Video
VIDEO Peringatan Maulid Hanya Sebatas Makan Bersama? Ternyata Kegiatan Ini Juga Dikatakan Maulid
Berbagai cara umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, ada yang melaksanakan makan bersama, dzikir bersama dan sebagainya.
SERAMBINEWS.COM - Setiap 12 Rabiul Awal diperingati Hari Lahir Nabi Besar Muhammad SAW atau dikenal dengan Maulid Nabi.
Berbagai cara umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, ada yang melaksanakan makan bersama, dzikir bersama dan sebagainya.
Dr. Tgk. Sirajuddin Saman, MA (Dewan Penasehat DPP ISAD) dalam Program Jumat Mubarak mengisi kajian dengan tema "Mengapa Maulid Nabi Muhammad SAW Harus Diperingati?," dipandu Editor Serambi on TV Syamsul Azman, Jumat (14/10/2022) menjelaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya dilakukan ketika 12 Rabiul Awal.
Namun, Maulid Nabi bisa dilakukan setiap hari, tidak terikat waktu.
Bahkan, kegiatan-kegiatan yang mengarah pada mengingat Rasulullah SAW juga bisa dikatakan Maulid Nabi.
Baca juga: SERAMBI PODCAST Mengapa Maulid Nabi Muhammad SAW harus Diperingati?
Melansir dari Kompas.com, kelahiran Nabi Muhammad telah dirayakan oleh bangsa Arab sejak abad kedua Hijriah atau abad ke-8 Masehi.
Pendapat ini didasarkan pada Nuruddin Ali dalam kitab Wafa'ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa, yang menjelaskan bahwa seseorang bernama Khaizuran (170H/786 M) datang ke Madinah dan memerintahkan masyarakatnya merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.
Khaizuran, yang merupakan salah satu sosok berpengaruh dari masa Dinasti Abbasiyah, juga mengunjungi Mekkah dan memerintahkan hal yang sama.
Karena pengaruhnya, anjuran Khaizuran pun didengarkan oleh masyarakat Muslim Arab.
Menurut Khaizuran, tujuan Maulid Nabi adalah agar teladan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi umat Islam.
Pendapat kedua menyatakan bahwa Maulid Nabi pertama kali diadakan oleh Dinasti Fatimiyah, yang berkuasa antara abad ke-4 hingga abad ke-6 Hijriah, atau abad ke-10 hingga abad ke-12 Masehi.
Baca juga: VIDEO Kemeriahan Peringatan Maulid Nabi di Muenchen Jerman, Ada Tarian Ratoh Jaroe
Perayaan Maulid Nabi dipelopori oleh Abu Tamim, khalifah keempat Dinasti Fatimiyah.
Selain Maulid Nabi, dinasti ini juga merayakan Hari Asyura, Maulid Ali, Maulid Hasan, dan lainnya.
Versi ketiga berdasarkan pendapat Ibnu Katsir, yang menyatakan bahwa Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada Rabiul Awwal secara besar-besaran.
Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri (549-630 H) adalah Gubernur Ibril di Irak, yang merayakan Maulid Nabi dengan mengundang para ulama, ahli tasawuf, dan seluruh rakyatnya.