Internasional
Serangan Turkiye Mendorong Ribuan Warga Kurdi Suriah Ingin Lari ke Eropa, Sampai Juga ke Jerman
Ribuan warga Kurdi di Suriah ingin melarikan diri ke Uni Eropa untuk menghindari serangan Turkiye yang semakin gencar.
Pada saat mereka mencapai kota Oran di Aljazair, Mesko merasa lega karena berlindung di sebuah apartemen yang dikelola oleh para penyelundup.
Sementara mereka menunggu selama berminggu-minggu, dia dan para migran lainnya menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan.
“Kami tidak bisa bergerak bebas di sekitar Oran, karena pasukan keamanan sudah ada di mana-mana dan kami tidak masuk ke negara itu secara legal,” kata Mesko.
“Ada juga geng di kota atau bahkan di pantai yang mencoba merampok migran dan mengambil uang mereka," tambahnya.
Kelompok hak asasi manusia menuduh pihak berwenang Aljazair menangkap para migran, dan dalam beberapa kasus mengusir mereka melintasi perbatasan darat.
Menurut badan pengungsi PBB, Aljazair mengusir lebih dari 13.000 migran ke negara tetangga Niger di selatannya pada paruh pertama tahun 2021.
Meski lega tiba dengan selamat di Jerman dengan kesempatan membawa istri dan anak perempuannya ke sana, Mesko merasa menyesal telah meninggalkan Kobani.
“Saya selalu menentang gagasan untuk bermigrasi atau bahkan mengungsi,” katanya.
“Setiap kali kami harus pindah ke daerah lain karena perang, kami akan kembali ke Kobani sebisa kami," ujarnya.
Mesko menghabiskan sebagian besar waktunya di wawancara suaka dan sidang pengadilan.
Tetapi, dia mengatakan kembali memiliki semangat yang baik mengetahui ada proses yang dia impikan beberapa bulan yang lalu.
Dia berharap segera diberikan status suaka, sehingga istri dan putrinya dapat bersatu kembali dengannya di Eropa.
“Suriah telah menjadi pusat perang, korupsi dan terorisme,” katanya.
"Kami hidup seperti ini selama 10 tahun, dan saya tidak ingin anak-anak saya mengalami pengalaman ini, dan melihat semua kekejaman itu," ujar pria itu.(*)