Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Membongkar Bjorka di Sekolah

Bjorka bukan satu-satunya hacker Indonesia yang membuat seantero negeri beralih perhatian pada mereka

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
KHAIRUDDIN SPd MPd, Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli, Microsoft Educator Certied, Microsoft Innovative Education Expert 

OLEH KHAIRUDDIN SPd MPd, Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli, Microsoft Educator Certied, Microsoft Innovative Education Expert

ANAK-ANAK muda underground kembali membuat kegaduhan negeri ini.

Bjorka bukan satu-satunya hacker Indonesia yang membuat seantero negeri beralih perhatian pada mereka.

Tercatat beberapa hacker Indonesia berhasil mengacaukan sistem keamanan data dan sebagian mereka meraup untung secara finansial, meski sebagian yang lain hanya bertujuan meretas saja.

Saya meyakini Bjorka hacker berasal dari Indonesia.

Seperti juga para hacker Indonesia yang lain, kemampuan komputer Bjorka tidak boleh dipandang sederhana.

Namun pengetahuan mereka diyakini bukan berasal dari pendidikan formal di sekolah.

Mereka anak-anak yang bergerak di bawah tanah, memiliki komunitas dan tentu saja memiliki persaingan sesama mereka.

Kadang mereka tidak bertujuan meraup uang atau memeras, sekadar menunjukkan pada komunitas bahwa mereka sanggup meretas.

Bisa sekadar prestise, bisa saja sekadar memperoleh sensasi meski ada juga sebagian yang dapat meraup sejumlah cuan.

Baca juga: Bantu Hacker Bjorka, Polri Jerat Agung Pria Madiun dengan 4 Pasal UU ITE, Terancam 8 Tahun Penjara

Baca juga: Cerita Agung Pemuda Madiun Awal Mula Kenal Sosok Bjorka, Kini Jadi Tersangka dan Wajib Lapor

Sebut saja baru-baru ini setelah Bjorka, muncul hacker Indonesia yang membobol sistem keamanan data sebuah perusahaan anak Pertamina.

Hacker yang menamai dirinya Desorden tersebut mengambil hanya 1,6 GB data dan source code-nya.

Lalu buat apa setelahnya? Terkadang mereka hanya ingin pembuktian pengetahuan saja seperti yang dilakukan oleh Sultan Haikal pada tahun 2017 yang membobol website pemda, gojek, citilink serta tiket.com.

Mereka yang meretas data dan hanya untuk kepentingan eksistensi lazimnya disebut white hacker.

Tentu kita masih ingat kehebohan remaja Indonesia yang kala itu masih berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMP, Putra Aji yang berhasil membobol situs NASA.

Putra yang belajar otodidak, senang bermain game, ternyata mempelajari development coding pada suatu website dan kemudian mempraktikkannya pada sebuah keamanan website yang tidak tanggung, NASA.

Lembaga milik pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa Amerika Serikat dan penelitian umum luar angkasa jangka panjang tentu memiliki keamanan data yang rumit ditembus, namun Putra Aji membuktikan dirinya sanggup.

Anak muda lain, Jim Geovedi pernah membobol sistem keamanan data pada satelit China.

Kini Jim bekerja di perusahaan keamanan data komputer di Inggris.

Namun beberapa hacker meneruskan pengambilan data tersebut untuk kejahatan lain sehingga meraup keuntungan besar.

Baca juga: LBH Surabaya Dampingi Pemuda Madiun yang Diduga Bantu Bjorka

ADC Hacker meraup miliaran rupiah setelah berhasil mengambil data dari website Pemda.

Duo hacker Indonesia SFR dan MZSRBP membuat Amerika Serikat merugi 60 Juta USD dengan membuat 14 website fake yang kemudian mengirim short message blast untuk memperoleh bantuan covid.

Para hacker yang sudah ditangkap ternyata anak-anak muda yang kesehariannya seperti remaja lainnya, bermain game, saling bertaruh, suka coding, mempelajari development platform dalam komunitas atau otodidak dan tidak ada pengetahuan formal tentang hacking di sekolah mereka.

Baik white hacker maupun cuan hacker, kegiatan meretas website suatu instansi merupakan kejahatan cyber.

Pelanggaran yang paling kecil sebatas pada etika digital, meski white hacker sebenarnya menguntungkan suatu instansi, ibaratnya mereka punya uji sistem pengamanan gratis dari kaum peretas.

Namun sayangnya di Indonesia, kita tidak memiliki Undang- undang Keamanan Data yang sebenarnya sangat penting di era digitalisasi.

Edukasi masyarakat kita pun rendah terhadap pentingnya keamanan data pribadi, sehingga Bjorka pun dianggap sebagai pahlawan oleh sebagian besar masyarakat terutama netizen.

Keamanan data Salah satu ciri kehidupan di era Revolusi Industri 4.0 adalah big data dan internet of things.

Digitalisasi serta aplikasi berbasis internet, senantiasa menjanjikan kemudahan.

Namun seiring intensitas yang tinggi aspek kehidupan pada dunia internet, seperti pasar online serta aplikasi yang menopang kebutuhan hidup termasuk lifestyle, semuanya mengharuskan kita memiliki akun dan password.

Baca juga: Pemuda Penjual Es Jadi Tersangka, Bantu Hacker Bjorka Buat Grup Telegram

Mulailah kita menyimpan data penting di langit untuk kemudahan akses.

Bagi pejabat publik, perusahaan, industri, instansi pemerintah dan hal yang berhubungan dengan banyak orang tentu saja sistem internet sangat membantu.

Karena data publik yang disimpan serta data lainnya terkait rahasia instansi, keamanan data haruslah menjadi pertimbangan utama.

Namun bukan rahasia lagi, banyak website perintahan daerah dibuat dari platform gratis baru kemudian dibeli hosting untuk ruang penyimpanan data.

Jika data kependudukan daerah disimpan di sana, bukankah ini potensi kejahatannya besar karena mudah diretas.

Masuk kurikulum Setiap kejahatan membutuhkan penanganan ahli yang bukan saja sekadar menangkap pelaku, bahkan potensi kejahatan pun harus diantisipasi dari awal.

Kejahatan data publik, terutama pejabat negara itu tentu saja sudah menyinggung nation rights yang lebih tinggi dari human rights.

Maka sungguh janggal jika kita masih tertawa saat data pejabat pemerintah diumbar, rahasia badan intelijen dijadikan konsumsi publik.

Sementara polisi sulit menangkap karena bisa jadi ketiadaan personel yang mampu mengungkap cepat pelaku hacking.

Ibarat profesi dokter yang terus berkembang di bidang spesialis, pengembangan pengetahuan mulai masuk ke sekolah.

Maka keamanan dan rekayasa data harus masuk juga melalui kurikulum di sekolah menjadi penguatan pengetahuan bahkan menjanjikan profesi baru yang sangat dibutuhkan di kalangan publik, industri, pemerintahan, militer, kepolisian dan sebagainya.

Patut kita syukuri bahwa informatika dan teknologi menjadi mata pelajaran wajib mulai SMP di Kurikulum Merdeka.

Namun jika kita membedah lebih jauh, ketika SMA bisa saja akibat ketiadaan guru komputer, siswa hanya belajar informatika di kelas X.

Baca juga: Pemuda Madiun Jadi Tersangka Kasus Hacker Bjorka Pergi Dari Rumah, Ini Penjelasan Orangtua

Pengetahuan komputasi, computational thinking, artificial inteligence, coding, keamanan data, cyber crimes harusnya menjadi bahasan di sekolah, bukan hanya sebatas pengetahuan, namun harus sampai pada kecakapan.

Kenapa tidak dari SD siswa sudah memperoleh pengetahuan komputasi, hingga SMA mereka memiliki kecakapan untuk kecerdasan buatan hingga kejahatan internet dan cara mengamankannya.

Di perguruan tinggi, spesialis kecakapan bidang komputer dan perekayasaan teknologi informatika akan didalami kembali oleh siswa tersebut.

Kemendikbud harus memberi porsi bagi pentingnya bidang studi informatika di sekolah.

Menyediakan kurikulum yang tepat, bukan sekadar pintar mengetik dan mengolah data kata-angka di komputer.

Menyediakan guru informatika yang handal dan melatih mereka untuk pengetahuan rekayasa komputer dan teknologi serta pengamanan data berbasis internet.

Jika Bjorka lahir dari sebuah pendidikan yang baik dan formil, orientasinya bisa saja pada data security yang menjanjikan pekerjaan kekinian.

Sebagaimana programer di suatu perbankan yang pekerjaannya termasuk mencakup keamanan data nasabah, gaji mereka lebih tinggi dari banyak orang.

Kecakapan data security pasti memperoleh penghasilan yang besar jika direkrut suatu instansi atau perusahaan.

Sementara kaum expert keamanan data di sekolah belum lahir, maka data yang kita titip ke langit haruslah diamankan dengan sungguhsungguh.

Hindari menggunakan password yang sama pada banyak akun, autentifikasi akun dengan keamanan ekstra dan berhati-hatilah terhadap website yang mencurigakan, apalagi yang di-share menjanjikan hadiah. (khairuddin@smansatumatangkuli.sch.id)

Baca juga: Terduga Hacker Bjorka yang Ditangkap di Madiun Sosok Lelaki Penjual Es

Baca juga: Anaknya Diduga Hacker Bjorka, Ibu Pemuda Asal Madiun Heran: Komputer Saja Tak Punya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved