dipertahankan.

Baca juga: 180 Guru British Council Masih Terjebak di Afghanistan, Terancam Dihukum Oleh Taliban

"Alasan saya pergi, karena saya tidak ingin memberikan kesenangan kepada Taliban dan pendukung mereka untuk sekali lagi mempermalukan seorang presiden Afghanistan," kata Ghani.

Dia merujuk pada mantan presiden Mohammad Najibullah, yang menjabat dari 1986 hingga 1992.

Pemimpin era komunis itu ditangkap, disiksa dan dibunuh oleh Taliban ketika merebut Kabul pada tahun 1996.

"Saya tidak pernah takut," tegas Ghani.

"Aku yang terakhir pergi," tambahnya.

Pria berusia 73 tahun itu juga mengatakan lingkungan sekitarnya di Arg, istana kepresidenan Afghanistan, menjadi tidak aman.

Baca juga: Pemimpin Taliban Minta Dunia Jangan Ikut Campur Mengenai Hukum Syariah di Afghanistan

Dia menuduh, salah satu juru masaknya di kediaman telah ditawari $100.000 (£82.443) untuk meracuninya.

Tetapi Ghani, yang sekarang tinggal di pengasingan di Uni Emirat Arab, menyerang kurangnya dukungan Barat untuk pemerintahnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved