Sabtu, 25 April 2026

Berita Banda Aceh

Pon Yaya Minta Eks Kombatan Disekolahkan di URI Amerika

University of Rhoad Island (URI) Amerika Serikat melakukan audiensi dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) di Banda Aceh

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/ MASRIZAL
Ketua DPRA, Saiful Bahri (Pon Yaya) didampingi Wakil Ketua Safaruddin dan anggota dewan lain berfoto dengan Wakil Rektor URI Dr Kristin Johnson dan lainnya saat beraudiensi ke DPRA di Banda Aceh, Senin (7/11/2022). 

BANDA ACEH - University of Rhoad Island (URI) Amerika Serikat melakukan audiensi dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) di Banda Aceh, Senin (7/11/2022).

Pertemuan tersebut sebagai bentuk tindaklanjut dari kerja sama yang sudah pernah digagas sebelumnya dalam bidang pendidikan.

Rombongan disambut Ketua DPRA, Saiful Bahri (Pon Yaya) bersama Wakil Ketua, Hendra Budian dan Safaruddin, Ketua Komisi VI Anwar, serta Bardan Sahidi, Ansari Muhammad, dan Tgk Muhammad Yunus M Yusuf.

Sementara dari URI hadir Wakil Rektor Dr Kristin Johnson, Dekan Lingkungan dan Ilmu Hayati URI Dr John Kirby, Konsulat Jenderal Amerika untuk wilayah Sumatera Gordon S Church, dan Direktur Kemitraan Internasional, Brook Williams Ross.

Dalam pertemuan itu, Pon Yaya menceritakan Aceh pernah dilanda konflik berkepanjangan.

Pada 2005, terwujud perdamaian antara Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia.

Salah satu kesepakatan damai adalah Aceh bisa mengatur daerahnya sendiri.

"Saat ini kami masih jauh dari kata kesejahteraan.

Dalam pertemuan ini kalau bisa, 3.000 mantan kombatan bisa tidak di sekolahkan di Rhoad Island (URI) agar pulang dari sana bisa bangun daerah," kata Pon Yaya kepada rombongan URI.

Menanggapi permintaan Pon Yaya, Wakil Rektor URI Kristin Johnson mengatakan setiap orang yang masuk ke URI harus memiliki kemampuan yang sama dengan mahasiswa lain.

Baca juga: Pon Yaya Minta Pengelola KEK Arun Pekerjakan Tenaga Lokal

Baca juga: UUPA akan Direvisi, DPRA Minta Masyarakat Aceh Beri Masukan, Pon Yaya: Silakan Surati Kami via Email

"Jika dari mantan kombatan memiliki kemampuan yang sama silakan masuk," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi VI DPRA, Anwar menambahkan bahwa Aceh memiliki banyak sumber daya alam, tapi tidak ada sumber daya manusia (SDM).

Ia berharap, meskipun mahasiswa asal Aceh tidak banyak yang menempuh pendidikan di sana tapi memiliki kualitas.

Saat ini ada 15 mahasiswa asal Aceh yang sedang mengambil program magister (S2) di bidang Perikanan, Kelautan dan Manajemen Tata Lingkungan.

Program itu hasil kerja sama antara Pemerintah Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK) dan Rhode Island pada tahun 2018.

"Program ini telah memasuki tahun kedua.

Kami yakin program ini akan memberikan sumbangsih bagi kemajuan Provinsi Aceh.

Masih banyak potensi kerja sama yang dapat dikolaborasikan untuk program SDM, penelitian, dan penyuluhan di Aceh," kata Direktur Kemitraan Internasional, Brook Williams Ross. (mas)

Baca juga: Celetukan Pon Yaya untuk Bang Bus Bikin Dewan Tertawa, APBA-P 2022 Disetujui Rp 17,291 Triliun

Baca juga: DPRA Rombak AKD, Pon Yaya Minta Fraksi Kirim Nama, Demokrat Bakal Dapat Jatah

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved