Sabtu, 25 April 2026

Berita Kutaraja

Memilukan! Dua Gadis Aceh Dipaksa Layani 20 Pria Semalam, Jadi Korban Human Trafficking di Malaysia

Namun, setelah tiba di Malaysia, dokumen mereka ditahan oleh agen (mucikari), dan kedua gadis muda itu lantas dijual ke rumah bordil.

Penulis: Indra Wijaya | Editor: Saifullah
For Serambinews.com
Ketua DPRK Aceh Besar, Iskandar Ali didampingi Abdul Mucthi, anggota DPRK Aceh Besar dari Fraksi PAN, berbincang dengan dua gadis asal Pidie dan Aceh Tamiang yang menjadi korban human traficking di Malaysia, Selasa (10/1/2023). 

Laporan Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dua gadis Aceh yang berasal dari Pidie berumur 19 tahun dan Aceh Tamiang berumur 24 tahun, menjadi korban human trafficking atau perdagangan manusia oleh oknum di Malaysia.

Keduanya berangkat ke Malaysia karena dijanjikan pekerjaan dengan gaji menggiurkan oleh pelaku yang merupakan warga Pidie.

Namun, setelah tiba di Malaysia, dokumen mereka ditahan oleh agen (mucikari), dan kedua gadis muda itu lantas dijual ke rumah bordil.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Iskandar Ali mengatakan, keberadaan dua gadis Aceh yang menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia) diketahui saat dirinya sedang berkunjung ke Malaysia, beberapa hari lalu.

Tujuan ke Malaysia bersama dengan Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRK Aceh Besar, Dr Yusran, MA dan sejumlah anggota yakni Abdul Mucthi, AMd, Muhsinir Marzuki, SSos, MSi, dan Rahmat Aulia, SPdI adalah untuk menjemput warqa Aceh yang mengalami stroke sudah berbulan-bulan di negeri jiran.

"Jadi kita bertemu dengan mereka (korban human trafficking), dan mereka mengaku dijual ke tempat prostitusi atau dunia malam oleh warga Aceh sendiri," kata Iskandar kepada Serambinews.com, Kamis (12/1/2023).

Baca juga: Ketua DPRK Pidie Kunjungi Keluarga Korban “Human Trafficking” di Ulee Birah Kecamatan Indrajaya

Kondisi itu, menurut Iskandar, sangatlah miris karena warga Aceh jadi ‘budak seks’ di negeri orang.

Ia berharap unsur stakeholder di Aceh untuk turut serta menjaga agar anak Aceh tidak menjadi korban perdagangan manusia, baik itu dipekerjakan di sektor formal maupun informal.

“Terlebih, kebanyakan korban human trafficking di Malaysia itu dijual justru oleh orang Aceh sendiri,” tukasnya.

“Mereka bekerja sama dengan agen-agen di luar Aceh, seperti Medan dan sebagainya,” urai dia.

"Jadi jangan cepat-cepat menerima jika ada tawaran mengadu nasib di luar negeri," imbau Iskandar Ali.

Iskandar mengaku sempat melakukan wawancara langsung dengan kedua gadis korban human trafficking yang ia temui di Malaysia.

Baca juga: VIDEO - Warga Pidie Nyaris Jadi Korban Human Trafficking di Malaysia

Mereka mengaku, telah ditipu oleh orang yang menawarkan pekerjaan.

“Mereka semula dijanjikan untuk bekerja di sektor formal dan diimingi gaji yang tinggi,” terangnya. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved