Sabtu, 11 April 2026

Internasional

Banjir Bandang Terjang Kongo, 120 Orang Tewas dan Rumah Ambruk di Kinhasa

Banjir bandang menerjang Republik Demokratik Kongo, menewaskan 120 orang dan sejumlah rumah ambruk diterjang longsor.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Hujan deras menyebabkan tanah longsor di pinggiran Kinhasa, Kongo, Rabu (14/12/2022). 

SERAMBINEWS.COM, KINHASA - Banjir bandang menerjang Republik Demokratik Kongo, menewaskan 120 orang dan sejumlah rumah ambruk diterjang longsor.

Jalan-jalan utama di pusat kota terendam banjir saat hujan lebat berlanjut selama berjam-jam dan beberapa rumah ambruk.

Banyak dari mereka yang meninggal berada di daerah lereng bukit yang mengalami tanah longsor.

Pemerintah telah mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari, seperti dilansir BBCNews, Rabu (14/12/2022).

Korban tewas, yang awalnya diperkirakan sedikitnya 55 orang melonjak menjadi lebih dari 120 pada Selasa (13/12/2022) malam.

Seluruh lingkungan dibanjiri air berlumpur, dan rumah serta jalan terkoyak oleh lubang runtuhan, termasuk jalan raya N1 yang menghubungkan ibu kota ke pelabuhan utama Matadi di negara itu.

Baca juga: Diguyur Hujan Deras Selama 2 Hari, Dua Desa di Kecamatan Blang Bintang Aceh Besar Terendam Banjir

Seorang wartawan AFP melihat mayat sembilan anggota satu keluarga yang tewas ketika rumah mereka runtuh.

"Kami belum pernah melihat banjir sebesar ini di sini," kata Blanchard Mvubu, yang tinggal di salah satu daerah yang terkena dampak terparah.

"Saya tertidur dan saya bisa merasakan air di dalam rumah," ujarnya.

"Ini bencana, kami kehilangan semua harta benda kami di rumah, tidak ada yang bisa diselamatkan," tambahnya.

Perdana Menteri Kongo, Jean-Michel Sama Lukonde memimpin delegasi pemerintah melalui beberapa bagian Kinshasa untuk menilai kerusakan.

Dia mengatakan para pejabat masih mencari lebih banyak mayat.

Baca juga: Diterjang Banjir, Jembatan Penghubung Antar Desa di Lamsie Nyaris Putus

Sebelumnya pada Selasa (13/12/2022), Presiden Republik Demokratik Kongo bergabung dengan Amerika Serikat dalam menyalahkan perubahan iklim atas banjir besar.

"DRC berada di bawah tekanan tetapi sayangnya tidak cukup didengar atau didukung," kata Presiden Félix Tshisekedi kepada Menteri Luar Negeri Antony Blinken saat bertemu di KTT AS-Afrika di Washington.

"Banjir itu menjadi contoh dari apa yang telah kami sesali selama beberapa tahun," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved