Internasional
Pasukan Keamanan Iran Gunakan peluru Tajam dan Senjata Berat Tumpas Demonstrasi di Kurdi
Pasukan keamanan Iran menggunakan senjata berat untuk menekan demonstrasi daerah berpenduduk Kurdi di barat Iran.
SERAMBINEWS.COM, JEDDAH - Pasukan keamanan Iran menggunakan senjata berat untuk menekan demonstrasi daerah berpenduduk Kurdi di barat Iran.
Pasukan keamanan terus mengintensifkan tindakan keras yang telah menewaskan belasan orang selama 24 jam terakhir, kata kelompok hak asasi manusia.
Provinsi berpenduduk Kurdi di Iran barat dan barat laut telah menjadi pusat protes utama sejak dimulainya gerakan yang dipicu oleh kematian wanita muda Kurdi Mahsa Amini pada September 2022.
Dilansir AFP, Selasa (22/11/2022), ada demonstrasi anti-rezim yang sangat intens di beberapa kota dalam beberapa hari terakhir ini.
Sebagian besar dipicu oleh pemakaman orang-orang yang dikatakan telah dibunuh oleh pasukan keamanan dalam protes sebelumnya.
Kelompok hak asasi Hengaw yang berbasis di Norwegia mengatakan pasukan Iran telah menembaki demonstran di sejumlah kota.
Baca juga: Pasukan Keamanan Iran Berondong Mobil, Anak Laki-Laki Sembilan Tahun Tewas
Seperti di kota Piranshahr, Marivan dan Javanroud dengan bukti postingan video dengan dentuman senjata berat dan suara tembakan senjata.
Dikatakan 13 orang tewas di wilayah itu oleh pasukan keamanan selama 24 jam terakhir, termasuk tujuh di Javanroud, empat di Piranshahr dan dua lainnya di lokasi lain.
Di antara enam orang yang tewas akibat tembakan dari pasukan keamanan pada Minggu (20/11/2022), Karwan Ghader Shokri yang berusia 16 tahun.
Seorang pria lain tewas ketika pasukan keamanan menembaki kerumunan saat jenazah remaja itu dibawa ke masjid, tambahnya.
Kekerasan terbaru terjadi di tengah berlanjutnya kekhawatiran atas situasi di Mahabad.
Aktivis memperingatkan Iran berencana menggunakan hukuman mati sebagai sarana memadamkan gerakan protes dengan menyebarkan iklim ketakutan pada penduduk.
Baca juga: Pria Bersenjata Bersepeda Motor Tembak Mati Sembilan Demonstran di Iran
Amnesti mengatakan upaya pihak berwenang atas hukuman mati dirancang untuk mengintimidasi mereka yang berpartisipasi dalam pemberontakan rakyat.
Dengan tujuan mencegah orang lain bergabung dengan gerakan tersebut.
Strategi tersebut bertujuan menanamkan rasa takut di kalangan masyarakat.
Hegraq mengutuk eskalasi mengerikan dalam penggunaan hukuman mati sebagai alat represi politik dan pelanggaran sistematis terhadap hak peradilan yang adil di Iran.(*)