Breaking News:

Mihrab

Dayah Sebagai Pusat Pembentukkan Karakter, Simak Penjelasan Tgk Suhaimi

“Pola pembelajaran secara tradisional ini dianggap ampuh untuk mengajarkan kitab-kitab klasik bermazhab Syafi’i sebagai pembelajaran utama di Dayah,”

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Taufik Hidayat
FOR SERAMBINEWS.COM
Tgk Suhaimi SAg MAg, Pengurus DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh. 

Dayah Sebagai Pusat Pembentukkan Karakter, Simak Penjelasan Tgk Suhaimi

SERAMBINEWS.COM - Dayah di Aceh merupakan lembaga pendidikan non formal yang telah berlangsung lama ditengah masyarakat. Proses pembelajarannya secara tradisional telah mampu membimbing umat untuk mendalami ilmu-ilmu agama dan mengamalkanya.

Dayah masih menggunakan kurikulum turast (kitab kuning klasik, Arab gundul) dan menggunakan pola tradisional dalam pembelajarannya.

“Pola pembelajaran secara tradisional ini dianggap ampuh untuk mengajarkan kitab-kitab klasik bermazhab Syafi’i sebagai pembelajaran utama di Dayah,” kata Tgk Suhaimy S,Pd SH, M,Pd, pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh.

Menurutnya, tujuan pendidikan dayah adalah untuk membentuk watak, pembinaan sikap, karakter, akhlakul karimah, yang diharapkan menjadi tumpuan penyiapan generasi masa depan.

Baca juga: Hukum Perempuan Antar Jenazah dan Berziarah Kubur - Konsultasi Agama Islam

Dayah telah terbukti sebagai benteng pertahanan aqidah umat dan mampu memperjuangkan dan mempertahankan bangsa dan negara.

Dayah sangat identik dengan pembelajaran kitab kuning. Pembelajaran kitab kuning di dayah sebagai warisan Ulama yang selalu dipelajari dari dahulu hingga sekarang.

Kitab kuning ini selalu dipelajari secara terus menerus secara konsisten, masif dan simultan. Hal ini dapat ditemukan pada proses pembelajaran di dayah yang mempelajari kitab kuning di siang hari maupun malam.

“Para santri begitu sangat akrab dengan pembelajaran kitab kuning yang terdiri banyak dari khazanah ilmu pengetahuan mulai dari fiqh, tauhid, akhlak tsawuf, nahu saraf dan lain-lain,” terang Pengasuh Asrama Putra Dayah Al-Athiyah, Banda Aceh ini.

Dinamakan kitab kuning karena memang kertas yang digunakan dalam kitab-kitab tersebut berwarna kuning. Maklum saja istilah ini bertujuan memudahkan orang dalam menyebut.

Baca juga: Forum Pemuda Desak Kejari Aceh Utara Tuntaskan Usut Dugaan Korupsi Monumen Islam Samudera Pasai

Sebutan kitab kuning ini adalah khas Indonesia, ada juga yang menyebutnya kitab gundul. Ini karena disandarkan pada kata perkata dalam kitab yang tidak berharokat, bahkan tidak ada tanda bacanya sama sekali, tak seperti layaknya kitab-kitab belakangan.

Dalam pembelajaran kitab kuning, para tengku-tengku di Dayah memiliki kemampuan oral yang kuat dalam menjelaskan isi kitab. Kemampuan tersebut merupakan buah dari penguasaan terhadap ilmu Nahwu yaitu; saraf jurumiyyāh, al-‘imritī, al maksud, dan alfiyyāh.

Tgk Suhaimi mengatakan, melalui pembelajaran kitab kuning di Dayah, terdapat berapa karakter yang dapat terbentuk. Diantaranya adalah karakter religius, karakter karakter toleransi, karakter disiplin, karakter kerja keras, karakter kreatif, karakter mandiri dan karakter rasa ingin tahu. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved