Breaking News:

Info Aceh Singkil

Lomba Lestarikan Budaya Singkil Ini Membuat Penonton Menangis

Lomba mengayun anak pada Perayaan Budaya ke-2 Tanjung Mas, di Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil, mendapat sambutan antusias

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Muhammad Hadi
dok Wanhar
Sinah, warga Ladang Bisik, Kota Baharu, Aceh Singkil, juara I lomba mengayun anak pada pesta budaya ke-2 Tanjung Mas, Sabtu (20/11/2022) 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Lomba mengayun anak pada Perayaan Budaya ke-2 Tanjung Mas, di Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil, mendapat sambutan antusias. 

Tradisi warisan leluhur Singkil, itu dalam bahasa lokal disebut menganggu anak

Sambil menggangun anak peserta melantukan syair menggunakan bahasa Singkil, berisi pesan, harapan, nasehat, serta doa.

Peserta yang ikut ada 17 orang berasal dari Aceh Singkil dan Subulussalam.

Saat peserta lantunkan syair, banyak penonton meneteskan air mata, terharu dengan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. 

Lomba ini bertujuan untuk melestarikan bahasa Singkil dengan kembali melestarikan tradisi menganggun anak. 

Baca juga: Agar Investasi Rp 375 Miliar Bermanfaat, Warga Tuntut Pemerintah Aceh Tuntaskan Jalan Trumon-Singkil

"Kami  berharap dengan tradisi menganggun anak ini, generasi muda bisa mengetahui tradisi nenek moyang dahulu, ini perlu digalakkan sebagai edukasi bagi generasi milenial" kata Wanhar Lingga Pendamping Kebudayaan, Minggu (20/11/2022).

Sementara itu, Kepala Kampung Tanjung Mas, Sabirin Malau menyatakan  lomba mengayun anak akan menjadi agenda rutin dalam pesta budaya. 

Tradisi mengayun anak merupakan salah satu kebiasaan lokal pada masyarakat suku Singkil.

Tradisi ini dulunya sangat mudah ditemukan di pemukiman penduduk daerah aliran sungai Cinendang dan Suraya.

Masyarakat menyebutnya sebagai menganggun (mengayun) anak, diwariskan turun temurun dengan cara meniru dan mengamati. 

Baca juga: 7 Dedaunan Ini Ampuh Dalam Menurunkan Asam Urat, Cukup Direbus Lalu Diminum, Apa Saja?

Saat menggangun anak disertai lantunan syair. Syair yang dilantunkan menggunakan bahasa Singkil, berisi pesan, harapan, nasehat, serta doa.

Akan tetapi, seiring perkembangan zaman tradisi menganggun anak pada masyarakat Singkil, menjadi jarang ditemukan. 

Pemenang lomba mengayun anak: 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved