Ayah Rudapaksa Anak Tiri Sebanyak 20 Kali Selama 5 Tahun, Modusnya Pengobatan Tradisional

Aksi bejat pelaku sudah dilakukan sejak usia anak tirinya masih 13 tahun hingga usia 18 tahun, bahkan pelaku sudah melakukan pencabulan 20 kali

Editor: Faisal Zamzami
SRIPO/EKO MUSTIAWAN
Seorang ayah rudapaksa anak tiri di Musi Rawas, sudah 5 tahun sejak korban masih SMP dan sudah puluhan kali dan pelaku diamankan di Polres Musi Rawas, Senin (25/10/2022). 

SERAMBINEWS.COM, MUSI RAWAS - Seorang ayah tega merudapaksa anak tirinya sejak korban masih SMP.

Aksi bejat pelaku sudah dilakukan sejak usia anak tirinya masih 13 tahun hingga usia 18 tahun, bahkan pelaku sudah melakukan pencabulan sebanyak 20 kali.

Pelaku bernama Jumadi alias Jum (42), warga Dusun VII Desa Leban Jaya, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura, Provinsi Sumsel, kini diringkus polisi.

Jum adalah pelaku pencabulan terhadap anak tirinya.

Aksi bejat tersebut dilakukan Jumadi sejak 2017 lalu hingga 2022 atau dalam kurun waktu 5 tahun.

Bahkan, aksi itu dilakukan sudah lebih dari 20 kali.

Modus tersangka adalah mengiming-imingi akan diobati dan disembuhkan penyakit yang diderita korban.


Saat diminta keterangan terkait modus yang dilakukan, tersangka Jumadi mengaku, akan mengobati penyakit korban hingga sembuh.

"Saya obati beneran, pakai ramu-ramuan daun-daunan," kata tersangka Jumadi kepada Sripoku.com, Selasa (25/10/2022) sebelum dijebloskan ke sel Mapolres Mura.

Jumadi juga mengaku, khilaf melakukan aksi bejat tersebut dan menyesal.

"Pikiran sudah gelap, tadinya tidak ada pikiran untuk melakukan itu. Tapi tidak tahu kemana pikiran aku, kayak orang stres," ujarnya.

Baca juga: Fakta Kepala Sekolah Rudapaksa Siswi Kelas 4 SD di Maluku, Beraksi 5 Kali, Modus Diberi Nilai Bagus

Awal mula tertarik terhadap anaknya, Jumadi mengaku berawal dari prosesi pengobatan yang kemudian melihat paha korban.

"Tertarik karena melihat pahanya, saat proses pengobatan," ucapnya.

Jumadi juga mengatakan, bahwa sudah lebih dari 15 tahun melakoni profesi tersebut, disamping profesinya sebagai penyadap karet.


"Pagi saya nyadap karet. Kemudian siangnya buka pengobatan tradisional. Pasiennya jarang, kalau tarifnya seikhlasnya saja," ungkapnya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved