Pojok Humam Hamid
Zaini Abdullah: Seorang Dokter yang Menyeberangi Sejarah
Selamat jalan, Abu Doto. Engkau telah menyeberangi konflik, menyeberangi pengasingan, menyeberangi perdamaian, dan menyeberangi sejarah.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Pada Sabtu, 13 Juni 2026, pukul 12.42 WIB, Aceh kehilangan salah satu tokoh yang paling menandai perjalanan sejarahnya dalam setengah abad terakhir.
Dr. H. Zaini Abdullah berpulang pada usia 86 tahun, meninggalkan sebuah jejak yang tidak mudah diringkas hanya dengan menyebut jabatan terakhir yang pernah diembannya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Baca juga: Breaking News - Mantan Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah Meninggal Dunia di RSUDZA
Meninggalnya seorang mantan gubernur selalu mengundang kenangan. Tetapi kepergian Zaini Abdullah menghadirkan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar kenangan tentang pemerintahan.
Bersamanya, seakan berakhir pula sebuah generasi yang mengalami secara langsung pergulatan Aceh dari masa konflik menuju masa perdamaian.
Ia bukan tokoh yang lahir dari ruang politik yang tenang. Ia bukan pula produk dari birokrasi yang bertumbuh secara biasa.
Kehidupan Zaini Abdullah dibentuk oleh arus besar sejarah yang membawa Aceh melalui masa-masa paling sulit dalam perjalanan modernnya.
Pada mulanya ia adalah seorang dokter. Sebuah profesi yang didedikasikan untuk merawat kehidupan, mengurangi penderitaan, dan memulihkan harapan.
Baca juga: VIDEO - Kabar Duka dari Aceh, Mantan Gubernur Dr. Zaini Abdullah Tutup Usia
Namun sejarah memiliki caranya sendiri untuk memanggil manusia keluar dari jalan yang semula mereka pilih.
Seperti banyak tokoh lain dalam sejarah dunia, Zaini Abdullah akhirnya memasuki gelanggang politik yang jauh lebih keras dan lebih rumit daripada dunia kedokteran.
Dalam perjalanan itu, ia menjadi bagian dari Gerakan Aceh Merdeka dan kemudian dikenal sebagai salah satu figur penting dalam diplomasi gerakan tersebut di luar negeri.
Bertahun-tahun hidup dalam pengasingan membuatnya mengenal dua kenyataan sekaligus: kerinduan kepada tanah air dan kesadaran bahwa konflik yang berkepanjangan selalu menuntut harga yang mahal.
Pejuang, Pemberontak, Gubernur
Banyak orang mengenangnya dari posisi yang berbeda-beda. Ada yang melihatnya sebagai pejuang. Ada yang mengingatnya sebagai tokoh pemberontakan.
Ada pula yang mengenalnya terutama sebagai gubernur. Semua penilaian itu adalah bagian dari sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya.
Baca juga: Besok, Jokowi ke Rumoh Geudong, Ini Permintaan Zaini Abdullah soal Penyelesaian Pelanggaran HAM Aceh
pojok humam hamid
Humam Hamid
Prof Humam Hamid
zaini abdullah
Gubernur Aceh
meninggal
meninggal dunia
GAM
Meaningful
| Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela? |
|
|---|
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-dan-Abu-Doto.jpg)