Minggu, 14 Juni 2026

Kupi Beungoh

Guru Jadi Versus Jadi Guru

Kenapa bisa seorang Gie menulis seperti itu? Barangkali guru adalah salah satu sosok yang menyebabkan kekecewaan seorang mantan siswa seperti Gie.

Tayang:
Editor: Amirullah
FOR SERAMBINEWS.COM
FERI IRAWAN, S.Si., M.Pd, Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb dan Ketua Daerah Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bireuen, melaporkan dari Kota Juang 

Oleh Feri Irawan SSi MPd

TULISAN ini saya awali dari salah satu tulisan Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa di era 60-an, yang saat itu masih berumur 14-15 tahun, terkenal dengan sikap idealisnya yang kritis.

Dalam catatan seorang demonstran, akibat kekecewaan yang teramat dalam kepada gurunya, Gie menuliskan “guru yang tidak tahan kritik, boleh masuk keranjang sampah.

Guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau”.

Kenapa bisa seorang Gie menulis seperti itu? Barangkali guru adalah salah satu sosok yang menyebabkan kekecewaan seorang mantan siswa seperti Gie.

Pasti setiap kita punya kenangan dan pengalaman yang berbeda-beda dengan guru. Ada baiknya tulisan Gie ini menjadi perenungan bagi guru jika tidak ingin meninggalkan kesan tidak baik diingatan para siswanya.

Pertanyaannya, apakah setiap yang mengajar dikatakan guru?

Apakah para volunteer disektor pendidikan, atasan di tempat kerja, atau rohaniawan juga merupakan guru?

Banyak orang bisa mengajar, tapi tak banyak orang bisa menjadi guru. Seorang dokter, insinyur, pengacara, akuntan, pasti bisa mengajarkan ilmu yang dimilikinya.

Baca juga: Jika PNS Meninggal Sebelum Pensiun, Ini Tunjangan yang Didapat Ahli Warisnya

Namun, seorang guru tidak hanya dituntut mengajar, tapi juga mendidik bagi semua siswanya.

Menjadi seorang guru bukanlah profesi yang mudah.

Tugas guru tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuannya saja, akan tetapi lebih dari itu bagaimana dapat mengembangkan karakter terbaik siswa dan memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna serta memastikan seluruh siswa dapat menerapkan ilmunya di keseharian.

Dalam mengembangkan karakter pastinya seorang guru juga harus menjadi teladan karakter yang terbaik juga untuk siswa.

Berdasarkan UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, menyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Ini berarti seorang guru harus mampu memahami peserta didiknya, memiliki kecakapan akademik dibidangnya, haruslah seorang sosialis yang mampu menjalin hubungan baik dengan civitas akademika dan masyarakat secara umum, dan memiliki akhlak yang baik sehingga menjadi teladan bagi semua orang.

Selanjutnya, mengutip perkataan Ali bin Abi Tholib, yaitu “didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu jaman yang bukan jamanmu, sebab mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan jamanmu”, mempertegas bahwa jadilah guru dan jangan jadi guru pun jadilah.

Baca juga: Deretan Bisnis Indra Bekti, Artis yang Lagi Terbaring di Rumah Sakit hingga Istri Galang Dana

Menjadi guru harus dilandasi rasa ikhlas dan sungguh-sungguh, sehingga segala aktifitas yang dilakukan berkaitan dengan tugasnya sebagai guru akan berbuah amal.

Dengan segala hal yang membebani guru dalam menjalankan tugasnya, maka timbul pertanyaan bagaimana menjadi “Guru Jadi” yang bukan sekadar “Jadi Guru”?.

Menurut penulis, Guru Jadi itu bukan karena menjadi guru sebagai pilihan tapi sebagai kewajiban. Guru Jadi berarti juga guru yang mampu membawa siswa generasi milenial antusias terhadap pembelajaran, dan mampu beradaptasi dengan jaman.

Guru Jadi menyadari bahwa perannya sangat dibutuhkan dan menuntut mereka untuk selalu belajar.

Seorang guru dituntut sempurna, walaupun tak ada yang sempurna di dunia ini.

Namun cara mengajar dalam kelas, pergaulannya dengan masyarakat, keadaan keluarganya, bahkan cara berpakaiannya pun akan menjadi perhatian semua orang.

Garansi Guru Jadi tentunya bisa mengarahkan anak didik menjadi generasi yang mampu bersaing dan memiliki moral yang baik, dan menjadi teladan bagi siswa.

Baca juga: Gading Marten, Jadi Aktor, Presenter hingga Pernah Rilis Album, Ini Rincian Bisnisnya

Oleh karena itu, Guru Jadi akan selalu berkomitmen dalam menjalankan profesinya sebagai sebuah kewajiban dan panggilan hati nurani.

Bukan sebaliknya, dimana siswa tak menginginkan kehadiran sang guru untuk hadir bersama mereka dalam belajar, atau mungkin siswa menutup pintu kelas agar sang guru tak dapat masuk ke ruang kelas.

Belum lagi alasan-alasan klasik di balik guru yang malas masuk kelas.

Rendahnya komitmen guru, rendahnya penguasaan materi pelajaran, tidak menguasai metode mengajar, sampai minimnya variasi mengajar yang mengakibatkan siswa cepat bosan.

Ditambah lagi faktor keluarga anak si guru yang sakit secara tiba-tiba, orangtuanya sakit, sementara alasan tidak ada yang mengurusinya.

Ada juga guru yang fokus ke bisnis usahanya, sementara tugas utamanya mengajar hanya dijadikan pekerjaan sampingan.

Atau barangkali menjadi guru karena profesi terdesak, akibat tidak ada lagi pekerjaan yang lain.

Ini dapat dipastikan mereka yang memang seperti itu tidak berniat dari hati yang paling dalam untuk menjadi guru. Inilah yang dinamakan “jadi guru” bukan “Guru Jadi”.

Guru yang menjadikan profesinya sebagai pilihan karena tidak ada pilihan lain, sehingga dalam prosesnya akan mengalami banyak ujian yang membuat semangatnya berkurang di tengah jalan.

Yakinlah bahwa setiap guru memiliki potensi diri dalam menjalankan tugasnya sebagai agen pembelajaran. Hal yang paling utama adalah bagaimana guru memahami kesalahannya dalam mengajar dan mau memperbaikinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi anak didik.

Ciri “Guru Jadi “

Menurut penulis, ada empat ciri “Guru Jadi “yang sesuai dengan kondisi jaman now. Pertama, guru yang melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada siswa.

Untuk mengetahui aspek kekuatan dan kelemahan siswa, guru mau melakukan refleksi pembelajaran secara mandiri dan berkala, serta mencoba berbagai strategi pembelajaran yang bervariasi berdasarkan kompetensi awal siswa agar semua siswa terlibat aktif.

Kedua, guru yang mau menerima umpan balik dari rekan sejawat dan siswa. Untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pembelajaran guru mau menerima umpan balik dan mengidentifikasi praktik baik dari rekan guru lain untuk memperbaiki interaksi yang berorientasi pada siswa.

Demikian juga dalam mewujudkan kenyamanan dan keamanan kelas, guru mengajak siswa berefleksi dan membahas perilaku pelanggaran yang mengacu pada kesepakatan kelas yang dibuat bersama siswa.

Ketiga, guru mau meningkatkan ketrampilan dan kemampuan baru.

Guru melakukan inisiatif mandiri untuk mengembankan kompetensi dirinya yang sesuai persoalan pembelajaran di kelas dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan tuntutan profesionalitasnya.

Keempat, guru menjadi mitra siswa, rekan sejawat, orang tua dan masyarakat sekitar. Seorang Guru Jadi mampu menjadi mitra bagi siswa disaat kegiatan belajar sehingga terciptanya suasana yang akrab.

Mau mengajak siswa berdiskusi tentang materi pembelajaran yang berpedoman kepada RPP dan menyertakan siswa dalam kegiatan penilaian, sehingga siswa benar-benar merasa dihargai dan diperlukan dalam tahapan kegiatan.

Selanjutnya, melakukan interaksi dengan semua rekan guru di dalam dan diluar sekolah.

Saling memotivasi, saling menghormati, dan salin membimbing sesama rekan sejawat.

Demikian juga dengan orang tua dan mayarakat sekitar, secara rutin terus berinteraksi dengan menggali kebutuhan dan membuat kesepakatan, dan peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama berperan aktif dalam meningkatkan proses pembelajaran.

Demikianlah sedikit pandangan tentang guru jadi dan jadi guru. Jika Anda seorang guru, apakah anda guru jadi? atau sekedar jadi guru. Jawabannya ada di Anda! (ferifodic78@gmail.com)

 

PENULIS adalah Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb Kabupaten Bireuen

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved