Opini
Iqra: Risalah Revolusi Peradaban Islam
IQRA, satu kata sangat vital yang mengawali rangkaian risalah Allah yang akan mencerahkan ruhani dan akal budi manusia
Agar dengan kesabaran dan kelapangan dada itu manusia dapat meraih kebenaran dan sekaligus terhindar atau tidak terjerumus ke dalam suatu situasi yang justru merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain (QS, al-’Ashr 103:1-3).
Karena realitas membuktikan, bahwa seseorang yang konon merasa dirinya telah berilmu-pengetahuan, akan sangat sulit bersedia menampung kebenaran atau masukan- masukan baru yang datang kemudian, jika dalam dirinya tidak cukup memiliki sikap sabar dan bijak, yang berguna untuk melahirkan sikap menghargai dan bersedia mengkaji kebenaran yang terus berkembang itu secara jujur dan kritis.
Sehingga tanpa sikap sabar, keilmuan seseorang dapat dipastikan akan mudah mengalami kemacetan, kejumudan dan sering pula dirasuki sikap truth-claim.
Yaitu sikap dalam mana seseorang merasa paling benar atau menyangka benar sendiri, sehingga merasa tidak memerlukan lagi introspeksi dan dialog dalam rentangan dialektika pencaharian kebenaran.
Padahal aksi-aksi inilah yang semestinya berlangsung terus menerus antara satu pihak/ golongan dengan yang pihak/golongan lain, melalui dialektika yang saling menghargai dan memahami bagi membangun kebenaran yang hanya dapat mendekati kemutlakan.
Sikap tertutup yang berdampak memacet-picikkan pikiran, memang amat sering terjadi dalam ranah kehidupan umat manusia, sehingga Allah perlu menasihatkan: Katakanlah: “apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah siasia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, tetapi mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya”(QS, al-Kahfi: 103-104).
Baca juga: Khutbah Idul Adha di Islamic Center Lhokseumawe: Bekal Membangun Peradaban Islam
Oleh sebab itu, al-Quran yang membawa misi-misi pencerahan keilmuan menuju peradaban yang manusiawi, tentu sarat dengan watak dan sifat yang revolusioner.
Ini adalah hal yang amat diperlukan dalam menghadapi kecenderungan para manusia yang merasa telah memperoleh suatu otoritas keilmuan dan merasa terus perlu membangun dan memelihara kemapanannya, ketika ia diuntungkan, betapa pun orang lain mengalami kerugian.
Padahal semestinya, dimensi keilmuan manusia adalah suatu wilayah yang harus terus terbuka, terus bergerak berubah dan tidak ada satu orang pun yang berhak memutlakkan kebenaran pada dirinya.
Melalui alur kesadaran historis semacam itu, al-Quran merupakan al-a’yaanuts-tsabitah atau sebagai “blue print” Allah yang menghendaki supaya seluruh peradaban yang dibangun umat manusia harus berlandaskan ilmu pengetahuan (knowledge based civilization).
Yaitu masyarakat yang terus berpikir, meneliti, mengkaji, mendalami, memahami dan menyadari esensi terdalam dari semesta penciptaan Allah (QS, Ali Imran: 190-191).
Sehingga dari situ terbentuklah iman yang ilmiah dan ilmu yang amaliyah.
Sehingga, umat Islam yang hari ini memiliki perbedaan perspektif, pola-pikir dan penyimpulan dalam memahami pesan-pesan al Quran, karena perbedaan latar-belakang pendidikan dan kepentingan ekonomi-sosiopolitis, tidak lagi potensial untuk melahirkan perpecahan, yang saling mendiskreditkan.
Melainkan selalu perlu menyediakan ruang- ruang terbuka untuk dialog dan berdialektika kritis yang saling menghargai.
Tanpa revolusi keilmuan pola Qurani ini, umat Islam akan terus terpuruk dalam liang biawak keberhalaan dan terus akan membuat umat menjadi terhina dan ternistakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FUAD-MARDHATILLAH-UY-TIBA-Pengampu-Filsafat-UINAR.jpg)