Kamis, 23 April 2026

Ketahanan Pangan

Banjir Ancam Penurunan Produksi dan Kenaikan Harga Beras

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Aceh menyatakan, pergerakan kenaikan harga beras yang terjadi pada bulan November ini, bisa menjadi faktor penduk

Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Penampakan lokasi tanaman padi yang terendam banjir di Aceh Tenggara, Jumat (4/11/2022) 

Laporan Herianto I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah SP MP menyatakan, banjir yang melanda berbagai daerah sejak akhir Oktober lalu sampai awal Nopember 2022 ini, akan menjadi ancaman penurunan produksi gabah dan kenaikan beras di Aceh.

“Sampai saat ini, kami sudah mendapat laporan dari kabupaten/kota yang dilanda banjir, tanaman padi di wilayah pantai timur yang terendam banjir dan sekitar 7.800 hektar, seluas 3.700 hektar terancam fuso,” kata Cut Huzaimah SP, MP dalam rapat Jumatan Inflasi Daerah yang dilaksankan di Kantor BI Perwakilan Aceh, Jumat (4/11).

Hadir dalam rapat itu, Kepala BI Perwakilan Aceh, Achris Sarwani, Asisten II Setda Aceh, Ir Mawardi, Kadistanbun Aceh, Cut Huzaimah, Ka Biro Ekonomi, Amruddin, Plt Kadis Pangan Aceh, Surya, Tim Satgas Pangan Polda Aceh dan pejabat lainnya.

Harga Beras Semua Jenis Terus Bergerak Naik, Kualitas Medium Rp 11.000/Kg, Premium Rp 12.000/Kg

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Aceh menyatakan, pergerakan kenaikan harga beras yang terjadi pada bulan November ini, bisa menjadi faktor pendukung penyumbang angka inflasi Aceh, untuk bulan ini dan bulan berikutnya.

“Kalau bulan Oktober lalu, dengan menurunnya harga sejumlah komoditi pangan, telur, ayam potong, bawang merah, cabe merah, Aceh mengalami deflasi sebesar 0,25 persen, tapi di November ini, akibat pergerakan kenaikan harga beras, diperkirkan Aceh akan mengalami inflasi sebesar 0,37 persen,” ungkap Kepala BI Perwakilan Aceh, Achris Sarwani, selaku Wakil Ketua TPID Aceh.

Pada minggu pertama bulan Nopember ini, komoditi beras sudah menduduki peringkat ketiga, pendukung angka inflasi Aceh, setelah bahan bakar umum/bensin dan angkutan udara.

Bulog Aceh Pasok 14.000 Ton Beras, Menambah Stok Pangan

Peringkat keempat sewa rumah, kelima cabai merah, keenam bahan bakar rumah tangga, ketujuh rokok kretek filter, kedelapan bawang merah, kesembilan rokok kretek dan kesepuluh angkutan antar kota.

Dari 10 komoditi, yang akan menjadi faktor pendukung inflasi pada bulan tersebut, ada tiga komoditi, yaitu beras, cabe merah dan bawang merah, penanganan produksinya berada pada sektor pertanian, dan distribusinya pada sektor Perdagangan, Perhubungan dan Dinas Pangan Aceh.

Untuk itu, kami ingin mendengar penjelasan dari masing-masing dinas yang hadir dalam rapat Jumatan TPID pada minggu pertama Nopember ini yang kita laksankan di Ruang rapat BI Aceh.

Rapat Jumatan TPID Aceh, dibuka Wakil Ketua TPID Aceh, Achris Sarwani dan selanjutnya rapat dipimpin Plt Asisten II Setda Aceh, Ir Mawardi, yang dihadiri Tim Satgas Pangan dari Polda Aceh, serta sejumlah dinas.

Plt Asisten II Setda Aceh, Ir Mawaradi mengatakan, sejalan dengan pidato Presiden RI, Joko Widodo, dan Mendagri Tito Karnafian, dalam rakon pangan dan pengendalian inflasi nasional belum lama ini, meminta, para Pj Gubernur bersama Pj Walikota dan Pj Bupati di daerah, perlu memperhatikan kenaikan angka inflasi daerahnya. September lalu, angka inflasi Aceh masuk lima besar nasional, tapi Oktober kemarin, karena mengalami deflasi sebesar 0,25 persen, turun ke peringkat 11 nasional.

Presiden menyampaikan hal tersebut kepada para Pj Gubernur, Pj Walikota dan Pj Bupati, dalam rapat bulanan inflasi dan rakor pangan nasional pada akhir bulan lalu, kata Mawardi, karena negara-negara pengekspor pangan di dunia, termasuk Asia, mulai tahun depan, tidak lagi mengekpsor bahan pangannya, dengan alasan untuk pemenuhan kebutuhan di dalam negerinya.

Sehubungan dengan hal tersebut, kata Mawaradi, Presiden dan Kemendagri, meminta kepda Pj Gubernur, Pj Walikota dan PJ Bupati, untuk memfokuskan kerjanya di daerah peningkatan produksi pangan dan upaya pemenuhan kebutuhan pangan lokal dan nasional, guna pengendalain laju inflasi.

Kenapa kita perlu menekan laju angka inflasi di daerah, kata Mawaradi, karena inflasi menjadi alat ukur dari kenaikan harga kebutuhan pokok dan pangan di daerah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved