Ketahanan Pangan
Tahun 2023, Aceh Targetkan Produksi Gabah 1,7 juta Ton
Keempat komoditi kacang tanah seluas 2.376,69 hektare, dengan target produksi 2.915,55 ton, kelima komoditi kacang hijau, target tanam 555,97 hektare,
Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Herianto l Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Ir Cut Huzaimah MP menyatakan, pada tahun 2023 mendatang, target produksi gabah Aceh sekitar 1,7 juta ton, dari target tanam padi seluas 321.589,10 hektare dengan perkiraan luas panen sekitar 305.509,65 hektare.
“Target produksi gabah 1,7 juta ton itu, bisa dicapai, jika kondisi iklim tahun depan berjalan normal, perbaikan bendungan dan jaringan irigasi kewenngan pusat, provinsi dan daerah, yang sedang dikerjakan tahun ini bisa selesai,” kata Sekretaris Distanbun Aceh, Azanuddin Kurnia yang membaca paparan tertulis Kadistanbun Aceh, Cut Huzaimah, dalam Rakor BPS Aceh, di Hotel Kiryad, Kamis (15/12/2022) di Banda Aceh.
• Produksi Gabah Aceh 1,5 Juta Ton Pada Tahun 2022, Manfaatkan Jerami untuk Pupuk
Azanuddin Kurnia mengatakan, ada tujuh komoditi unggulan tanaman pangan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan tahun depan. Pertama padi, akan dikembangkan seluas 3221.589,10 hektare, dengan target produksi 1,7 juta ton.
Kedua komoditi jagung, target tanamnya 73.280,90 hektar dan target produksi 321.628,45 ton. Ketiga komoditi kedelai, target tanam 1.690,72 hektare dan target produksi 2.498,354 ton.
Keempat komoditi kacang tanah seluas 2.376,69 hektare, dengan target produksi 2.915,55 ton, kelima komoditi kacang hijau, target tanam 555,97 hektare, dengan target produksi 631,76 ton, keenam komoditi ubi kayu, dengan target tanam 3.418,07 hektar dan target produksi 46.906,90 ton, ketujuh komoditi ubi jalar, target tanam 408,25 hektar dan target produksi 4.540,05 ton.
Untuk pencapaian target luas tanam, luas panen dan produksi dari berbagai komoditi unggulan di atas, kata Cut Huzaimah, ada beberapa langkah strategis peningkatan produksi tanaman pangan yang akan dilakukan. Antara lain, Peningkatan Indek Pertanaman (IP). Misalnya melaksanakan tiga kali tanam padi dalam setahun, di sawah irigasi teknis, yang air irigasinya tersedia dengan cukup.
Kedua, melakukan perbaikan struktur tanah, melalui program Geupueaman, ketiga pengembangan kawasan, keempat perluasan areal tanam dan penggunaan bibit unggul, untuk peningkatan produktivitas gabah per hektarnya. Kecuali itu, masih ada beberapa program lainnya, yaitu pengembangan padi organik, budidaya padi kaya gizi, padi lahan kering dan lainnya.
Dalam lima tahun terakhir ini, hanya pada tahun 2022 ini, produksi gabah Aceh turun menjadi 1,5 juta ton. Pada tahun sebelumnya 2021 lalu, produksi gabah kita masih tinggi, mencapai 1,6 juta ton, tahun 2020 lebih tinggi lagi 1,7 juta ton, bahkan pada tahun 2019 lalu, produksi padi pernah mencapai 1,8 juta ton.
Kenapa produksi gabah kita tahun ini turun, menurut Azanuddin Kurnia, disebabkan beberapa faktor. Antara lain, banyak bendungan dan jaringan irigasi kewenangan pemerintah pusat, yang sedang dalam perbaikan. Sehingga luas sawah irigasi yang bisa ditanami padi menjadi berkurang.
Selain itu, pengaruh perubahan iklim yang sangat ektrem, pada musim tanam rendeng dan gadu tahun ini, membuat tanaman padi terendam air banjir pada musim penghujan dan kekeringan dan puso akibat musim kemarau. Selain itu, pengaruh berkurangnya alokasi pupuk subsidi, yang diikuti melambungnya harga pupuk non subsidi.
“Sehingga petani tidak mampu memenuhi kebutuhan pupuk berimbang tanaman padinya, untuk peningkatan produksi,” pungkas Azanuddin Kurnia.
Pada tahun ini, lanjut Sekretaris Distanbun Aceh itu, soal penyediaan pupuk subsidi, pusat tahun depan telah menambah kuota pupuk subsidi untuk jenis urea hampir 100 persen dari kuota tahun lalu dan pupuk subsidi jenis NPK, kuotanya ditambah diatas 120 persen lebih.
Jadi, dengan penambahan volume kuota pupuk subsidi tersebut, diharapkan, produktivitas tanaman padi di Aceh tahun depan bisa meningkat dari 5,6 ton per hektar naik menjadi 6,5 ton per hektar, atau lebih.
Sementara itu, Kepala BPS Aceh, Ahmad Riswan Nasution yang juga menjadi nara sumber dalam Rakor BPS tersebut menjelaskan tentang rencana pelaksanaan Sensus Pertanian di tahun 2023 mendatang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/jagung-97798.jpg)