Kupi Beungoh
Pura-pura Syari’ah Bank Syari’ah?
Sebenarnya Bank Syariah di Aceh telah diberikan karpet merah oleh pemerintah melalui Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2018 Tentang Lembaga Keuangan Syariah.
Kedua objek kritik di atas sepertinya belum ada respon yang memadai. Kita pun tidak tahu, selain belum memadai, apakah berpikir untuk merespon saja sudah mereka lakukan atau belum?
Respons cepat perbankan syariah terhadap keluhan masyaratak di atas sangat penting dan mendesak.
Terutama untuk menjaga kehormatan diksi syariah yang telah disematkan pada bank syariah di Aceh dari olok-olok dan pembusukan.
Sebagai anekdot, lebih baik cepat menyelesaikan masalah yang ada, dari pada buru-buru membangun gedung baru dengan modus meningkatkan pelayanan.
Karena bagi masyarakat Aceh, dilayani di gubuk reot pun tidak masalah selama layanan bank syariah itu benar-benar syariah dan memuaskan.
Khusus keraguan sejumlah pihak apakah skema pembiayaan kredit yang dijalankan apakah sudah sesuai syariah diperlukan klarifikasi yang cepat.
Tanpa klarifikasi tuntas dari pihak bank syariah di Aceh, maka image bank syariah di Aceh semakin hari semakin luntur.
Jika persoalan keraguan skema kredit tersebut terus berlanjut, dan pihak bank syariah tidak mengklarifikasi, maka akan semakin banyak individu atau kelompok yang mengolok-ngolok syariah di Aceh.
Bila ini yang terjadi, lebih baik bank konvensional tetap ada di Aceh sebagai pembanding, selanjutnya tergantung masyarakat memilih mana sesuai kadar keimanan masing-masing.
Ketimbang kehadiran manoek agam saboh yang bernama bank syariah justru merusak image syariah.
MPU dan DPS
Pihak bank syariah di Aceh harus memaklumi sikap masyarakat yang terus mempertanyakan skema kredit yang dijalankan.
Bagi masyarakat Aceh yang penting itu bukan sekedar sebuah nama. Suatu hari mereka akan kecewa bahkan murka besar jika namanya syariah tapi aplikasinya tidak sepenuhnya syariah.
Dalam hal ini orang Aceh sependapat dengan kata-kata William Shakespeare dalam novelnya Romeo and Juliet:
"What's in a name? Apalah arti sebuah nama? Yang penting bagi orang Aceh adalah subtansi. Isi, bukan dekorasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/usamah-el-madny-3.jpg)