Ketahanan Pangan
Banjir Ancam Penurunan Produksi dan Kenaikan Harga Beras
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Aceh menyatakan, pergerakan kenaikan harga beras yang terjadi pada bulan November ini, bisa menjadi faktor penduk
Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
Semakin tinggi angka inflasi satu daerah, bisa memberikan arti, harga barang di daerah itu mahal, kondisi itu akan membuat banyak masyarakatnya, tidak lagi mampu menjangkau mebeli harga kebutuhan pokok pangannya.
Sebelum hal itu terjadi, kata Mawardi, kita perlu mengatasinya, dengan cara meningkatkan produksi, melancarkan distribusi dan mengawasi stok dan harganya di lapangan, agar tidak ada pihak yang melakukan manipulasi dan penimbunan stok, hingga membuat harga jadi melambung.
Kadis Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah, SP, MP mengatakan, sampai Desember 2022 mendatang, di Aceh masih ada panen padi. Ia memperkirkan, hingga akhir tahun 2022 nanti, stok beras di Aceh ada sekitar 307.908 ton, dari hasil panen padi bulan Oktober, Nopember dan Desember.
Kenapa harga beras di Aceh terus bergerak naik, kata Cut Huzaimah, hasil panen padi di Aceh, banyak dibeli pedagang pengumpul gabah dari Sumut, di atas HET pemerintah. Bulog beli gabah petani Rp 4.450/Kg, pedagang pengumpul beli gabah petani pada musim panen padi rendengn April – Juni 2022 lalu nilainya mencapai Rp 4.700 – Rp 4.900/Kg dan pada musim panen gadu bulan ini, harga gabah lebih tinggi lagi Rp 5.300 – Rp 5.400/Kg.
Jawaban kenapa Aceh surplus gabah dan beras, tapi pengadaan beras lokalnya ke Bulog, masih rendah sekitar 2.100 ton. Faktor penyebabnya, karena harga gabah di Aceh di atas harga beli pemerintah. Wajar saja, banyak hasil panen gabah di Aceh mengalir ke Sumut, bahkan penggilingan padi lokal di Aceh, banyak juga yang menjual berasnya ke Sumut.
Bulog Aceh tidak bisa dipersalahkan, kata Cut Huzaimah, karena ia beli gabah petani, sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah. Bulog Aceh memasok beras dari luar Aceh, sejak Januari – Oktober sudah mencapai 18.000 ton dan pada bulan ini akan dipasok lagi sekitar 14.000 ton, dari Sulsel dan Pulau Jawa, untuk berbagai keperluan, termasuk operasi pasar khusus, pasar murah dan lainnya.
“Itu merukan langkah yang tepat, untuk pengendalian kenaikan harga beras, inflasi, dan stok pangan nasional di daerah,”ujarnya.(*)
• Istri Simpan Jasad Suami Selama 4 Hari di Rumah, Kondisinya Sudah Membusuk, Mengaku Takut
• Olla Ramlan Dukung Putranya Pacari Anak Nikita Mirzani
• Jaksa Tuntut Terdakwa Korupsi Dana Desa di Aceh Tenggara 5 Tahun Penjara dan Bayar UP Rp 236 Juta
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/padi-78900.jpg)