Breaking News
Jumat, 5 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Mengenang Sosok dan Jasa Pak Kalam Daud

Sifat itulah yang saya amati pada diri pribadi Drs Mohd Kalam Daud MAg, selama saya bersahabat dengannya lebih dari 20 tahun

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
TA. SAKTI, Pensiunan dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USK, melaporkan dari Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh 

OLEH TA. SAKTI, Pensiunan dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USK, melaporkan dari Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh

BERPENAMPILAN bersahaja, sederhana, dan tenang.

Sifat itulah yang saya amati pada diri pribadi Drs Mohd Kalam Daud MAg, selama saya bersahabat dengannya lebih dari 20 tahun.

Orang yang biasa disapa Pak Kalam ini lahir di Cot Paleue Masjid, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, pada 6 Juli 1957.

Semasa hidupnya, dia Staf Pengajar UIN Ar-Raniry yang pada akhir Desember ini akan pensiun.

Namun, pada 12 Desember 2022/18 Jumadil Awal 1444 H pukul 09.15 WIB beliau berpulang ke rahmatullah.

Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Awal pertama saya mengenal nama beliau dalam rubrik Surat Pembaca Harian Serambi Indonesia tahun ’90-an.

Saat itu Pak Kalam menanggapi surat pembaca mengenai bahasa Aceh.

Saat membaca tulisan itu saya berpikir bahwa orang ini sudah tua, tapi cukup ahli bahasa Aceh.

Karena itu, saya mesti mencari tempat tinggalnya, yakni di Kampung Keuramat, Banda Aceh.

Begitulah, saya segera berangkat mencari alamat itu.

Baca juga: Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh

Baca juga: USK dan Yayasan Malem Putra Gelar Pelatihan Bahasa Inggris untuk Lulusan Sarjana di Aceh

Teman-teman tetangga kos mengatakan bahwa Pak Kalam sudah pindah ke Darussalam tanpa diketahui alamat yang jelas.

Pencarian pertama berhenti di situ, tetapi upaya itu masih tetap saya teruskan pada kesempatan lain.

Setiap kali membaca pernak-pernik bahasa Aceh, langsung saya teringat nama Pak Kalam.

Segera saya berangkat mencari alamatnya lagi.

Barulah setelah delapan tahun waktu berlalu saya benar-benar menjumpai Pak Kalam Daud di Lorong Banna, Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh.

Setelah tsunami Aceh 2004 beliau pindah ke rumah sendiri di Lorong Zakaria Yunus.

Saat pertama kami berjumpa, Pak Kalam sedang di hadapan komputer mencatat sesuatu.

Kemudian saat berkali- kali saya berkunjung ke kediamannya, dia selalu berada di teras rumah bersama laptop.

Ketika itulah saya berkesimpulan bahwa beliau orang yang rajin dan serius.

Namun, anggapan saya bahwa dia sudah lanjut usia teryata tidak benar.

Dia bahkan 3-4 tahun lebih muda dari saya.

Latihan bersabar Suatu ketika seorang mahasiswa menjumpai naskah lama (manuskrip) pada saat pembongkaran rumah tua di Kampung Tijue, Sigli, Pidie.

Semula manuskrip itu dibawa kepada seorang dosen IAIN Ar-Raniry.

Baca juga: Balai Bahasa Provinsi Aceh Luncurkan Kamus Budaya Aceh-Indonesia Berisi 1.800 Lema dan Sublema

Namun, beliau menyuruh mahasiswa membawanya lagi kepada saya.

Setelah saya periksa, dalam buku tebal itu terdapat beberapa judul karangan.

Saya tertarik kepada dua judul manuskrip dalam buku itu.

Pertama, karya Syekh Abdurrauf tentang zikir dan tarekat, yang pada tahun 1976 sudah pernah saya transliterasi ke huruf Latin.

Kedua, naskah yang berjudul “Qawa’idul Islam” yang oleh orang Aceh dinamakan “Kitab Bakeumeunan”, karena di dalamnya banyak dijumpai kata “bakeumeunan” (biarkan dulu).

Ada tiga hal menarik dalam kitab Qawa’idul Islam.

Ia tertulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, Melayu, dan bahasa Aceh dalam jenis prosa.

Prof Ali Hasjmy berpendapat bahwa hampir semua bahasa Aceh tempo dulu tertulis dalam bentuk syair atau sanjak dan nyaris tidak ada dalam bentuk prosa.

Ternyata dalam Qawa’idul Islam saya jumpai bahasa Aceh dalam bentuk prosa.

Keunikan itulah yang mendorong saya berguru kepada Pak Kalam.

Hal ini disebabkan keterbatasan saya dalam memahami bahasa Arab.

Kebetulan kala itu Pak Kalam sedang disibukkan dengan menulis tesisnya di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry.

Setiap saya mampir ke rumahnya, selalu saya jumpai beliau sedang sibuk.

Walaupun demikian, saya tetap berkunjung ketika ada waktu luang.

Baca juga: Polres Kembali Aktifkan TAPS, Gunakan Bahasa Aceh

Di kala itu belum ada alat komunikasi yang canggih seperti sekarang semisal telepon seluler.

Oleh karena itu, setiap ke rumah Pak Kalam, saya selalu menyewa RBT/ojek.

Setelah dua tahun lamanya saya menunggu, barulah Pak Kalam dapat menyelesaikan tesisnya dan mulai ada kesempatannya membantu saya.

Seandainya saya tidak bersabar dalam menunggu dua tahun itu, tentu putuslah “jaringan” saya dengan Drs Mohd Kalam Daud MAg.

Hobi membaca Setahu saya, autobiografi pertama dalam bentuk syair bahasa Aceh ditulis oleh Pak Kalam.

Judulnya “Meudiyeueng Meulinteueng Meuampeueng Hudep”(Lintasan Hidup).

Autobiografi ini menjadi saksi bisu bahwa dia benar-benar punya hobi membaca.

Karena suka membaca, hampir setiap hari dia pergi ke berbagai perpustakaan di Banda Aceh.

Namun, di antara pustaka yang sering dikunjunginya adalah pustaka milik IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry).

Akibat seringnya mendatangi pustaka, dia menjadi akrab dengan semua pegawai pustaka baik laki-laki maupun perempuan.

Lamakelamaan hatinya tertambat pada seorang putri petugas pustaka yang bernama Mardhiati.

Persahabatan itu membawa mereka ke kursi pelaminan.

Hasil perkawinannya dikaruniai tiga orang putra-putri.

Anak pertama laki-laki bernama Junian Hijry Minarva (Juni), lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Syiah Kuala (USK).

Baca juga: Kumpulan Ucapan Terima Kasih untuk Hari Guru dari Orang Tua Murid, Ada Bahasa Indonesia dan Inggris

Anak kedua bernama Ulfi Julia Miltiza (Ulfi), alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry, sekarang melanjutkan pascasarjana di Universitas Syiah Kuala ( USK).

Putra ketiga Junivan Fajry Azkya (Ipan), sedang menempuh pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas Terpadu di Aceh Besar.

Lantaran mempunyai hobi yang sama, yaitu suka membaca, maka kami saling meminjamkan buku.

Banyak buku saya pinjamkan kepada beliau, terutama yang berkaitan dengan sejarah dan budaya.

Buku terakhir yang saya pinjamkan adalah biografi Tgk Haji Hasan Krueng Kale.

Akibat lupa, suatu sore saya menelepon Pak Kalam menanyakan apakah buku itu masih dipinjamnya.

Ketika saya bertanya “apakah sudah dibaca?” Beliau dengan lancar menjawab menguraikan isi buku tersebut.

Ini pertanda daya ingat beliau cukup kuat.

Sampai saat ini buku biografi Tgk Haji Hasan Krueng Kale masih berada di rumah beliau.

Dalam hal pinjam-meminjam buku, lebih sering saya antarkan buku langsung ke rumahnya dengan ojek.

Warisan Pak Kalam Warisan Pak Kalam bukan berupa harta benda, melainkan berjenis ilmu yang disuguhkan kepada masyarakat, baik anak-anak, mahasiswa, dan orang dewasa.

Mengajar atau mengasuh pelajaran termasuk warisan utama Pak Kalam.

Beliau belum merasa cukup dengan memberi kuliah di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, yang sebenarnya merupakan tugas berat.

Buktinya, pada sore hari ia mengajar di Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) pada Musala Al-Muhajirin dekat Pasar Lamnyong.

Pada kondisi tertentu, pengajian itu kadang berlangsung di rumahnya pada malam hari.

Tugas mulia itu telah digelutinya selama bertahun-tahun.

Di Musala Al-Muhajirin, selain ada pengajian anakanak setiap sore, juga berlangsung pengajian orang dewasa pada mlam tertentu.

Sejak beberapa waktu terdapat pengajian bakda subuh yang diikuti banyak orang Selain menebar ilmu, Pak Kalam juga meninggalkan warisan berupa karya tulis.

Topik tulisannya cukup banyak.

Hanya karena karakter beliau yang zuhud sehingga tidak “mempromosikan diri”, maka terkesan beliau tak memiliki karya apa-apa.

Lantaran terbatasnya kolom, karya Pak Kalam tidak saya deretkan di sini.

Selamat jalan sahabatku, semoga Allah Swt menerima Anda dengan penuh kasih sayang, Amin.(*)

Baca juga: Pj Gubernur Bahas Literasi hingga Bahasa Bersama Kadisdik Se-Aceh

Baca juga: Guru Besar USK Minta Pemerintah Perkuat Penggunaan Bahasa Daerah: Masukan Dalam Kurikulum Pendidikan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved