Opini
Iqra: Risalah Revolusi Peradaban Islam
IQRA, satu kata sangat vital yang mengawali rangkaian risalah Allah yang akan mencerahkan ruhani dan akal budi manusia
OLEH FUAD MARDHATILLAH UY TIBA, Pengampu Filsafat UINAR
IQRA, satu kata sangat vital yang mengawali rangkaian risalah Allah yang akan mencerahkan ruhani dan akal budi manusia.
Juga menjadi sumber kekuatan revolusioner yang menginspirasikan perlawanan terhadap segala tabiat, perilaku dan budaya yang cenderung bersifat lebih mementingkan kepentingan pribadi, penuh ketidakadilan, merugikan orang-orang lain, memangsa dan bertumpah darah serta merusak keseimbangan alam.
Itulah sebenarnya tabiat manusia yang dulu pernah dirisaukan para malaikat, ketika Allah memberi tahu bahwa Ia ingin menjadikan khalifah di muka bumi (QS, al-Baqarah 2:30).
Rangkaian risalah konseptual penciptaan dengan segala pesan dan aturannya inilah yang kemudian dinamakan al- Quran, yang merupakan untaian pedoman bagi seluruh umat manusia dalam menjalankan sejarah kehidupannya.
Dan juga menjadi al-Furqan, yang memiliki konsepsi rasional yang mencerahkan, sehingga membuat orang-orang yang membacanya dengan khidmat, serius dan kritis, mampu membedakan antara yang haqq dan yang bathil.(QS, al-Baqarah 2:185).
Pertanyaannya kemudian adalah: apakah itu substansi utama yang menjadi kekuatan pencerah sejarah peradaban manusia, yang utamanya dibawa dalam misi al-Quran dan kemudian menjadi kekuatan revolusioner dalam perwujudan peradaban sejati manusia sebagai khalifah? Jawabannya adalah: kata iqra’ itulah menjadi sangat vital dalam perancangan konstruksi Ilmu Pengetahuan.
Dan hanya dengan penguasaan Ilmu Pengetahuan yang kemudian diamalkan jualah manusia akan dapat menemukan esensi kesejatiannya, dan melahirkan suatu rangkaian manifestasi kebudayaan dan peradaban yang mulia dan terhormat.
Maka, perlulah selalu ditegaskan, bahwa Ilmu Pengetahuan yang luas wilayah objek materialnya menuju tak terhingga dan bersifat multi dan intepistemogis dan disiplin (QS, al-Kahfi 18:109) itu, hanya akan dapat diperoleh dan dikuasai lewat proses-proses metodologis Iqra’, baik secara tekstual maupun kontekstual (QS, al-‘Alaq: 1-5).
Metode Iqra ini mensyaratkan pembudidayaan optimal potensi akal sehat, untuk secara dinamis terus melakukan berbagai aktivitas ruhaniah intelektual, demi mencapai ma’rifat kesadaran, yang meliputi siklus kegiatan mulai membaca, berpikir, merenungkan, berdiskusi, berdebat, meneliti, mengkaji, memahami, menilai hingga menyimpulkan, baik terhadap alam-syahadah (alam micro dan makro kosmos) maupun alam malakut (alam fenomenologis dan metafisis).
Baca juga: Madinah Gelar Pameran Internasional Museum Biografi Nabi Muhammad dan Peradaban Islam
Baca juga: Mekkah Gelar Festival Malam Ramadhan, Museum Biografi Nabi Muhammad dan Peradaban Islam Dibuka
Seiring usaha pembudidayaan akal sehat itu, dibutuhkan pula pengembangan sikap-sikap dasar dari unsurunsur keutamaan dalam zat manusia yang meliputi kejujuran (honesty), keterbukaan pikiran (open mindedness) dan jiwa-jiwa yang lapang, penuh kesabaran dalam menerima kebenaran.
Karena jika tanpa memiliki sikap-sikap tersebut, manusia akan cenderung menggantikan posisi Tuhan, dalam berbagai manifestasi sikap otoritarian dan arogansinya yang penuh keangkuhan dan pemutlakan kehendak.
Maka, arti penting perlunya kesabaran agar niscaya dimiliki dalam konteks proses pencarian kebenaran dan keilmuan adalah, karena sifat keilmuan dan kebenaran itu sendiri yang terus bergerak secara dinamis, terus berkembang dan tak pernah selesai, dalam wilayah yang luasnya menuju tak terhingga atau tak terbatas.
Di samping melekatnya sifat pemikiran manusia yang selalu menghasilkan segala sesuatu yang tidak lengkap, relative, nisbi dan tidak mutlak.
Secara theophany, Allah telah memberi tanda perihal betapa pentingnya sikap shabar dalam proses keilmuan, dengan menempatkan kata as-sabr secara berdampingan dengan al-haqq dalam proses membangun relasi kesalingan antar manusia.
Agar dengan kesabaran dan kelapangan dada itu manusia dapat meraih kebenaran dan sekaligus terhindar atau tidak terjerumus ke dalam suatu situasi yang justru merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain (QS, al-’Ashr 103:1-3).
Karena realitas membuktikan, bahwa seseorang yang konon merasa dirinya telah berilmu-pengetahuan, akan sangat sulit bersedia menampung kebenaran atau masukan- masukan baru yang datang kemudian, jika dalam dirinya tidak cukup memiliki sikap sabar dan bijak, yang berguna untuk melahirkan sikap menghargai dan bersedia mengkaji kebenaran yang terus berkembang itu secara jujur dan kritis.
Sehingga tanpa sikap sabar, keilmuan seseorang dapat dipastikan akan mudah mengalami kemacetan, kejumudan dan sering pula dirasuki sikap truth-claim.
Yaitu sikap dalam mana seseorang merasa paling benar atau menyangka benar sendiri, sehingga merasa tidak memerlukan lagi introspeksi dan dialog dalam rentangan dialektika pencaharian kebenaran.
Padahal aksi-aksi inilah yang semestinya berlangsung terus menerus antara satu pihak/ golongan dengan yang pihak/golongan lain, melalui dialektika yang saling menghargai dan memahami bagi membangun kebenaran yang hanya dapat mendekati kemutlakan.
Sikap tertutup yang berdampak memacet-picikkan pikiran, memang amat sering terjadi dalam ranah kehidupan umat manusia, sehingga Allah perlu menasihatkan: Katakanlah: “apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah siasia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, tetapi mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya”(QS, al-Kahfi: 103-104).
Baca juga: Khutbah Idul Adha di Islamic Center Lhokseumawe: Bekal Membangun Peradaban Islam
Oleh sebab itu, al-Quran yang membawa misi-misi pencerahan keilmuan menuju peradaban yang manusiawi, tentu sarat dengan watak dan sifat yang revolusioner.
Ini adalah hal yang amat diperlukan dalam menghadapi kecenderungan para manusia yang merasa telah memperoleh suatu otoritas keilmuan dan merasa terus perlu membangun dan memelihara kemapanannya, ketika ia diuntungkan, betapa pun orang lain mengalami kerugian.
Padahal semestinya, dimensi keilmuan manusia adalah suatu wilayah yang harus terus terbuka, terus bergerak berubah dan tidak ada satu orang pun yang berhak memutlakkan kebenaran pada dirinya.
Melalui alur kesadaran historis semacam itu, al-Quran merupakan al-a’yaanuts-tsabitah atau sebagai “blue print” Allah yang menghendaki supaya seluruh peradaban yang dibangun umat manusia harus berlandaskan ilmu pengetahuan (knowledge based civilization).
Yaitu masyarakat yang terus berpikir, meneliti, mengkaji, mendalami, memahami dan menyadari esensi terdalam dari semesta penciptaan Allah (QS, Ali Imran: 190-191).
Sehingga dari situ terbentuklah iman yang ilmiah dan ilmu yang amaliyah.
Sehingga, umat Islam yang hari ini memiliki perbedaan perspektif, pola-pikir dan penyimpulan dalam memahami pesan-pesan al Quran, karena perbedaan latar-belakang pendidikan dan kepentingan ekonomi-sosiopolitis, tidak lagi potensial untuk melahirkan perpecahan, yang saling mendiskreditkan.
Melainkan selalu perlu menyediakan ruang- ruang terbuka untuk dialog dan berdialektika kritis yang saling menghargai.
Tanpa revolusi keilmuan pola Qurani ini, umat Islam akan terus terpuruk dalam liang biawak keberhalaan dan terus akan membuat umat menjadi terhina dan ternistakan.
Maka hadis nabi Muhammad yang menegaskan bahwa pada akhir zaman nanti umatku berjumlah amat banyak, tetapi kuantitasnya yang banyak ini lebih diibaratkan kualifikasinya sebagai “buih” di lautan dan/atau hidangan di atas meja, kiranya telah terbukti kebenaran ramalannya, yang diungkapkan lebih 14 abad yang lalu.
Semestinya, hadits tersebut harus dibaca dalam logika mafhum mukhalafah menjadi kesadaran sejarah.
Agar umat Islam hendaknya tidak pernah menjadi “buih” yang terombang-ambing diterpa embusan angin dan hempasan gelombang, sebagai pribadi- pribadi yang tak punya prinsip, etika yang kukuh dan komitmen moral yang kuat dan teruji secara ilmiah.
Akhirnya, hanya dengan semangat revolusi keilmuan Qurani jualah, umat Islam baru akan mampu menjadikan diri dan peradabannya menjadi mulia dan menjadi imam eksemplar peradaban dunia.
Wallahulmuwaffiq, wa aqwaamuth-thariq. (fmardha@gmail.com)
Baca juga: Yayasan Peradaban Islam Diketuai Bachtiar Nasir Wakaf 5.000 Quran untuk Abdya, Diterima Bupati Akmal
Baca juga: Aceh Pusat Peradaban Islam Terawal di Asia Tenggara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FUAD-MARDHATILLAH-UY-TIBA-Pengampu-Filsafat-UINAR.jpg)