Sejarah Gurindam 12 Karya Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, Sosok Layar Google Doodle Hari ini
Ia merupakan keturunan bangsawan dan cucu dari Raja Ali Haji Fisabilillah, salah satu pejuang asal Bugis.
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
Hal ini mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu yang bertentangan dengan Islam.
Realita tersebut ditemukenali pada masa Kerajaan Melayu Riau Lingga dipimpin Sultan Mahmud Muzaffar Syah (1834-1857) dan pemerintahan dijalankan Yang Dipertuan Muda Raja Abdullah.
Pada masa ini keadaan istana memprihatinkan, hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Masyarakat Melayu banyak melakukan tindakan dan perbuatan yang bertentangan dengan norma atau ketentuan Islam.
Keprihatinan Raja Ali Haji terhadap konflik internal kerajaan dan tekanan penjajah yang mengakibatkan kondisi masyarakat semakin mudah dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya non Islam yang dibawa penjajah mendorong beliau menciptakan sebuah karya sasra agung yang dikenal dengan Gurindam Dua Belas.
Baca juga: Sosok Sariamin Ismail, Novelis Perempuan Pertama Indonesia yang Menjadi Google Doodle Hari Ini
Selesai ditulis pada 23 Rajab tahu 1263 Hijjriah (1846 Masehi).
Gurindam Dua Belas ini tercipta atas keprihatinan Raja Ali Haji tehadap kondisi yang membayakan terhadap kehidupan masyarakat Melayu Kerajaan Riau-Lingga, juga sebagai tanggungjawab moral beliau memelihara dan mempertahankan eksistensi agama dan budaya Islam harus menjadi pegangan hidup masyarakat Melayu.
Melalui karya tulis ini beliau berusaha agar agama dan adat-istiadat bernafaskan Islam melembaga kembali dalam kehidupan masyarakat melayu Kerajaan Riau-Lingga.
Gurindam dua belas dapat terkenal hingga sekarang karena memiliki keindahan seni yang dihiasi dengan tuntunan moral, sehingga popular sampai sekarang.
Selain itu, isinya yang lebih singkat, padat dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat hingga sekarang.
Gurindam dua belas berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridai oleh Allah SWT.
Sehingga sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut yaitu memaknai nasihat yang terkandung di dalamnya dan menerapkannya dalam kehidupan di masyarakat.
Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut yaitu sebagai upaya untuk melestarikan karya sastra bangsa Indonesia yang memiliki keindahan seni serta berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup sehingga dapat menjadi nasihat bagi generasi muda dalam menjalani hidup.
Serta untuk menunjang pembangunan karakter dan jati diri masyarakat yang bermartabat.(Serambinews.com/Firdha Ustin)
Sumber: Kemendikbud
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rAJA-hAJI-aHMAD.jpg)