Penonton Kena Gas Air Mata Butuh Sebulan Pemulihan, Ada Temuan Puluhan Botol Miras di Kanjuruhan
Menurut Nugroho yang juga merupakan AFC Safety Security Officer itu, rekaman kejadian khususnya di pintu 13 Stadion Kanjuruhan sangat mengerikan.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan telah menemui sejumlah pihak di Malang hingga Sabtu (8/10/2022) termasuk korban dan keluarga korban.
Menurut Anggota TGIPF, Nugroho Setiawan korban tragedi Kanjuruhan bakal mengalami masa pemulihan lama karena terkena gas air mata.
"Tim hari ini juga menemui korban, melihat korban, bahkan sempat menyaksikan perubahan fenomena trauma lukanya dari menghitam, kemudian memerah, dan menurut dokter itu recovery (pemulihan)nya paling cepat adalah satu bulan," kata Nugroho dalam keterangan video Tim Humas Kemenko Polhukam RI pada Minggu (9/10/2022).
"Jadi efek yang terkandung dalam gas air mata ini sangat luar biasa. Jadi juga patut dipertimbangkan untuk crowd control (pengendalian massa) di masa depan," sambung dia.
Selain itu, kata NUgroho pihaknya juga berbicara dengan beberapa pihak termasuk tim steward yang sudah bertugas dan melakukan penyelematan. Tim, kata dia, juga menerima penjelasan dari Kodim setempat.
"Tadi diterima Kasdim (Kepala Staf Kodim) dan beliau menjelaskan beserta pasukan yang di BKO-kan saat itu, apa yang mereka lakukan," kata Nugorho.
"Termasuk yang kami dapati di CCTV maupun fakta-fakta bahwa evakuasi korban itu dilakukan oleh tim steward dan tim TNI dalam hal ini Kodim sampai dengan pukul 03.00 WIB pagi," sambung dia.
Nugroho Setiawan juga mengungkapkan pengalamannya menyaksikan detik-detik penonton meregang nyawa di Stadion Kanjuruhan Malang saat tragedi terjadi. Ia menyaksikan hal tersebut setelah TGIPF Kanjuruhan memeriksa rekaman CCTV pada saat peristiwa terjadi.
Menurut Nugroho yang juga merupakan AFC Safety Security Officer itu, rekaman kejadian khususnya di pintu 13 Stadion Kanjuruhan sangat mengerikan.
Situasinya pada saat itu, kata Nugroho, pintu terbuka tapi sangat kecil.
Pintu tersebut, kata Nugroho, seharusnya merupakan pintu untuk masuk, tapi terpaksa menjadi pintu keluar."Situasinya adalah orang itu berebut keluar, sementara sebagian sudah jatuh, pingsan, terhimpit, terinjak, karena efek gas air mata," kata Nugroho.
"Jadi miris sekali saya melihat detik-detik beberapa penonton yang tertumpuk dan meregang nyawa, terekam sekali di CCTV," sambung Nugroho.
Baca juga: Kecelakaan di Gunung Salak Ternyata Libatkan 3 Mobil, Sopir Dum Truk Asal Bener Meriah Meninggal
Baca juga: VIDEO - Keluarga Besar WA Grup The Light From Pase Bantu Korban Banjir Aceh Utara
Baca juga: Harga Naik, Sawit di Aceh Singkil Sentuh Angka Rp 1.650 Per Kilogram
Menurut kesimpulan sementara TGIPF stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur tidak layak untuk menggelar pertandingan berisiko tinggi."Kesimpulannya sementara bahwa stadion ini tidak layak untuk menggelar pertandingan high risk match. Mungkin kalau itu medium atau low risk masih bisa," kata Nugroho.
"Jadi artinya, untuk high risk match (pertandingan berisiko tinggi) kita harus membuat kalkulasi yang sangat konkret, misalnya adalah bagaimana cara mengeluarkan penonton pada saat keadaan darurat," kata Nugroho.
Dari penyelidikan sementara, kata dia, dalam keadaan darurat pintu masuk stadion berfungsi sebagai pintu keluar, tapi tidak memadai. Selain itu, kata dia, stadion tersebut tidak memiliki pintu darurat. "Jadi mungkin ke depan perbaikannya adalah mengubah struktur pintu itu," kata dia. Ia juga menyoroti aspek terkait akses stadion yakni anak tangga.