Salam
Belum Ada Titik Terang Bagi Nasib Rohingya
Dalam tiga hari terakhir ada 229 warga Rohingya yang mendarat di Aceh Utara dalam dua gelombang
Dalam tiga hari terakhir ada 229 warga Rohingya yang mendarat di Aceh Utara dalam dua gelombang.
Kedua rombongan ini mengaku kabur dari tempat pengungsian mereka di Bangladesh dan tanpa tahu tujuan.
Tapi, mengapa selalu terdampar ke Aceh? Sejak memanasnya konflik dengan pemerintah Myanmar mulai 2012, sudah beribu-ribu warga etnis Rohingya mendarat di Aceh.
Namun, kemudian sebagian besar mereka melarikan diri dari tempat penampungan sementara di Aceh.
Umumnya mereka kabur ke Sumatera Utara.
Sebagaimana dilaporkan harian ini edisi 16 dan 17 November 2022, ada dua kapal terbuat dari kayu berisi warga Rohingya terombang ambing di perairan Aceh Utara.
Kapal pertama berisi 110 warga Rohingya didaratkan di Pantai Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, pada Selasa (15/11/2022).
Lalu, kapal kedua berisi 119 warga Rohingya mendarat di Pantai Desa Bluka Teubai, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, pada Rabu (16/11/ 2022).
Kapolres Lhokseumawe, AKBP Hemki Ismanto, mengatakan, imigran tersebut untuk sementara ditampung di sebauh balai pengajian.
Warga setempat memberi mereka makanan, minumann serta kebutuhan lainnya.
Seorang Rohingya memgaku mereka sudah sebulan terombang ambing di laut tanpa tahu arah tujuan.
Jawaban seperti ini juga sudah sering diungkapkan oleh para Rohingya yang pernah mendarat di Aceh sebelumnya.
Baca juga: Lagi, 119 Warga Rohingya Mendarat di Aceh Utara
Baca juga: Kaum Lelaki Dibunuh dan Wanita Dirudapaksa, Rohingya Pilih Kabur hingga Terdampar di Aceh Utara
Pengungsi itu mengaku Pemerintah Myanmar sudah membunuh banyak etnis Rohingya.
“Banyak kaum pria dibunuh dan wanita diperkosa.
Sebenarnya, saya tidak tahu ke mana kami akan pergi, dan kami datang ke sini menggunakan perahu mesin seadanya,” jelasnya.
Lembaga HAM PBB sebelumnya melaporkan, lebih 300.000 warga muslim Rohingya membanjiri Bangladesh, menyelamatkan diri dari kekerasan di Myanmar.
Operasi kekerasan yang sering disebut sebagai pembasmian etnis Rohingya sudah mendapat banyak kecaman internasional.
ASEAN dan PBB ikut pula mengecam Myanmar yang dinilai membiarkan terjadinya upaya genosida terhadap etnis Rohingya ini.
Tokoh tokoh dunia juga tidak tinggal diam dan ikut mengecam tindakan ini.
Termasuk Presiden Joko Widodo yang menyatakan, sangat menyesalkan perlakuan terhadap etnis Rohingya.
Zeid Ra'ad al Hussein yang pernah memimpi
Baca juga: 110 Rohingya yang Terdampar di Muara Batu Dipindahkan ke Kantor Camat
n lembaga HAM PBB untuk kasus kekerasan terhadap Rohingya mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan 'operasi militer keji' itu.
Tapi, militer Myanmar beralasan, operasi itu sekadar tindakan balasan terhadap serangan serangan yang dilakukan para militan Rohingya.
Militer Myanmar mengatakan Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan (ARSA), pernah menyerang sejumlah pos polisi hingga menewaskan belasan petugas.
Setelah serangan ARSA itu, Zeid Ra'ad al Hussein Komisioner Tinggi PBB untuk HAM mengatakan bahwa operasi militer Myanmar yang terjadi di Rakhine sangat 'luar biasa berlebihan.
' Pasukan keamanan dan milisi setempat membakari desa desa Rohingya dan menembaki warga sipil.
Lalu para Rohingya yang tak diakui sebagai warga negara Myanmar lari ke Bangladesh.
Namun, di Bangladesh kaum Rohingya juga tidak diakui sebagai warga negara karena dianggap berasal dari Myanmar.
Makanya, hingga kini krisis Rohingya belum menemui titik terang.
Nah?!
Baca juga: Pengakuan Rohingya dari Bangladesh Refugee Camps Hingga Terdampar di Aceh Utara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sebanyak-119-warga-Rohingya-yang-terdampar-di-Des.jpg)