Breaking News:

Berita Aceh Barat

Miris! Nelayan Korban Kecelakaan di Laut Tanggung Sendiri Biaya Kerusakan & Berobat, Ini Penyebabnya

“Akibat belum ada asuransi, tentu saat mengalami musibah harus menanggung sendiri, karena nelayannya hingga kini tidak memiliki asuransi,” kata Nanda.

Penulis: Sa'dul Bahri | Editor: Saifullah
For Serambinews.com
Sekjen Panglima Laot Aceh Barat, Nanda Ferdiansyah. 

Laporan Sa'dul Bahri | Aceh Barat

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Nelayan Aceh Barat yang menjadi korban kecelakaan di perairan laut Simeulue diduga tidak memiliki asuransi atau tidak punya kartu BPJS Ketenagakerjaan.

Imbasnya, kerusakan kapal dan untuk biaya berobat harus mereka tanggung sendiri lantaran klaim asuransi tidak bisa diajukan.

Praktis, kondisi tersebut sangat memprihatinkan dan membuat nelayan Aceh Barat itu makin terjepit.

Sekjen Panglima Laot Aceh Barat, Nanda Ferdiansyah kepada Serambinews.com, Minggu (28/8/2022), menyesali sikap perusahaan yang belum merealisasi janjinya untuk mengasuransikan nelayan Aceh Barat melalui dana CSR PT Mifa Bersaudara.

“Akibat belum ada asuransi, tentu saat mengalami musibah harus menanggung sendiri, karena nelayannya hingga kini tidak memiliki asuransi,” kata Nanda.

Ia menjelaskan, hal tersebut terjadi akibat pihak perusahaan yang telah berjanji untuk membayar asuransi para nelayan Aceh Barat sejak tahun 2021 hingga tahun 2022, belum juga ada realisasinya.

Baca juga: Kapal Nelayan Aceh Barat Tenggelam di Kawasan Perairan Simeulue

Kondisi tersebut menyebabkan pihak nelayan jadi terkatung-katung, dan hingga kini belum bisa mendapatkan klaim asuransi dari BPJS Ketenagakerjaan jika mengalami musibah seperti saat ini.

Disebutkan dia, tiga nelayan yang mengalami musibah kecelakaan di laut yakni Mimi (40), kapten Kapal KM Dian 50.

Dua nelayan lainnya yaitu, 2 orang ABK masing-masing Syahril (33), dan Syawal (30), ketiganya warga Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat yang tenggelam sekitar pukul 08.00 WIB, di perairan Simeulue pada Minggu (28/8/2022).

“Janji PT Mifa untuk membayar asuransi terhadap nelayan kita di Aceh Barat melalui dana CSR belum direalisasi,” ungkap Nanda.

Pihaknya mengaku telah mendapatkan konfirmasi dari pihak BPJS Ketenagakerjaan Meulaboh, bahwa untuk data daftar nelayan yang akan dilindungi sudah diserahkan ke PT Mifa sejak tahun 2021 lalu, namun belum ada realisasi.

Dikatakannya, bahwa dari keterangan diperoleh pihak Panglima Laot, bahwa pihak BPJS Ketenagakerjaan juga telah melakukan koordinasi dengan PT Mifa melalui bidang CSR.

Baca juga: Diterjang Badai Saat Ditambatkan, Perahu Nelayan di Simeulue Hancur 

“Dari informasi yang diterima oleh BPJS dari pihak PT Mifa, sampai saat ini belum ada kepastian kapan pendaftaran bagi nelayan Aceh Barat akan dilakukan,” sebutnya.

Ia menambahkan, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi nelayan akan terlaksana jika dari PT Mifa sudah merealisasikan CSR-nya tersebut.

“Namun kapan itu bisa direalisasikan semuanya tergantung dari PT Mifa,” tukasnya.

“Jika memang PT Mifa ingkar janji, kami dari pihak lembaga Panglima Laot bersama nelayan akan mencari jalan sendiri,” tandas dia.

Baca juga: Jatuh dari Boat Saat Pulang Melaut, Dua Nelayan Aceh Jaya Tenggelam, Satu Orang Selamat & 1 Hilang

“Seharusnya perusahaan jangan mengabaikan kepentingan nelayan Aceh Barat,” tegas Nanda.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved