Tragedi Kanjuruhan

Masuk Tim Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan, Cuma Pria Ini yang Punya Lisensi FIFA Security Officer

Pemerintah Indonesia membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk menginvestigasi tragedi di...

Editor: Eddy Fitriadi
ABC News
Nugroho Setiawan. Masuk Tim Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan, Cuma Pria Ini yang Punya Lisensi FIFA Security Officer. 

Karier Nugroho di PSSI telah berakhir, kini ia diangkat oleh FIFA untuk menjadi Hygiene Officer.

Nugroho kini juga aktif sebagai Security Officer AFC dan ditugaskan untuk match AFC.

Tanggapan Nugroho soal Tragedi Kanjuruhan

Dilansir Kompas.com, Nugroho mengaku menyayangkan terjadinya kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, setelah berakhirnya laga Arema FC dengan Persebaya Surabaya.

Karena menurut Nugroho, kerusuhan tersebut sebenarnya bisa dikalkulasi, diprediksi, dan dimitigasi.

"Saya menyesali sekali hal tersebut terjadi, karena sebenarnya semua itu bisa dikalkulasi dan diprediksi, kemudian dimitigasi. Ada satu mekanisme yang secara umum di manajemen adalah risk management untuk membuat suatu mitigation plan," kata Nugroho, dilansir Kompas.com, Senin (3/10/2022).

Nugroho menilai, ada tiga poin yang harus diantisipasi dalam penyelenggaraan pertandingan.

Yakni kesamaan persepsi pengamanan di antara semua stakeholder, kondisi infrastruktur, serta supporter behaviour.

"Poin yang kesatu adalah kesamaan persepsi pengamanan di antara semua stakeholder. Yang kedua adalah kondisi infrastruktur, ini harus dilakukan assessment. Yang ketiga adalah supporter behaviour itu sendiri yang harus kita engineering," terang Nugroho.

Kemudian setelah ketiga poin tersebut tersinkronisasi, maka akan bisa dilakukan penilaian risiko yang menghasilkan sebuah rencana pengamanan yang disetujui bersama, atau agreed behaviour and procedure.

"Ketiga aspek ini harus tersinkronisasi, dan ketika kita melakukan penilaian risiko atau risk assessment, kita akan akan menghasilkan sebuah rencana pengamanan yang disetujui bersama, jadi suatu agreed behaviour and procedure."

"Nah, sinkronisasi ini mungkin yang tidak terjadi. Mungkin ketika risk assessment dilakukan, kesimpulannya menjadi keputusan yang tidak populer, misalnya pertandingan dilakukan di siang hari, dengan pembatasan jumlah penonton, dan lain-lain. Pasti tidak populer dan tidak memenuhi aspek revenue," ungkapnya.

Lebih lanjut, Nugroho menyebut hingga kini Indonesia masih belum bisa mencapai kesamaan persepsi dalam pertandingan sepak bola.

Pasalnya, menurut Nugroho, perbaikan untuk mencapai kesamaan persepsi ini masih sering terlupakan.

"Kesamaan persepsi, sampai hari ini belum tercapai. Ini merupakan suatu pekerjaan rumah untuk kita bersama. Kemudian perilaku suporter. Kita harus sadari bahwa di FIFA ini sekarang ada safety, security, dan juga services, karena sepak bola dilihat sebagai industri.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved