Breaking News:

Kisah Korban Gempa Cianjur; Pengungsi Tidur di Tenda Bareng Jenazah, Anak-anak Trauma

Rosidah mengatakan bahwa di tenda yang menjadi posko pengungsian tersebut sempat ditinggali 11 jenazah.

TRIBUN JABAR
Tim gabungan mengevakuasi jenazah yang tertimbun material longsor di Jalan Raya Puncak Cipanas Cianjur, Desa/Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11/2022). 

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Hingga saat ini proses evakuasi korban gempa bumi Cianjur, Jawa Barat masih terus dilakukan. Ratusan warga pun masih mengungsi di tenda pengungsian.

Data terakhir mencatat, 271 orang meninggal dunia dalam musibah gempa bumi di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat tersebut. Beragam kisah pilu yang dialami para korban gempa bumi juga bermunculan.

Salah satu kisah pilu terjadi di RT 4 RW 2 Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Para pengungsi ini terpaksa tidur bersama 11 jenazah korban gempa di tenda pengunggsian.

Mereka tak bisa berbuat banyak, sebab lokasi mereka yang terisolir karena akses jalan yang tertutup longsoran akibat gempa. Sehingga, mobil ambulans tak bisa membawa jenazah korban ke rumah sakit.

Hj Rosidah, salah seorang pengungsi menceritakan, ratusan rumah warga di desanya mengalami rusak parah akibat guncangan gempa. Bahkan, warga harus membangun tenda seadanya dari terpal sebagai lokasi pengungsian.

Ada dua tenda yang dibangun oleh warga dari terpal seadanya. Bahkan, salah satu terpal yang digunakan diambil dari bekas kegiatan kurban saat Idul Adha lalu.


Seiring berjalannya waktu, sejumlah jenazah mulai berhasil dievakuasi dari balik reruntuhan bangunan yang ambruk. Mereka pun terpaksa sebaris dengan 11 jenazah yang dibawa ke dalam tenda tersebut.

Baca juga: Mulai 1 Desember 2022, Wings Air Layani Penerbangan Tiap Hari dari Bandara Malikussaleh Aceh Utara

Baca juga: APBK Abdya 2023 Rp 957 Miliar Lebih Disahkan dalam Rapat Paripurna DPRK dan Pemkab, Ini Rinciannya

Rosidah mengatakan bahwa di tenda yang menjadi posko pengungsian tersebut sempat ditinggali 11 jenazah.

Ketika itu warga bingung mengurus jenazah yang meninggal dunia karena tertimbun bangunan roboh sehingga jenazah yang sudah dievakuasi ditaruh sementara di tenda pengungsian.

"Karena anak-anak trauma, akhirnya kami pisah jenazah ditaruh di ujung belakang sana sementara warga di depan sini," ucap Rosidah, Kamis (24/11).

Rosidah mengatakan ketika itu bantuan seperti mobil jenazah sulit masuk ke desa itu lantaran jalan utama tertutup material bangunan yang roboh. Kemudian pada Selasa (22/11/2022) pagi, warga memutuskan untuk menguburkan belasan jenazah tersebut.


Mereka memandikan jenazah seadanya lantaran air PAM dan listrik mati. Warga bahu membahu mengurus jenazah dengan memandikannya di sebuah parit yang terletak persis di belakang posko pengungsian.

Kata Rosidah, kondisi air parit tersebut bersih namun berwarna keruh. Parit tersebut biasa digunakan warga untuk mengairi sawah sekitar.


"Karena kalau tidak dikubur bagaimana, kasihan anak-anak trauma melihatnya. Menunggu bantuan tidak tahu kapan tiba," ucapnya.

Kata Rosidah, bantuan baru tiba pada Selasa sore. Saat itu jenazah sudah semuanya dikuburkan. Rosidah pun bersyukur bantuan akhirnya tiba di kampungnya pada Selasa (22/11).

Mayoritas bantuan tersebut kata Rosidah berasal dari relawan dan komunitas. Pada hari pertama gempa, warga hanya makan seadanya dari bahan pokok rumah warga yang tidak roboh.

"Semua makanan warga yang rumahnya selamat mulai dari mi instan, daging, beras dikeluarkan semua untuk saling bantu warga yang rumahnya roboh," ucap Rosidah.(Tribun Network/man/wly)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved