Berita Banda Aceh
Perselisihan Pemilik Salon dan Pemuda di Batoh Berakhir Damai, Ini Kata Kapolsek Lueng Bata
Ia mengatakan, perselisihan antara pemilik salon dan pemuda yang masih berstatus pelajar tersebut terjadi pada Senin (12/9/2022) lalu.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
Perselisihan Pemilik Salon dan Pemuda di Batoh Berakhir Damai, Ini Kata Kapolsek Lueng Bata
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Perselisihan yang melibatkan pemilik salon dan pemuda di kawasan Batoh, Banda Aceh berakhir damai.
Hal itu disampaikan langsung Kapolsek Leung Bata, Iptu Suriya pada Jumat (23/9/2022) saat dimintai konfirmasi oleh Serambinews.com.
Ia mengatakan, perselisihan antara pemilik salon dan pemuda yang masih berstatus pelajar tersebut terjadi pada Senin (12/9/2022) lalu.
“Motifnya iseng aja,” katanya.
Iptu Suriya mengatakan, kejadian ini berawal dari 8 pemuda yang sedang mengendari sepeda motor melintasi kawasan tersebut.
Kemudian mereka melakukan gangguan dengan memecahkan kaca salon yang berada di kawasan Batoh.
Baca juga: Video Sekjen Partai SIRA di Tengah Kepungan Massa, Begini Faktanya
Tak terima diganggu, pemilik salon bersama warga kemudian mengejar para pemuda hingga terjadilah keributan di TKP.
“Kemudian di bawa ke Polsek Leung Bata dan kita panggil orang tua mereka karena masih di bawah umur,” ujarnya.
Sementara dari pihak salon, kata dia, sudah memberikan maaf dan pihak keluarga para pemuda siap mengganti rugi.
“Kami mengharapkan kepada warga apabila ada gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat segera mengubungi polisi. Kita selalu melakukan patroli rutin setiap malam,” pungkas Iptu Suriya.
Viral di Media Sosial
Sebelumnya, sebuah video yang merekam keberadaan Sekjen Partai SIRA, Muhammad Daud, di tengah-tengah massa, beredar di media sosial dan grup WhatsApp.
Penelusuran Serambinews.com, Kamis (22/9/2022), setidaknya ada dua video yang merekam keberadaan Sekjen Partai SIRA Muhammad Daud di tengah-tengah kepungan massa.
Kedua video itu awalnya diunggah oleh akun TikTok @rj_anakrantau pada, Minggu 18 September 2022.
Pada video pertama terlihat seorang lelaki berpenampilan seperti perempuan atau perempuan mirip lelaki yang berada di tengah-tengah massa.
Namun, tak banyak keterangan yang disampaikan oleh pemilik akun TikTok tentang peristiwa tersebut.
Ia hanya menulis judul “Terjadi kerusuhan (salah korban) di Batoh”.

Untuk diketahui, Batoh adalah nama desa di Kecamatan Lueng Bata Kota Banda Aceh.
Keramaian massa sempat menganggu arus lalulintas di jalan yang terlihat seperti Jalan Mr Mohammad Hatta, Banda Aceh.
Dalam kekalutan massa itu, terlihat sosok Sekjen Partai SIRA, Muhammad Daud menarik tangan seorang pemuda yang terlibat dalam percekcokan itu, menuju ke sebuah warung kopi di kawasan tersebut.
Dari percakapan dalam video itu, tindakan ini dilakukan oleh Muhammad Daud dengan tujuan memecah massa agar tidak mengganggu arus lalu lintas di jalan raya.
Seorang perempuan yang diwawancarai oleh perekam video mengatakan, kejadian itu berawal dari cekcok antara seorang remaja dengan beberapa orang pria dan seorang yang mirip perempuan.
Namun, perempuan itu juga tidak tahu secara detail kejadian tersebut.
Sementara di video kedua, kerumunan massa terlihat berada di depan pertokoan atau warung kopi di sekitar lokasi kejadian.
Sekjen Partai SIRA Muhammad Daud terlihat berdiri di tengah-tengah massa, mendengar keterangan satu per satu di antara pihak yang terlibat percekcokan.
Ia juga memanggil remaja yang disebut-sebut terlibat perselisihan dengan beberapa pemuda dan seseorang yang mirip perempuan, menggunakan baju daster tapi tidak memakai jilbab.
Muhammad Daud kemudian mengkonfrontasikan kedua pihak yang terlibat itu tentang awal mula kejadian.
Di depan massa, Muhammad Daud menjelaskan dia sempat melihat kelompok pemuda dan seseorang yang mirip perempuan itu melakukan tindak kekerasan terhadap seorang remaja.
Namun, pria yang memakai daster dan berambut panjang itu mencoba membantah dan mengaku tidak melakukan kekerasan.
“Gimana kamu bilang enggak ada, saya melihatnya dengan mata kepala,” kata Muhammad Daud dalam bahasa Aceh sambil mengarahkan kedua jari ke arah matanya.
Daud kemudian mengkonfrontasikan keterangannya kepada remaja yang terlihat ketakutan berdiri di belakangnya.
Jawaban remaja ini yang mengaku mendapat perlakukan kekerasan, sempat memicu kemarahan dan kalimat-kalimat provokasi dari massa.
Muhammad Daud dan beberapa orang lainnya terlihat berusaha menenangkan massa agar tidak melakukan tindakan kekerasan.
Dalam percakapan di video itu, pria mirip perempuan yang berada di depan Muhammad Daud menjelaskan bahwa remaja itu telah beberapa kali mengganggu usaha salon miliknya, bahkan sampai melempar batu ke arah toko tempat usaha salon miliknya.
“Apapun alasannya tidak boleh menggunakan kekerasan. Kalau benar dia melakukan tindakan yang mengganggu kamu, maka laporkan ke polisi, biar polisi yang menanganinya,” kata Muhammad Daud dalam nada yang terdengar tinggi, namun cukup tenang.
Sayangnya, kembali tidak ada keterangan sama sekali dari pengunggah video itu, kecuali di bagian atasnya ditulis “Hormas medan vs aceh”.
Keterangan Muhammad Daud
Dikonfirmasi Serambinews.com, Kamis (22/9/2022), Muhammad Daud mengatakan, insiden yang terekam video warga itu terjadi di Jalan Mr. Mohammad Hasan, Banda Aceh, tepatnya di depan warung kopi Mr. Ukir dan Kupi Nanggroe, di Desa Sukadamai Simpang Surabaya Banda Aceh.
“Kejadiannya pada tanggal 12 September tengah malam, mungkin videonya baru beredar sekarang,” ungkap Muhammad Daud.
Menurutnya, kasus tersebut telah ditangani oleh Polsek Lueng Bata, Banda Aceh.
“Mungkin sudah ada perdamaian antara kedua belah pihak yang berselisih,” kata Muhammad Daud yang juga merupakan Staf Ahli Anggota DPD RI, H. Sudirman atau Haji Uma.
Menjawab Serambinews.com, Muhammad Daud mengatakan, insiden itu bermula ketika dia melihat percekcokan antara seorang remaja laki-laki dengan seorang laki-laki berpenampilan mirip perempuan.
Laki-laki yang memakai daster dan berambut panjang itu ditemani oleh sekira 3 pemuda.
Di lokasi terlihat dua orang lainnya yang berusaha melerai percekcokan itu.
“Saat itu saya hendak memarkirkan mobil karena mau ke warung kopi. Awalnya saya duga ini masalah keluarga antara ibu dan anak,” kata Muhammad Daud.
Namun, setelah ke luar dari mobil, Daud sempat melihat remaja laki-laki itu menangkis serangan dan minta tolong kepada dua pria yang berusaha melerai.
Daud melihat ada keanehan, karena tiga pemuda yang bersama pria berbaju daster itu, memiliki tato dan berambut panjang.
“Saat itu, remaja itu lari melewati saya sambil menangkis serangan. Secara reflek saya langsung menghentikan upaya pemukulan dengan memisahkan kedua belah pihak,” kata Daud.
Mengira persoalan telah selesai, Daud melanjutkan perjalanannya ke arah warkop, namun remaja itu meminta tolong.
“Dia minta tolong dan bilang sepeda motor miliknya mau dibawa oleh orang-orang itu. Maka naluri kemanusiaan mendorong saya untuk membantunya,” ungkap Daud.
Daud pun menghampiri motor remaja tersebut yang hendak dibawa oleh salah seorang pelaku pemukulan dan menanyakan mau dibawa kemana motor ini
Salah satu dari mereka menjawab motor ini akan diamankan, dibawa ke Polsek.
Merasa curiga, Daud bertanya apakah mereka polisi sehingga berhak membawa motor milik orang lain.
“Karena bukan polisi, saya bilang ke mereka bahwa bukan hak kalian membawa motor ini, yang berhak membawa motor ini adalah polisi,” tambah Daud.
Karenanya, terjadi percekcokan antara dirinya dengan kelompok pemuda dan laki-laki berpenampilan perempuan yang mengaku pemilik salon di Jalan Tgk Chik Ditiro, dekat fly over Simpang Surabaya.
Percekcokan tersebut mengundang kerumunan massa dari warung Kupi Nanggroe dan Mr. Ukir, sehingga sempat memacetkan jalan.
“Waktu itu hampir terjadi amuk massa terhadap kelompok pemuda tersebut karena kemarahan massa atas pemukulan yang dilakukan terhadap remaja tadi,” jelas Daud lagi.
Melihat kondisi yang semakin tidak terkendali dan kemacetan jalan yang semakin parah, Daud menarik pemuda dan pria berpenampilan perempuan tersebut ke teras warung kopi Mr. Ukir.
Dia pun meminta beberapa orang untuk menghubungi Polsek Lueng Bata, melaporkan insiden tersebut.
Dalam kuruman massa di teras warkop Mr. Ukir, sambil menunggu tibanya polisi, Daud melakukan konfrontasi antara kelompok pemuda dengan remaja korban pemukulan yang sempat bersembunyi karena ketakutan.
Pria berpenampilan perempuan itu menjelaskan bahwa remaja tersebut melakukan pelemparan batu ke arah usaha salon miliknya.
Karenanya, dia mengejar remaja tersebut hingga ditemukan di depan warkop Kupi Nanggroe.
Daud pun bertanya kepada mereka kenapa melakukan pemukulan terhadap remaja tersebut?
Namun pria mirip perempuan yang ikut berada dalam kerumunan massa membantah dan mengatakan tidak melakukan pemukulan terhadap remaja.
“Ketika dia bilang tidak memukul remaja tersebut, saya langsung membantah karena saya melihat sendiri dengan mata kepala saya saat pemukulan terjadi,” jelas Daud.
Beberapa orang yang berkerumun di lokasi, kemudian menghadirkan remaja korban pemukulan yang sempat bersembunyi karena ketakutan.
Oleh Daud dan beberapa orang di lokasi, meminta keterangan dari remaja tersebut yang membenarkan dirinya sempat dipukul oleh kelompok pemuda bertato itu.
“Saat itu kondisi kembali memanas dan hampir terjadi amuk massa, namun saya dan beberapa orang yang baru selesai dari pengajian di Kupi Nanggroe, kembali menenangkan keadaan serta menyarankan masalah ini diselesaikan pihak berwajib,” ujar Daud.
Daud juga sempat meminta pertanggungjawaban kelompok pemuda bertato terhadap pengrusakan sepeda motor milik remaja tersebut.
Selain itu Daud juga mengambil sebuah martir (palu) dan stik golf dari tangan pria mirip perempuan yang kemudian diserahkan kepada personel Polsek Lueng Bata, sebagai barang bukti.
“Setelah menunggu beberapa saat, pihak kepolisian dari Polsek Lueng Bata Banda Aceh tiba di lokasi dan kami menyerahkan kedua pihak yang bertikai kepada kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut,” tutup Daud.
Menurutnya, dia sempat hadir ke Polsek Lueng Bata untuk memberikan keterangan tentang insiden itu. (*)