Opini

Ayah, Antara Ada dan Tiada

Belum banyak yang tahu bahwa sejak 2006, Indonesia juga memiliki hari Ayah Nasional yang jatuh bertepatan pada tanggal 12 November

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
dr HILWA SALSABILA,  Penulis Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat FK USK 

Bagi anak lelakinya, ayah memberi contoh peran gender maskulin.

Apa saja yang dilakukan oleh laki-laki, bagaimana cara mengendalikan diri, kekuatan, serta emosinya.

Anak laki-laki yang tidak memperoleh contoh gender maskulin dengan baik, cenderung berkembang dengan orientasi seksual yang menyimpang, emosi sering meledak-ledak, dan rentan menyalahgunakan kekuatannya baik di tempat kerja, di rumah, atau saat sedang bersama teman.

Yang pasti, saat dewasa nanti, anak laki-laki ini juga akan menjadi ‘absent father’ bagi anakanaknya karena tidak memiliki contoh sebelumnya.

Dari ayah, anak lelaki belajar bagaimana caranya memperlakukan perempuan, sehingga tidak lahir suamisuami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga baik kekerasan fisik maupun verbal.

Pun begitu banyaknya remaja bahkan anak lakilaki yang menjadi pecandu pornografi, yang mana para pecandu pornografi biasanya akan melihat perempuan hanya sebagai objek seksual semata.

Baca juga: Bupati Ajak Kaum Perempuan Majukan Nagan Raya, Hari Ibu Diperingati Khidmat

Ayah yang lebih proaktif berkomunikasi dengan para aneuk agam-nya, dapat menurunkan risiko paparan pornografi pada mereka.

Ayah bagi anak perempuan

Hubungan ayah dan anak perempuannya merupakan hubungan untuk memenuhi cinta dan kasih sayang bagi anak.

Maka tak salah apabila banyak yang bilang kalau ayah merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya.

Karena ketika ayah turut mengasuh anak perempuan, maka anak akan merasa puas menerima kasih sayang dari sosok laki-laki.

Akibatnya anak tidak ‘haus’ dan mencari pemenuhan kasih sayang dari orang lain.

Sehingga saat anak merasa kurang dicintai dan disayangi, maka ketika dewasa umumnya mereka mudah untuk kagum dan jatuh cinta pada laki-laki.

Bahkan beberapa malah mencari dan menikah dengan laki-laki usia matang untuk menggantikan sosok ayah yang tidak didapatkannya.

Atau malah sebaliknya, alih-alih mudah jatuh cinta, dia akan kesulitan percaya pada laki-laki, curiga, sulit untuk membangun hubungan dekat dan serius dengan laki-laki.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved