Breaking News:

Berita Banda Aceh

Kasus Dugaan Korupsi Tsunami Cup, Jaksa Tahan M Zaini, Pengacara Nilai Alasan Penahanan Tidak Tepat

Adik mantan Gubenur Aceh, Irwandi Yusuf, itu ditahan setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pelaksanaan turnamen

Editor: bakri

“Klien kami juga sangat koperatif dalam proses penyidikan.

Buktinya, klien kami hadir saat diperiksa.

Apalagi, penyidik tetap menggunakan hasil audit yang sama untuk klien kami seperti audit terhadap tersangka sebelumnya,” urai dia.

Meskipun itu kewenangan subjektif dari penyidik, lanjut Zaini Djalil, tapi alasan objektifnya juga harus dikedepankan.

Baca juga: Lama Menghilang, Kini Kasus Dugaan Korupsi Tsunami Cup 2017 Sedang Diaudit  BPKP Aceh

Apalagi, sambung Zaini, kliennya baru pertama diperiksa sebagai tersangka terkait kasus yang sudah pernah diadili dan sudah ada terpidananya.

“Kami juga sudah mengajukan permohonan agar klien kami tidak ditahan/penangguhan penahanan dengan jaminan keluarga,” ucap Zaini Djalil.

Terkait dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pengelolaan AWSC 2017 dimana Muhammad Zaini diduga menerima dana Rp 730 juta, menurut Zaini Djalil, hal itu sangatlah tidak benar.

Sebab, uang tersebut merupakan pembayaran utang kepada Muhammad Zaini yang awalnya memberi pinjaman kepada panitia melalui Saadan untuk mendukung suksesnya kegiatan tersebut.

Sebab, kata Zaini Djalil.saat itu belum ada pencairan dana dari Pemerintah Aceh.Apalagi, sebut Zaini Djalil, uang pinjaman dari kliennya Rp 2.650.000.000 itu sudah terbukti di persidangan, yang sesuai dengan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh Nomor: 2/Pid.Sus-TPK/2022/PN Bna.

Dimana, majelis hakim dalam pertimbangannya menyebutkan “Menimbang bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan tersebut, terdakwa Moh Saadan bin Abidin selaku Ketua Panitia AWSC sudah meminjam uang melalui Muhammad Zaini sejumlah Rp 2.650.000.000

” Jika penyidik beralasan bahwa pembayaran uang tersebut bersumber dari pembayaran hak siar dari PSSI dan tidak melalui mekanisme pengelolaan keuangan negara, Zaini Djalil menyatakan hal itu bukanlah tanggung jawab kliennya, tapi tanggung jawab panitia dalam hal ini terpidana Saadan dan Simon sebagai penerima dan PSSI sebagai pihak pemberi yang mentransfer ke rekening Saadan dan Simon.

“Sementara klien kami (Muhammad Zaini) adalah orang yang menerima pembayaran piutang dari Panitia AWSC dan itu pun masih ada sisa sebesar Rp 1.920.000.000 pinjaman yang belum terbayar dari panitia kepada klien kami.

Sebenarnya, dalam hal ini klien kami merupakan korban,” urai Zaini Djalil.

Karena itu, ia berharap perkara tersebut dapat segera dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor pada PN Banda Aceh karena semua barang bukti sudh dimiliki oleh penyidik atas dasar perkara sebelumnya Nomor: 2/Pid.Sus-TPK/2022/PN Bna sesuai dengan asas peradilan pidana “peradilan cepat dan biaya ringan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved